Kamis, 11 Juni 2020

Resume belajar menulis bersama guru Agung

Resume Belajar Menulis (Rabu, 10 Juni 2020) Lely Andayati (Gelombang 6) Saya sangat bangga terhadap guru-guru muda dan hebat yang ihklas mengabdikan dirinya di pelosok kampung, di hutan, di gunung bahkan di kepulauan. Bisa dibayangkan betapa berat perjuangan mereka yang terpisah jauh dari keluarga. Di tengah keterbatasan kondisi geografis dan budaya, guru-guru muda ini mampu beraktifitas menulis dan berkarya. Keterbatasan fasilitas listrik, jaringan internet hingga ATK dan bahan pembelajaran tak membuat semangat mereka surut. Guru-guru ini telah membuktikan bahwa cinta membuat segalanya jadi mungkin. Bahkan ada seorang guru muda yang meninggal dalam tugas di penempatan. Akhirnya nama beliau diabadikan menjadi nama sebuah penghargaan bagi guru-guru terbaik SGI (Sekolah Guru Indonesia) “Jamilah Sampara Award”. Terima kasih kepada guru Agung Pardini atas ilmu dan inspirasinya. Kecintaan Guru Agung Pardini terhadap kisah-kisah kepahlawan mengantarkannya menjadi guru sejarah dan IPS sejak tahun 2001. Saat pertama kali mengajar, guru yang bernama asli Agung Pardini ini masih menempuh S1 Pendidikan Sejarah dengan tambahan program minor Antropologi di Universitas Negeri Jakarta (UNJ). Dalam waktu delapan tahun (2001-2008), setidaknya pernah mendapat kesempatan mengajar pada belasan institusi yang berbeda, mulai dari sekolah formal (SMP dan SMA), Bimbingan Belajar, Program Pengayaan Ujian, hingga Pembelajaran Paket Non-Formal atau PKBM. Sejak tahun 2008 hingga sekarang ini, Guru Agung aktif di lembaga kemanusiaan Dompet Dhuafa untuk menjalankan amanah pengelolaan dana zakat, infaq, dan shodaqoh agar disalurkan menjadi program-program pemberdayaan di bidang pendidikan bagi kemajuan ummat. Mula-mula ia bertugas sebagai trainer pendidikan untuk melatih ribuan guru yang mengabdi di sekolah-sekolah marjinal di berbagai wilayah Indonesia. Selain melatih para guru, bersama rekan-rekan satu timnya di Dompet Dhuafa, Guru Agung di beri beragam amanah untuk merancang dan mengelola program-program inovatif di bidang pendidikan yang berhasil menjangkau hingga 34 provinsi. Program-program tersebut antara lain: 1. Pendampingan Sekolah dan Pengembangan Guru di Kecamatan Ciracap, Kabupaten Sukabumi (Donatur: JICA), 2008-2010 2. Pendampingan Sekolah Berdaya di Sumatera Barat Pasca Gempa Bumi besar, 2010-2012 3. Pelatihan Guru Cerdas Literasi (Donatur: Hypermart), 2010 4. Pelatihan Guru Cerdas Literasi (Donatur: Majelis Taklim Telkomsel), 2009 5. Pengembangan Sekolah Cerdas Literasi (Donatur: Trakindo), 2010-2013 6. Pendampingan SMK Unggulan Bidang Alat Berat (Donatur: Trakindo), 2013 7. Pendampingan Sekolah-Sekolah di Perbatasan Indonesia: 2012-2013 8. Pengiriman Guru-Guru SGI (Sekolah Guru Indonesia) ke berbagai wilayah pelosok atau 3T, 2014-2015 9. Membentuk School of Master Teacher di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Jawa, dan NTB, 2014-2020 10.Mengembangkan alat ukur performa Sekolah yang disebut MPC, 2012-2013 11.Mengadakan diklat kepala sekolah: Milenial Leader, 2019 12.Membangun kerjasama penyelenggaraan kelas Magister Manajemen Pendidikan Islam bersama UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2016-2018 13.Mengembangkan model Sepuluh Kepemimpian Guru Indonesia dan Gerakan Transformasi Kelas Ajar, 2018-2020 hingga 30 provinsi Hingga saat ini masih bekerja MENULIS ARTIKEL 1. Sekolah Berbasis Masyarakat Jurnal Bogor, 17 Oktober 2009 Opini 2. Mengajar Siswa Gemar Membaca Radar Bogor, 8 Maret 2010 Opini 3. Pendidikan dalam Alienasi Birokrasi Koran Tempo, 16 Mei 2013 Opini - Advertorial 4. Transformasi Kelas Ajar, Opini Republika, Januari 2020 MENULIS BUKU 1. Menabung Gula untuk Pendidikan (Saving Palm Sugars for The Education) MM–JICA, 2010 Bersama tim Masyarakat Mandiri 2. Penyulut Jiwa di Kampung Hatta Makmal DD, 2012 Bersama Surya Hanafi, dkk 3. Bangunlah Jiwanya, Bangunlah Raganya Makmal DD, 2012 Bersama Purwo Udiutomo 4 Sekolah Ramah Hijau Makmal DD, 2013 Bersama Zayd Sayfullah, dkk 5 Besar Janji daripada Bukti Makmal DD, 2013 Bersama tim 6 Bagaimana ini Bagaimana itu Makmal DD, 2014 Bersama tim Makmal PEMBICARA/NARASUMBER (Non-Training) 1. Konferensi Nasional Sejarah VIII, dengan membawakan makalah yang berjudul “Media Islam Revivalis” Jakarta, 2006 800 orang Kembudpar dan MSI 2. Seminar Pendidikan : Gelipa untuk Pendidikan Sukabumi, 2 Februari 2010 100 orang MM – JICA 3. Lokakarya Daerah Gerakan Rakyat KAMMI Bogor Bogor, Maret 2010, 30 orang KAMMI IPB 4. Seminar: Menjadi Remaja Muslim Trendsetter Sentul, 22 Agustus 2010 150 orang 5. Talkshow: Seni dalam Sejarah Islam Bogor, Agustus 2012 200 orang (siswa) Sekolah Bosowa Bina Insani Bogor 6. Simposium Pendidikan Nasional Depok, 30 Oktober 2013 200 orang Makmal Pendidikan DD 7. Seminar Pendidikan dan Museum Jakarta, November 2015 150 orang Museum se-DKI Jakarta 8. Studium General School Master Teacher Makassar, Mataram, Padang, dan Medan, 2015 Sekolah Guru Indonesia DD 9. SeminarNasional Ikatan Mahasiswa Kependidikan Seluruh Indonesia Semarang, 2016 500 orang IMAKIPSI 10.Seminar Pendidikan Ikatan Mahasiswa Kependidikan Seluruh Indonesia Tingkat Sumatera Palembang, 2016 300 orang IMAKIPSI 11.Seminar Nasional Pendidikan Klaten, 2016 200 orang Universitas Widya Klaten 12.Seminar dan Workshop Keguruan Bogor, 2017 200 orang UIKA Bogor 13.Social Leader Training Tingkat Nasional Bogor 2018 100 orang Sekolah Kepemimpinan bangsa 14.Future Leader Camp 2019 15.Young Leader Camp 2019 di Bandung, Bogor, dan Lubuk Linggau 16.Young Leader Regional Camp di Solo 2019 17.Muktamar Young Leader di Semarang 2020 18.Sociopreneur Camp 2019 di Yogya 19.Studium Generale Sekolah Pasca Sarjana UNY, 2020 20.Studium Generale UNNES 2020 21.Studium Generale PGSD UNNES Tegal 2020 22.Seminar Pendidikan di UNPAS Bandung, 2020 PEMATERI PELATIHAN GURU (Public Training) 1. Publik Training (Hari Guru), Tema: Kondisi Guru Indonesia Bogor, 25 November 2008 2. Publik Training (Hari Guru), Tema: Guru Bergerak Depok, 25 November 2009 3. Publik Training (Hari Guru), Tema: Pembelajaran Efektif Jakarta, 25 November 2012 4. Publik Training (One Trainer Interactive Show), Tema: Inspirasi Guru untuk Bangsa Aula Kantor Gubernur NTB, 1 Agustus 2010 5. Publik Training dalam rangka Launching buku “Besar Janji daripada Bukti”, Tema: Guru Kreatif Maros dan Garut, November – Desember 2013 6. Publik Training, Guru Kreatif di Serang Banten, 2014 7. Publik Training, Guru Kreatif di Lhokseuwe Aceh, 2014 8. Pelatihan Guru Pertamina di Cirebon, 2019 9. Indonesia Teacher Leader Camp 2020 di Sulawesi Selatan Guru Agung Pardini sangat percaya bahwa menulis buat para guru adalah lompatan dan percepatan peningkatan kapasitas, kompetensi, dan rasa percaya diri. Menurut Guru Agung Pardini menulis ini melatih ketajaman pikiran dan memperhalus budi pekerti. Maka menulislah, maka engkau "ada". Cobalah menulis dengan apa yang sering kita pikirkan, kita lakukan, dan yang sering kita katakan. Buat mencari ide, butuh teman diskusi, butuh temen nongkrong setia, butuh komunitas. Merangkai kata dalam bentuk tulisan bukan pekerjaan mudah maka kita mesti bersabar. Kalau mau lancer menulis harus banyak membaca dulu. Berdasarkan pengalaman beliau bekerja di lembaga kemanusiaan Dompet Dhuafa. Beliau mengajak guru-guru mengabdi di daerah-daerah pelosok dan menulis atau berkarya. Setiap malam mereka harus menulis pengalaman mereka selama siang hari. Modelnya bisa macam-macam. Ada yang curhat, sampai ada yang membahas suatu teori kependidikan dan kepemimpinan. Setelah pagi tiba, sebelum beraktivitas dalam pembinaan, semua jurnal tadi dikumpulkan untuk diapresiasi dan ditanggapi. Melalui jurnal ini, kita pun para pengelola dan dosen jadi tahu tentang perasaan dan pikiran yang tengah bergejolak di hati mereka. Jika ada perasaan hati yang negatif, kita bisa langsung coaching atau konseling. Ada yang rindu keluarga, ada yang sakit hati dan macam-macam ceritanya. Kebiasaan menulis jurnal harian ini membuat guru jadi terlatih buat menulis. Namun ini tentu tidaklah cukup, harus ada upaya lain, yakni banyak-banyak membaca. Kalau gak banyak baca, ya gak bakal banyak menulis. Ini melatih kepekaan literasi mereka. Makanya kita adakan bedah buku rutin ada yang harian atau mingguan. Setiap pagi guru di SGI mengadakan apel, yang bertugas sebagai pembinanya bergantian. Pemimpin apel bertugas memberi kajian bedah buku. Setelah apel, untuk memantau kemajuan bacaan para guru, biasanya ada aktivitas "Semangat Pagi". Yakni memberi motivasi secara bergantian, dengan menggunakan kata-kata yang dinukil dari para tokoh. Ini efektif juga buat meningkatkan kepekaan literasi buat para guru. Saat ini buku-buku kami sudah habis versi cetaknya. Makanya kami ubah ke versi pdf atau e-book. Buku-buku ini sudah tersedia online dan lebih mudah diakses. Linknya : EduAction e-Book Dompet Dhuafa Pendidikan 2020. Sahabat Pendidikan, yuk tambah pengetahuan dengan mengunduh materi-materi terbaru dari para pegiat pendidikan Indonesia. Ada pembahasan menarik tentang kepemimpinan, parenting, sampai bagaimana langkah kita menghadapi Covid-19 yang ditulis oleh Ust. Harry Santosa, Sri Nurhidayah, Ivan Ahda, Asep Sapa'at, dan Guru Agung Pardini. Selain itu, Sahabat Pendidikan juga akan mendapatkan bonus Guide Book Ramadan Sekolah Guru Indonesia. Sila unduh dan donasi di :⁣http://etahfizh.org/ebook.⁣ Alhamdulillah, hari ini satu persatu daerah-daerah yang kami sambangi sudah ada jaringan internet dan listrik, jadi semakin mudah buat kami buat koordinasi. Kami juga mengajak Sahabat Pendidikan berbagi kebahagiaan dengan siswa yatim dan marjinal dengan berdonasi baju lebaran untuk mereka melalui tautan http://etahfizh.org/campaigns/baju-lebaran/⁣⁣

Sabtu, 02 Mei 2020

Kepala Dinas

Hubungan pak Nyoman dengan adik-adiknya di Bali masih harmonis, walaupun menurut hukum adat di Bali bapak sudah dianggap sebagai orang durhaka karena telah pindah agama. Namun menurut adik-adiknya, bapak masih menjadi panutan sampai sekarang. Sepupu dan keponakan bapak dari Bali juga sering berkunjung ke Probolinggo. Tegur sapa dengan saudara di Bali lewat telepon juga sangat di senangi bapak. Setiap even ke agamaan mereka selalu mengucapkan selamat, saya sungguh terharu melihatnya. Sebagai menantu yang belum banyak mengenal agama Hindu, sesekali saya memberi mengucapkan selamat kepada sepupu suami yang ada di Bali, ‘Om Swastiastu.. rahajeng Nyepi Mbok..’, tulisku di media online. Kata Mbok berarti saudara perempuan, Om Swastiastu adalah ucapan salam yang umum digunakan, Nyepi adalah hari raya Nyepi dan rahajeng artinya selamat. Meme Teki walaupun seorang ibu tiri sangat bangga dengan pak Nyoman dan selalu dia ceritakan kepada cucunya perihal bapak waktu kecil hingga dewasa. Kepergian pak Nyoman untuk merantau dan sekarang menjadi orang yang di hormati sangat membanggakan bape dan memenya. Bape Wayan sangat bangga dengan anak sulungnya ini, hingga ia memilih menghabiskan hari tuanya dengan pak Nyoman di Probolinggo. Dan takdir Illahi menentukan, bahwa bape Wayan tutup usia di Probolinggo sebagai mualaf. Kepergian bape Wayan menghadap Illahi banyak mengundang simpati berbagai kalangan. Hampir semua guru-guru di wilayah Probolinggo sudah pasti mengenal pak Nyoman, namun berita meninggalnya bape Wayan hampir tidak terpikirkan hingga mengundang ratusan pelayat. Pejiarah dari beberapa instansi berdatangan dengan menyumbang karangan bunga dan mereka beriringan menghatarkan bape Wayan keperistirahatan terakhir beliau. Untuk mencari kediaman pak Nyoman tidaklah sulit, karena dulu jalan Cokroaminoto merupakan daerah pengembangan tata kota yang tediri dari tanah kapling. Karena sedikitnya jumlah rumah waktu itu, seolah kediaman pak Nyoman bisa dilihat dari jarak 1000 m. Pada jaman dulu kediaman pak Nyoman memang paling besar di jalan Cokroaminoto sehingga pantas bila di sebut sebagai rumah kepala dinas. Bila ada yang bertanya letak rumah pak Nyoman, orang-orang selalu bilang ‘pak Nyoman kepala dinas, rumahnya di jalan cokro’ dan kebanyakan tidak meleset. Kediaman pak Nyoman di jalan Cokro yang tampak megah waktu dulu, membuat banyak orang berpikir besarnya penghasilan pak Nyoman karena yang mereka tahu kedudukan beliau adalah kepala dinas. ‘Seorang kepala dinas harus memperlihatkan teladannya dengan memberi tiang bendera permanen tepat di tengah halaman rumahnya’, begitu mereka bergumam. Jaman dulu ketika sedikit rumah, tiang bendera di halaman rumah merupakan salah satu tanda rumah bapak, hehe. Begitu memasuki rumah agak dalam akan tampak Foto presiden dan wakil presiden yang terbingkai rapi dengan mengapit lambang negera Garuda Pancasila. Memberi lambang Negara dan foto Prosiden di rumah merupakan kewajiban bagi bapak, saya sendiri tidak pernah bertanya mengapa masih beliau pajang walau sekarang sudah pensiun. Ketika pergantian wajah presiden atau wakilnya, bapak tidak mau menunggu lama meminta foto terbaru untuk mengisi pigora sakralnya. Hihi. Maaf ya pak, bukan bermaksud menertawakan bapak, yang saya tahu cuma kantor dan instansi pemerintah saja wajib memasang lambang Negara, up.. ampun deh saya memang kurang sensitive padahal saya kan juga aparatur Negara, maaf ya bapak Presiden.

Jumat, 24 April 2020

PRESENTASI TERBAIK

Proposal adalah langkah awal dari pengajuan bantuan ke pusat, yang isinya terdiri dari latar belakang, tujuan, masalah hingga perkiraan dana yang di butuhkan. Dengan proposal apa yang menjadi tujuan dan kendala di lapangan akan terbaca oleh pusat atau pihak di tuju. Dan pengajuan proposal ini sudah pernah pak Nyoman lakukan untuk sekolah-sekolah swasta ketika di Lecas sehingga mendapatkan bantuan dari beberapa instansi. Salah satu kesulitan membuat proposal adalah rasa malas atau alas an yang kita buat-buat sehingga menghabiskan waktu dan kesempatan untuk memperoleh kesempatan itu. Tidak banyak daerah atau instansi harus mundur atau membatalakan niatnya untuk kesempatan seperti ini. Namun kata malas tidak berlaku untuk pak Nyoman. Setiap proposal yang di buat harus di periksa sendiri secara akurat, bahkan tidak jarang beliau membuat proposal sendiri karena beberapa hal. Pak Nyoman sadar bahwa yang lebih membutuhkan kesempatan ini adalah kita atau yang mengajukan bantuan belum lagi kesempatan ini harus bersaing dengan wilayah lain se Indonesia. Jadi kecepatan kita dalam membuat proposal memang menjadi taruhan berhasi tidaknya bantuan yang akan kita dapatkan. Setelah misinya di beberapa wilayah di Probolinggo tercapai, sekali lagi pak Nyoman membuat pengajuan mendirikan gedung Dinas Pendidikan dan Kebudayaan atau di kenal dengan P & K untuk wilayah Probolinggo. Pada waktu itu Dinas P & K kota dan kabupaten Probolinggo masih bergabung dan belum memiliki bangunan sendiri atau berstatus kontrak. Memperjuangkan sebuah bantuan lagi untuk membuat gedung dinas P & K tidak ingin ia tunda, walaupun kesempatan yang ada hanya dua kuato. Masih kuat dalam ingatan bapak bagaimana beliau mempresentasikan pengadaan gedung dinas P &K itu. ‘Kuota bantuan pengadaan gedung dinas hanya dua pak Nyoman dan sepertinya daerahnya sudah di tentukan’, itu yang di sampaikan salah seorang pegawai di pusat. Dengan argumennya pak Nyoman terus memberi alasan lagi tentang pentingnya gedung dinas itu untuk wilayah Probolinggo. ‘Pengadaan gedung dinas di Probolinggo tergolong besar karena masih melakukan pembelian tanah’, seorang lagi ada yang menyela presentasi pak Nyoman. Setelah ikhtiar di lakukan langkah senjutnya adalah doa, karena Allah maha penentu terbaik. Dan jawaban dari usaha pak Nyoman adalah Probolinggo mendapatkan kuota pendirian gedung dinas P&K yang letaknya di jalan Basuki Rahmad No. 20A kota Probolinggo. Alhamdulillah Sekali lagi pak Nyoman membuat pengajuan sarana pendidikan untuk sekolah kejuruan, pada waktu itu ada sebuah moment meningkatkan persiapan SDM untuk siap kerja. Untuk mempersiapkan SDM yang baik dan siap kerja harus di siapkan sarana belajar dan praktik yang tepat pula. Hal inilah momen di adakannya pengadaan sarana untuk SMK. Kesempatan ini tidak akan di lepas oleh Pak Nyoman untuk sekali lagi membuat proposal pengajuan bantuan. Pengadaan sarana pendidikan untuk SMK ini merupakan momen yang besar pada prooyek pendidikan dan hampir seluruh kota mendapatkan bantuan ini. Dan Probolinggo juga mendapatkan kuota bantuan sarana pendidikan SMK. Entah sudah berapa kali pak Nyoman membuat proposal pengajuan hingga presentasi ke pusat, yang pasti usaha beliau selama ini membuatnya cukup di kenal dan hasilnya mempermudah setiap usaha beliau. Tiba saat peresmian sarana SMK, ternyata langsung di resmikan oleh orang nomer satu Indonesia saat itu yaitu Presiden Soeharto. Secara simbolis bapak presiden Soeharto melakukan peresmian penerima bantuan sarana SMK tersebut ke semua kota di Jawa Timur, dimana tempat yang di pilih adalah Probolinggo. Subhannallah…

PANORAMA ALAM

Dalam diam, pak Nyoman kembali mengingat jalan-jalan yang ia lalui di wilayah-wilayah kabupaten tersebut, ‘betapa beragamnya iklim dan budaya disini’, kenang pak Nyoman. Ternyata ada budaya hindu yang sangat kental walaupun tidak dijumpai banyak pura layaknya di Bali, dan bahasa yang di gunakan jawa yang medok, ya.. itulah daerah lereng gunung Tengger dan sekitarnya. Dengan iklim yang dingin sangat jauh dari iklim Probolinggo pada umumnya, panoramanya sangat indah mulai dari perjalanan hingga mencapai puncak gunung Bromo. Penduduknya masih memegang budaya asri miliki leluhurnya dan taat pada adat istiadat, sama seperti di Bali gumam pak Nyoman lagi. Turun dari desa Sukopuro yang dingin akan menjumpai desa Negororejo Lumbang yang memiliki air terjun besar Madakaripura, konon disinilah patih Gajah Mada menghabiskan sisa hidupnya. Wilayah daerah timur Probolinggo antar Gending, Tiris dan Maron banyak sekali dijumpai sungai yang masih alami dengan batu-batu besardan tebing yang berkelok dan curam. Salah sungai yang bernama sungai Pakelan, saat ini menjadi wisata Arum Jeram. Desa Tiris mempunyai banyak pesona alam yaitu pemandian air panas yang alami dan Danau yang bernama Ranu Segaran. Dan masih di sekitar daerah ini terdapat juga Candi peninggalan raja Hayam Wuruk yang bernama Candi Jabung, konon candi ini tempat makam salah seorang keluarga kerajaan Majapahit. Kemudian masuk ke pegunungan Argopuro yang memiliki panorama puncak yang khas dan salah satu puncaknya tersebut bernama Rengganis. Nama Rengganis diambil dari nama Dewi Rengganis seorang ratu kerajaan. Selain keindahan panorama alamnya ternyata Probolinggo memiliki tanah yang subur, dari wilayah barat sampai timur memiliki kesuburan yang beragam sehingga menghasilkan hasil bumi yang beragam pula. Buah Mangga dari Probolinggo sudah diakui semua orang baik dari dalam maupun luar Probolinggo, belum lagi hasil bumi yang lain seperti bawang merah, tembakau, padi, jagung sangat cocok sekali untuk iklim panas di Probolinggo. Daerah lereng pegunungan Tengger yang dingin juga sangat produktif dengan hasil kebunnya seperti kentang, koll, wortel dan lain-lain. Dan tidak kalah dari hasil bumi ada kekayaan hasil laut yang tak pernah habis, wilayah pesisir di Probolinggo sangat luas dan hampir semua bermata pencaharian nelayan. Sesaat rasa capek yang menggelayuti badannya mulai terasa hilang, betapa bagusnya panorama di Probolinggo, gumam pak Nyoman lagi. Panorama seindah ini akan mudah di asah dengan bekal pengetahuan dari penduduk setempat, sehingga dapat menarik wisata dan tidak hilang percuma. Sekali lagi semangat pak Nyoman dalam membuat rancangan bertambah dan kian lama kian kuat.

JALAN YANG BERLIKU

Keberhasilan pak Nyoman menjadi teladan di lingkungan pendidikan kota Probalinggo selama menjadi penilik sekolah ternyata tidak berlaku ketika menduduki posisi barunya sebagai kepala seksi bidang di instansi pendidikan. Perjalanan karir yang selama ini berjalan dengan manis, sekarang adalah masa sulit, corak terjal dan berliku menghampiri perjuangannya. Wilayah probolinggo yang terdiri dari dua bagian, yaitu kota dan kabupaten merupakan daerah yang luas dengan berbagai kondisi alam yang menantang dan ragam budaya yang komplek. Tanggung jawab tugas pak Nyoman sebagai kepala seksi bidang pendidikan dasar dan prasekolah, ternyata tidak semuda tugas-tugasnya selama ini. Kecamatan Leces tempat pertama beliau memulai perjuangannya ternyata hanya sebagian tempat kecil di lingkungan wilayah Probolinggo karena wilayah kabupaten Probolinggo ternyata memiliki luas sekitar 1.696 Km2. Sementara luas kota Probolinggo tempat beliau menebarkan semangatnya hanya seluas 56,67Km2 . Jadi bisa di bayangkan nilai 56,.. berapa kali lipat dari 1.696 ? .. Kemudahan tugaspak Nyoman selama di kota Probolinggo adalah karena lokasi wilayahnya tidak merepotkan yaitu memiliki luas terjangkau dengan dataran yang rata, jadi untuk melakukan sidak atau pengawasan cukup dilakukan dengan waktu sehari. Berbeda dengan wilayah kabupaten Probolinggo, dengan luas wilayah seperti itu ternyata letaknya juga terpencar yaitu di sebelah selatan, barat dan timur dari kota Probolinggo atau mengelilingi kota Probolinggo. Selain lokasinya yang sangat luas, kabupaten Probolinggo juga memiliki geografis yang berbeda yaitu dataran rendah atau tanah pesisir di sebelah utara di sepanjang bagian paling barat hingga paling timur kabupaten Probolinggo; daerah perbukitan di sekitar kaki gunung Semeru, pegunungan Tengger dan sisi bagian timur gunung Lamongan; dan terakhir daerah pegunungan di sekitar pegunungan Tengger dan pegunungan Argopuro. I Nyoman percaya usaha tak akan membohongi hasil, dengan memahami letak geografis dan mata pencaharian penduduk setempat, saya pasti bisa menyelesaikan tugas ini, gumamnya. Melaksanakan misi ‘menyediakan sarana pendidikan dan memotivasi warga Probolinggo untuk belajar’ mulai berjalan tentunya dengan bantuan para penilik sekolah. Satu kendala lagi yang menjadi masalah adalah keterbatasan guru dan penilik sekolah, kurangnya motivasi belajar pada penduduk di probolinggo menyebabkan kurangnya sumberdaya manusia penggerak misinya. Salah satu cara untuk menyediakan guru dan penilik sekolah adalah dengan meminta kuota dari pusat melalui seleksi PNS. Ketika guru baru sudah hadir, seperti yang beliau bayangkan selama ini yaitu di dominasi kaum urban seperti kota Malang, Surabaya, Kediri, Jombang, Magetan dan wilayah lain sekitar Jawa Timur. Kehadiran guru urban memiliki nilai plus dan minus, nilai plusnya adalah kwalitas SDM yang sudah bagus karena berasal dari pendidikan tinggi, sedangkan nilai minusnya adalah karena bukan dari Probolinggo maka kurang siap menghadapi kultur budaya di kabupaten Probolinggo yang beragam. Sehingga langkah pertama adalah membuat guru urban tersebut betah untuk tinggal di wilayah Probolinggo sesuai pilihannya, pilihan terbanyak adalah di kota Probolinggo. Langkah kedua menjalankan misinya adalah melanjutkan memeratakan jumlah sekolah di seluruh wilayah Probolinggo khususnya kabupaten. Mendirikan sekolah dengan memahami kwalitas SDM daerah adalah kuncinya yaitu memperluas jangkauan tingkat sekolah dasar dan prasekolah. Dengan memberi bekal pendidikan setara sekolah menengah, maka di buatlah rekruetment. Pendidikan pra sekolah yang berisi permainan akan membuat anak-anak di daerah setempat tertarik untuk bersekolah, sehingga untuk melanjutkan ke jenjang SD tidak kesulitan dalam memotivasi. Daerah pesisir yang memiliki jangkauan dekat dan jumlah penduduk yang rapat, cukup sulit untuk menyadarkan arti pendidikan di setiap warganya. Karena moto mereka adalah bagaimana mencari uang untuk hidup, sementara susah payah sekolah belum tentu dapat uang melainkan menghabiskan uang begitu mereka bilang. Baru masuk di wilayah terdekat saja sudah mendapat kendala, ternyata slogan Probolinggo sebagai daerah keras sudah dapat di lihat dari budaya di pesisir. ‘Perlu lebih sabar dan tidak usah di paksa’, gumam pak Nyoman dalam hati. Dari wilayah paling barat keselatan adalah wilayah pegunungan Tengger dan Semeru, ternyata wayoritas penduduknya pemalu, mata pencaharian meraka adalah berkebun di lereng pegunung Tengger. Wilayah dataran menengah dan tinggi ini sangat luas dengan jumlah penduduk yang tidak terlalu banyak maka sekolah yang didirikan di sesuaikan dengan jumlah penduduk setempat. Jangkau penduduk dengan sekolah terdekat cukup jauh untuk ukuran orang kota di tambah lagi medan yang di tempuh cukup curam. Wilayah timur dari kota Probolinggo adalah Dringu, Gending, Kraksaan dan Paiton merupakan wilayah dataran rendah dan sedang. Mata pencaharian penduduk selain nelayan adalah bertani, cuaca yang panas dan anginnya yang kencang, tanaman terbaik di sana adalah bawang merah, tembakau, anggur hitam, mangga dan banyak lagi tanaman lain yang tumbuh dengan baik. Karena lokasinya sangat mudah di jangkau, sepertinya penduduk setempat lebih terbuka untuk pendatang baru dari guru urban. Memasuki wilayah timur ke selatan adalah dataran menengah dan tinggi yang terdiri dari daerah Tiris, Pakuniran, Krucil dan seterusnya. Wilayah dataran tinggi yang ini tidak sedingin wilayah di lereng pegunungan Tengger. Cuaca Probolinggo masih terasa disini ada panas dan angina walaupun lokasinya di dataran tinggi. Kondisi alamnya tidak jauh berbedengan dengan tengger yaitu berliku dan curam. Akomodasi favorit kala itu adalah delman dan mata pencaharian penduduknya adalah berterbak sapi perah, domba perkebunan dan pertanian. Sama halnya dengan di tengger jumlah pendudukanya tidak sebanding dengan luas wilayahnya, jadi mendirikan sekolah disini disesuaikan dengan jumlah penduduknya. Wilayah selatan kota Probolinggo terdiri daerah Malasan, Leces, Bremi, Patalan dan seterusnya. Wilayah selatan ini terdiri dari dataran rendah dan dataran sedang mata pencaharian terbanyak berdagang, bertani dan berkebun. Sesuai dengan letak geografisnya, kondisi tanahnya landai dan berbukit, iklimnya tropis dengan bahasa yang di gunakan mayoritas Madura. Jumlah penduduk di wilayah ini cukup padat sehingga pendirian sekolah di daerah ini bisa memenuhi jangkauan penduduk

Jumat, 17 April 2020

Keterkaitan Sang Mertua Dengan Presiden Soekarno

Pak Sis adalah salah seorang pejuang sebelum terjun dan berprofesi di dunia pendidikan. Kepahlawanan pak Sis telah ia buktikan atas kesetiaannya dalam membela dan mendampingi presiden Soekarno ketika melakukan pengasingan di pulau Bima. Presiden Soekarno yang sudah beberapa kali di tangkap Belanda karena di nilai membahayakan misi Belanda selama di Indonesia, tidak pernah pudar menggelorakan semangat juangnya ke seantero negeri. Pak Sis adalah salah satu pejuang muda kala itu setia menunggu kode dari sang proklamator dalam melancarkan gerakkan perjuangannya. Hingga akhirnya terjadilah pertemuan dengan sosok penggelora semangat juang yang terkenal dengan sebutan putra sang Fajar. Di pengasingan itu pak Sis mendapati berkah yang luar biasa, dimana kelahiran putri pertamannya menjadi saksi nyata perjuangan sang idola. Dengan belaian dan keberkahan sang proklamator teriring doa terbaik untuk sang buah hati hingga keturunannya kelak, jadilah pahlawan bangsa. Aamiin. Pak Sis sejenak merenung ke masa silam, pada masa perjuangan bersama bung Karno yang tidak pernah menyerah dengan walau beberapa kali di tangkap dan hukuman oleh Belanda. Kini pak Sis kembali merasa menjadi saksi sejarah dari seorang pemuda yang tidak pernah menyerah dengan idealisnya. Pemuda yang berstatus menantunya, telah membuktikan bahwa masih ada jiwa-jiwa pejuang di bumi Pertiwi ini. Untuk kedua kalinya di masa hidupnya dia menjadi saksi dan ikut mendampingi sosok pejuang, bagaimana sang menantu ketika menumbuhkan semangat pendidikan untuk anak-anak yang belum terjamah pendidikan, membangun sarana belajar dalam keterbatasan yang ia miliki tanpa mempedulikan kebutuhan dan kesenangan sendiri. Ketika dia sudah berada di puncak dan di elu-elukan anak buahnya pun dia tetap bekerja dan berjuang tanpa pamrih, walau harus tinggal di sebuah kamar yang sekaligus dapur. Tanpa merengek kepada mertuanya yang seorang kepala Inspektorat, dia rela menjalani kesederhanaan hidup bersama keluarga kecilnya. Suatu waktu pak Sis di kejutkan atas tergoleknya sang menantu di sebuah ranjang rumah sakit, 'apa yang terjadi ?' tanya pak Sis pada putrinya. 'Iya pak, mas kalau malam masih bekerja', jawab Sugiarti. Dia selalu memeriksa administrasi pertanggungjawaban keuangan terutama dana bantuan dari pusat, lanjut Sugiarti. Ternyata itulah yang dilakukan menantunya, Pak Sis hanya tahu kalau menantunya dikantor adalah pekerja yang pantang menyerah, tidak pernah berhenti untuk memberi teladan kepada bawahan dan rekannya. Sugiarti sang putri tidak pernah menceritakan apa selalu suaminya lakukan setiap ada di rumah, hingga dia tahu setelah jatuhnya fisik sang menantu dan harus menginap di rumah sakit. Tanpa terasa terucap doa tulus dari bibir laki-laki tua itu, sunggup beruntungnya aku menjadi saksi dan turut menyertai dua orang yang pilihanMu ya Tuhan.. Dua pemuda berbeda waktu yang memiliki semangat luar biasa. di umurku yang tidak seberapa ini, aku telah menyaksikan kokohnya semangat juang bung Karno membela tanah airnya, berjuang untuk meraih kemerdekan dan satu lagi semangat juang mengisi kemerdekaan. Ya Allah.. ijinkan aku meminta.. tumbuhkanlah jiwa pejuang dan rasa nasionalisme pada diri putra dan putri kami agar bangga bangsa kami, sesungguhnya kami hanya tunduk padaMu ya Robb

Kamis, 16 April 2020

Kelahiran Putra Yang Prematur

Kehilangan seorang putri kecilnya yang masih amat kecil merupakan pukulan untuk Ibu Sugiarti, terutama putri pertama yang sangat ia harapkan. Kesedihan ini semakin bertambah dengan adanya aksi pemberantasan anggota PKI yang meraja lela. Gerakan penumpasan PKI yang sudah merata di seantero tanah air, hampir tak terkendalikan karena bukan hanya di lakukan oleh aparat melainkan masyarakat awam. Antara sikap tegas atau anarkis hampir tiada beda kala itu, karena sikap marah yang mereka tunjukkan adalah sama. Sugiarti yang sedang mengandung putra ke dua juga terdampak dengan kondisi yang demikian, ketenangan dan kenyamanan yang ia inginkan sulit sekali di dapat. Hari demi hari tiada ketenangan sedikit pun yang ia rasakan, kecuali dengan istifar dan doa yang mampu meredakan guncangan hatinya. Setiap kali pintu di gedor, sontah seluruh tubuhnya tergoncang dan perut buncitnya saja yang menjadi saksi bagaimana paniknya dia. Untuk turun dari tempat tidurpun tak mampu ia lakukan, profesi guru yang selama ini dia banggakan sudah tergoncang oleh isu PKI. Ditengah ke uncangan jiwa dan raganya, ibu Sugiarti harus menerima kenyataan untuk melahirkan putra idamannya secara kurang bulan atau premature. Kondisi ini semakin memperburuk keadaan karena perawatan yang ia jalani harus berjalan di tengan kondisi yang rusuh dan mendebarkan.

Berjodoh Dengan Anak Kepala Sekolah

Kehadiran I Nyoman di lingkungan keluarga pak Sis untuk anak-anaknya, terutama karena pembawaannya yang dewasa dan sabar. Ketika ada suatu an di dalam keluarga, anak-anak pak Sis tidak pernah sungkan untuk melibatkan mas Nyoman sebagai penengah. Kepercayaan yang di gantungkan padanya membuat I Nyoman terharu dan bersyukur memiliki keluarga di pulau Jawa. Sugiarti yang menyadari kehadiran I Nyoman di lingkungan rumahnya pun tidak dapat mengelak kewibaan yang di miliki I Nyoman. Setelah beberapa kali bertemu, Sugiarti permasalahpaham mengapa adik-adiknya begitu sayang dan patuh dengan sosok yang bernama Nyiman ini. Kesan pertama yang pada diri Sugiarti terhadap I Nyoman hampir tidak ada, ‘ah biasa saja, tidak terlalu istimewa’, bisik hati Sugiarti. Selepas pendidikannya di SMA Keputrian Surabaya, Sugiarti pun pulang dan beraktifitas di rumah sebagai pengganti kedua orang tuanya yang dinas di Banyuwangi. ‘Ndun kamu bantu mas Nyoman ngajar di SD ya’, perintah pak Sis ketika pulang. ‘Ndun’ adalah panggilan Sugiarti di rumah, begitupun adik-adiknya memanggilnya mbak Ndun. Mendengar perintah bapak, sudah pasti Sugiarti tak dapat menolak. Apalagi jiwa Sugiarti yang tidak bisa diam, lulus dari sekolah menengah di kota Surabaya adalah bekal yang lebih dari cukup untuk menjadi seorang guru. Kerjasama antar Sugiarti dengan kepala sekolahnya atau pak Nyoman sangat ideal, karena pak Nyoman yang sabar dan banyak mengalah banyak di bantuk oleh sifat Sugiarti yang tegas dan tangkas. Kehadiran Sugiarti dalam lingkungan sekolah sangat membantu kerja I Nyoman sebagai kepala sekolah. Serasa menemukan sosok pak Sis yang sudah hilang karena tugas barunya. Kekompakan Sugiarti dan I Nyoman mungkin sudah ramal pak Sis jauh sebelum kelulusan Sugiarti dari sekolahnya di Surabaya. Sebagai seorang ayah tentu pak Sis paham dengan berbagai karakter sifat anak-anaknya, terutama putri pertamanya Sugiarti. Sugiarti yang memiliki watak hampir tak jauh berbeda dengan dirinya, pasti cukup sulit untuk menerima teman laki-laki di sekitar desa Leces yang tergolong terpencil. Dan I Nyoman adalah sosok yang tepat untuk putri kesayangannya apalagi posisi pak Nyoman yang kala itu seorang kepala sekolah. Hanya pak Nyoman saja yang mampu membust putrinya berhati keras ini menurut, ‘bapak, anak orang jangan di suruh-suruh’ jawab Sugiarti. ‘Apalagi hubungan kami sudah seperti saudara, kalau dia gak mau kan enak nanti kerja di satu sekolah’, sambung Sugiarti. Pak Sis hanya tersenyum mendengar jawaban Sugiarti. ‘Soal itu, urusan bapak’, jawab pak Sis sambil bergegas pergi. Singkat cerita, terjadilah pernikahan antara pak Nyoman dan Ibu Sugiarti, bukan main kebahagiaan pak Sis kala itu. Karena mendapatkan menantu sosok yang ia idamkan, kini pak Nyoman bukan sekedar anak kost melainkan menjadi putranya yang tertua. Kehidupan pasangan I Nyoman dan Sugiarti berlangsung harmonis walau ada cobaan yang harus di lalui, misalnya ketika putri pertama yang bernama Ni Wayan Budiharti atau Anik harus menghadap Illahi pada usia 1 tahun karena sakit. Pada tanggal 21 Nopember 1965 lahir putra ke dua yang bernama I Made Darmayana atau Anang. Pada tanggal 10 Juli 1968 Ibu Sugiarti mengalami keguguran anak ke tiganya. Pada tanggal 19 September 1969 lahirlah anak ke empat yan bernama Ni Ketut Darmawati atau dipanggil Rini dan pada putra terakhir lahir pada tanggal 28 Oktober 1972 yang bernama I Wayan Mudayana atau di panggil Iwan.

Membangun Rumah Tinggal

Membangun rumah tinggal yang selama ini menjadi saksi perjalanan hidup rumah tangganya adalah hal yang tak terlupakan. Dengan lancar bapak menjawab pertanyaan tamu ketika ada yang bertanya tentang model rumah hinggal detail yang mengiasi sisi-sisinya. ‘Pembangunannya sekitar 10 tahun dengan banyak bantuan dari teman-teman’ itu yang selalu bapak katakan karena beliau memang tak pernah melupaka jasa orang walau sekecil apapun. Ukuran tanah yang menurut sebagian besar orang luas dan mahal memang demikianlah adanya, bahkan denga paksaan dari penjual pak Nyoman akhirnya membeli tanah ini dengan cara mengutang, ‘Untuk pak Nyoman yang kepala Dinas harus ambil dua kapling’, begitu kata pak Gianto. Sebagaian besar masyarakat Probolinggo mengenal Pak Nyoman adalah kepala Dinas Pendidikan walaupun sebenarnya Plt. ‘Jangan pak gak enak saya mengutang, gajinya PNS ya bisa buat makan dan sekolah anak saja, bayar utang dari mana saya’ begitulah bapak menjawab, coba memilih ukuran satu kapling. ‘Sudah pak, saya lebih suka tanah itu menjadi milik bapak, apapun yang terjadi gak bakal saya jual ke orang lain’, lanjut pak Gianto dengan memaksa. Akhirnya dengan tersenyum tipis pak Nyoman mengiyakan apa yang di katakana pak Gianto. Setelah mendapatkan dua petak kapling tanah secara ngutang, bapak tidak berpikir terlalu jauh untuk pembangunan rumah ini karena masih konsentrasi pada pelunasan tanahnya dulu, itu yang di pikirkan bapak. Namun ternyata tangan Tunah kembali menghampiri bapak, seorang teman dari dinas perhutanan ternyata telah mempersiapkan beberapa bongkah kayu Jati tua yang tak ternilai harganya, menurut ukuran bapak. ‘Bagaimana saya menerima kayu mahal itu, saya gak punya duit’, pak Nyoman berusaha menolak pemberiaan sang teman itu. ‘Jangan bilang begitu pak, tolong terima saja. Biar saya senang’, jawab teman bapak memaksa. Subhanallah.. ternyata jika Tuhan berkehendak, ternyata pemberian Illahi jauh dari apa yang kita bayangkan. Kolasi tanah yang bagus dan luas dan hadiah kayu dengan kwalitas tinggi yang tak terbayangkan selama ini. Dengan doa dan kepasrahan kapan rumahnya akan mulai di bangun, bapak yang suka menggambar merancang sendiri bentuk dan desain rumah tinggal impiannya dan masih tersimpan hingga sekarang. Waktu pembangunan pun bertahap di lakukan sesuai ketersediaan dana yang ada. Mulai membuat kerangka pintu, jendela dan kudakuda dari kayu jati pemberian teman kemudian di tambah membuat bangunan secukupnya. Setelah di rasa cukup pantas untuk di tempati, maka pindahlah keluarga pak Nyoman dari tempatnya menumpang selama ini di sebuah kamar milik SD Sawonggaling kota Probolinggo. Bantuan dari adik nya dari Bali juga tidak dapat dia tolak, dengan menambahkan prasasti relief di dinding pagar dan masih indah sampai sekarang.

Kedatangan Tamu Presiden

Selama Pak Sis sang mertua bertugas sebagai kepala Inspektorat pedidikan, banyak sekali prestasi yang terukir selama kepemimpinan beliau disana. Pak Nyoman yang telah menekuni tugasnya sebagai penilik sekolah di lingkungan kota Probolingggo, kini menduduki tugas sebagai kepala bidang sekolah dasar dan pra sekolah di tempat yang sama dengan sang mertua. Kedudukan baru yang di dapat pak Nyoman bukan semata hadiah dari sang mertua, namun waktu dan prestasinya telah membuktikan bahwa di sangat layak mendapatkan tempat tersebut di dunia pendidikan. Setelah pak Sis purna tugas, posisi kepala Inspektorat telah di gantikan oleh bapak Daus… yang tempat tinggalnya di Surabaya. Pak Daus yang kala itu sedang mengalami masalah kesehatan harus memenuhi perintah dokter untuk melakukan perawatan sesuai petunjuk dokter. Tugas kedinasan yang cukup menguras fisiknya yang belum sehat harus ia limpahkan kepada salah seorang bawahannya. Dan orang tersebut telah di tunjuk dan menerima tugas dan tanggung jawab pak Daus, dialah Pak Nyoman Benben. Beberapa agenda besar tugas pak Daus sebagai kepala Inspektorat telah pak Nyoman lakukan, dari pengadaan sarana untuk sekolah dasar, pra sekolah, pengadaan kantor Dinas Pendidikan hingga pengadaan sarana sekolah menengah kejuruan. Pengadaan sarana SMK terbesar se Jawa Timur berhasil menarik orang pertama Indonesia bapak presiden Soeharto untuk bekunjung ke kota Probolinggo yang kecil. Ternyata pamor pak Nyoman Benben mampu menenggelamkan beberapa kelapa dinas yang lain di Jawa Timur, sebuah momen yang tak terlupakan. Tiba pada diskusi penyambutan sang presiden berbagai persiapan pun di lakukan dengan mengerahkan seluruh tenaga dan argumentasi. Ketika terjadi perdebatan untuk hiburan penyambutan bapak presiden, berbagai kalangan usul untuk mendatangkan dari Surabaya. Dengan argumen yang realistis dan berwibawa pak Nyoman menolak usulan tersebut walau sebagian besar orang berpendapat kwalitas dan nama yang terkenal. ‘Kalau sedikit-sedikit mendatangkan drumband atau hiburan dari Surabaya, kapan anak-anak kita akan tampil?’ itulah argumen mematikan di pak Nyoman. Dengan alasan pengeluaran dan loyalitas kepada hasil kerja guru-guru di wilayah Probolinggo, otomatis alasan ini membuat guru-guru semakin bangga dengan sifat pemimpin mereka. Momen penyambutan presinden dengan tamu dari berbagai wilayah di Jawa Timur adalah momen langka untuk ukuran kota Probolinggo yang kecil. Dan kebanggan ini harus di rasakan semua murid dan guru-guru di wilayah Probolinggo. Melalui perdebatan yang sengit, akhirnya keputusan terakhir berpihak pada usulan pak Nyoman yaitu menggunakan hiburan dan penyambutan dari siswa siswi dan guru wilayah Probolinggo

Numpang Tinggal Di Sekolah

Menjadi guru PNS dan memiliki kedudukan yang cukup tinggi jaman dulu, tidak menjanjikan kehidupan yang sempurna. Walaupun pak Nyoman sudah menjadi panutan untuk guru-guru di lingkungan Probolinggo, kesehariannya bisa di bilang jauh dari sebutan layak. Pengorbanan dan perjuangannya sebagai guru hingga penilik sekolah selama ini ia lakukan dengan apa adanya tanpa berpikir pamrih sama sekali. Kesederhanaan keluarga kecil Pak Nyoman benben sangat jelas dari tempat tinggalnya waktu itu, yang hanya menumpang si sebuah ruangan yang mungkin berfungsi sebagai dapur sebelumnya. Keterbatasan yang ia alami waktu itu tidak membuat keluarga kecil ini manja dengan memanfaatkan kedudukan pak Sis sebagai kepala instansi Pendidikan. Dengan menerima uluran bantuan dari sebuah sekolah yang bernama SD Sawonggaling di dalam kota Probolinggo, keluarga kecil ini selalu bersyukur dalam keseharian. Pengabdian Pak Nyoman di dunia pendidikan kini teruji lagi, beliau tidak ingin berjuang setengah hati sehingga memutuskan untuk hijrah ke kota probolinggo dan menjauhi kenyamanan yang sudah di rasakan di rumah pak Sis di Leces. Pengorbanan pak Nyoman dengan keluarga yang hidup sederhana dengan menumpang di sebuah ruangan di sekolah SD Sawonggaling merupakan ujian terindah dalam hidup rumah tangganya. Tahun pertama di sebuah ruang sekolah itu, ibu Sugiarti melahirkan putri keempat mereka yang bernama I Ketut Darmayanti. Dan pada tahun yang sama pula 1969, pak Nyoman di angkat sebagai kepala seksi bidang sekolah Dasar dan Pra Sekolah di Instansi Pendidikan. Tiga tahun kemudian lahirlah putra kelima mereka yang bernama I Wayan Mudayana. Keteguhan hari pak Nyoman untuk meningkatkan mutu pedidikan sudah dia buktikan dengan tindakan dan komunikasi selama ini. Hampir di semua bidang pendidikan pak Nyoman tidak mau menunggu untuk memperjuangkan mutu pendidikan. Bidang sekolah dasar dan pra sekolah yang yang menjadi tanggung jawab tugasnya di inspektorat telah ia perjuangkan dengan meningkatkan jumlah saran sekolah dasar dan taman kanak-kanak. Dan pada bidang sekolah menengah khususnya kejuruan, pak Nyoman juga tidak mau diam dan memperjuangkan sarana pendidikan sekolah menengah kejuruan di Probolinggo menjadi yang terbaik se Jawa Timur Pengadaan sarana dan tempat pendidikan sekolah menengah kejuruan saat itu sedang di galakan oleh perintah pusat. Hampir seluruh kota si Jawa Timur mendapatkan kuota pengadaan di kota / kabupaten masing-masing, termasuk kota Probolinggo. Pak Nyoman yang kala itu berstatus Plt Kepala dinas pendidikan mendapatkan penghargaan yang luar biasa dengan di percaya sebagai tuan rumah persemian bantuan sarana SMK se Jawa Timur. Peresmian sarana SMK se Jawa Timur pun terjadi tepatnya di stadion Bayuangga kota Probolinggo dengan tamu kehormatan orang nomer satu di Indonesia yaitu Presiden Soeharto. Begitu banyak tugas mulia yang telah pak Nyoman tekuni tanpa mengeluh dan pamri, hingga akhirnya tangan Tuhanpun menghampirinya. Tuhan memahami keinginan keluarga kecil ini untuk membangun rumah tinggal. Sehingga rumah tinggal idaman yang sangat nyaman dapat di wujutkan dengan perpanjangan tangan Allah SWT tentunya.

Menjadi ketua PGRI

Tujuh tahun setelah menekuni posisi sebagai kepala sekolah di SD Asmorobangun, pak Nyoman mendapat tugas baru sebagai penilik sekolah yang di wilayah Kadengan kota Probolinggo. Perpisahan pak Nyoman sebagai kepala sekolah dengan anak didik dan rekan guru di SD Asmorobangun dapat di abadikan dalam sebuah foto kenangan. Dengan berbekal pengalamannya selama mengajar dan memimpin di SD Asmorobangun, semangat pak Nyoman tak pernah padam dalam memajukan pendidikan khususnya di wilayah Probolinggo. Tugas pak Nyoman yang kala itu sebagai penilik sekolah merupakan posisi yang tepat untuk menggencarkan semangatnya ke seluruh guru binaannya. Semangat yang selama ini berkorbar di dadanya telah tersalurkan ke seluruh guru di wilayah probolinggo. Aktif, komunikatif dan bersemangat itulah kesan pembawaan pak Nyoman Benben, kedatangan pak Nyoman di lingkungan sekolah selalu menggerakkan semangat guru dalam pendidikan. Tidak heran bila akhirnya pak Nyoman menjadi kandidat yang tepat sebagai ketua PGRI, tanpa memandang latar belakang pendidikan yang mungkin masih ada yang lebih tinggi dari pada tamatan SGA. Keaktifannya dalam berorganisasi bukan hanya membius guru-guru binaannya di wilayah Probolinggo, hampir setiap seminar yang ia ikuti selalu menjadi pribadi yang unggul dari segi kognitif dan pengetahuan. ‘Saya tidak pernah menganggap remeh suatu ujian’, itu yang selalu di sampaikan bapak setiap kali dia bercerita tentang pengalaman hidupnya. ‘Setiap kali ada penataran, bawaan saya paling banyak di banding peserta lain, bisa di bilang buku atau bahan penataran saya bawa semua dengan tas yang terpisah dengan baju’. Teman-teman penataran banyak juga yang mengolok-olok, katanya refresing lah, jangan tertalu serius lah, cari teman, jalan-jalan. Tapi kalau untuk saya penataran itu kesempatan saya menambah ilmu, saya sangat menghargai pemateri siapapun dia karena dia datang untuk menyampaikan ilmu, itulah moto pak Nyoman. Tak heran di setiap penilaian nama I Nyoman Benben selalu di peringkat pertama dengan nilai tertinggi, dan pujianpun selalu ia terima dari teman peserta seminar hingga narasumber

Rabu, 15 April 2020

menjadi PNS

Beberapa tamu tak lupa memberi ucapan selamat kepadaku yang telah lulus menjadi PNS, setelah dua tahun aku mengabdi pada sekolah swasta. Beberapa sepupu suami yang terlebih dahulu menjadi PNS pun berbagi cerita sejarah hingga dia menjadi PNS. Ya, menjadi guru PNS saat ini sangat berbeda dengan jaman bapak, terutama adanya tunjangan sertifikasi. Mendengar diskusi kami, bapak hanya tersenyum sambil terucap syukur, ‘bagus kalo begitu, memang seharusnya demikian’, bapak menambahkan. Perbincanan kami semakin seru dengan keikut sertaan bapak yang berbagi pengalaman hidupnya sehingga menjadi PNS. Setelah tamat dari SGA Dhoho Kediri saya diterima mengajar di SGB Katholik pada pelajaran berhitung dan olah raga di SMP Louist, bapak menjawab ketika salah seorang sepupu kami bertanya. Pada waktu itu sekolah swasta dengan yayasan Kristen atau Katholik adalah sekolah elite dan favorit untuk guru-guru. Guru-guru pemula sampai guru negeri seolah saling berkompetisi untuk dapat mengajar di sekolah tersebut, bapak melanjutkan ceritanya. Pada jaman dulu guru negeri di perbolehkan untuk mencari jam tambahan di luar sekolah induknya, mungkin pertimbangan dari kelangkaan jumlah guru pada waktu itu. Dan kesempatan ini tentu di manfaatkan untuk menambah pundi-pundi penghasilan setiap guru. Wali murid sekolah swasta jaman dulu kebanyakan dari golongan menengah ke atas atau pengusaha, biasanya mereka memilih sekolah swasta untuk mengejar gengsi yang terkenal sebagai sekolah mahal. Warga keturunan Cina dan Belanda sudah pasti memilih sekolah swasta Kristen atau Katholik atas pertimbangan menghindari pelajaran agama Islam di sekolah negeri atau swasta nasional. Sebelum lulus sebagai PNS, teryata bapak mendapat tawaran untuk menjadi guru tetap di sekolah tersebut. Diantara persaingan yang cukup berat dari rekan kerjanya, bapak menjadi salah satu kandidat yang mendapat tawaran sebagai guru tetap di yayasan. Namun di tengah kebimbangan yang ia rasakan, ternyata bapak memilih menjadi guru tidak tetap karena ia bisa leluasa membagi ilmunya lebih luas lagi yaitu dengan mengajar di sekolah lain. Pilihan bapak menolak menjadi guru yayasan ternyata tepat, karena tidak lama kemudian dia mendapatkan SK mengangkatan sebagai Pegawai Negeri. Status barunya sebagai pegawai negeri membuat bapak mengungkapkan rasa syukurnya yang tak terhingga kepada sang pencipta. Tidak lupa bapak menympaikan juga kabar gembira ini kepada sepupunya bli Made yang selama ini menjaganya di Kediri. Dengan SK di tangan, I Nyoman berpamitan dengan Made Kereg sepupunya, ‘Bli, aku mendapat pengangkatan menjadi pegawai negeri’, ucap Nyoman membuka percakapan. ‘Oh ya?.. selamat ya’ jawab bli Made. ‘Akhirnya perjuanganmu selama ini berbuah hasil, kamu jadi pegawai negeri dan kehidupanmu sudah di jamin oleh negara’ lanjut bli Made. Lalu I Nyoman menyampaikan bahwa iya di tempatkan di Probolinggo atau harus berpisah dengan sepupunya itu, ‘Bli Made terima kasih telah mengijinkan aku tinggal di sini, aku lulus PNS dan di tempatkan di Probolinggo’, Nyoman melanjutkan percakapannya. ‘Loh penempatannya jauh sekali, kenapa bukan di sekitar Kediri saja? ‘ tanggapan bli atas beritu itu. ‘Wah kalo bisa memilih jadi guru yayasan pasti lebih bagus kan, kamu gak perlu jauh-jauh kerjanya bisa tetap tinggal sama saya di Kediri’ lanjut bli Made. I Nyoman hanya bisa tersenyum atas apa yang disampaikan bli Made itu. Menjadi Pegawai Negeri pada masa itu sebenarnya bukan pilihan terbaik untuk kebanyakan orang, mengapa?.. karena gari PNS pada masa itu tergolong kecil di bandingkan gaji dari sekolah yayasan. Menjadi guru PNS pada masa itu sesuai dengan motonya, ‘Guru adalah Pahlawan tanpa tanda Jasa’, mengabdi kepada Negara dengan resiko di tempatkan dimana saja di wilayah Indonesia, Siap ?.. !.

masa kecil

I Nyoman Benben lahir didesa Bedulu kec Belahbatuh kab. Gianyar Bali pada tanggal 10 Juni 1931. Ayahnya bernama Wayan Nombrog dan ibunya Ni Wy Klepon yang bekerja sebagai penjual nasi di warung dekat pasar. Kehidupan yang sangat sederhana dan masa penjajahan mungkin menjadi salah satu sebab sulitnya I Nyoman memiliki saudara kandung, dari empat saudara yang telah di lahirkan meme Klepon (sebutan Ibunda) hanya I Nyoman saja yang bertahan. Ada cerita lucu dalam sejarah nama ‘Benben’, yaitu berawal dari keputus asahan sang bape wayan karena setiap anak yang di lahirkan istrinya tidak bertahan lama, jadi kata ‘ben’ berarti biarkan saja. Jadi maksudnya adalah anaknya ini mau bertahan atau tidak, tak ada bedanya atau pasrah saja, wah kasiahan sekali ya.. Alhamdulilaah nama I Nyoman Benben membuat putra bape wayan panjang umur hingga 90 an, semoga sehat selalu. Bape Wayan Nombrog (sang ayah) di kenal sebagai seorang pesilat dilingkungannya. Seorang jawara atau pesilat pada masa itu memang di butuhkan, apalagi di Bali banyak sekali kegiatan keagamaan atau adat istiadat yang masih membutuhkan keamanan atau semacam pawang, sampai sekarang di sebut polisi daerah atau. Suatu ketika ada sebuah keluarga ningrat yang membutuhkan pengawal, dan ternyata bape wayanlah yang terpilih. Bape Wayan bertugas menjadi pengawal seorang putri yang bernama Tekin dari keluarga ningrat tersebut. Selama bape wayan menjadi pengawal, ternyata putri Tekin menaruh minat sehingga terjadilah pernikahan antara bape wayan dengan putri Tekin. Dari pernikahan kedua sang ayah, I Nyoman mendapatkan lima orang adik dari ibu Tekin. Kelima adik tersebut bernama Wayan Pasti, Made Pasta, Nyoman Leci, Ketut Masta dan Wayan Tengsi. Walaupun berbeda ibu, I Nyoman benben kecil tidak sulit untuk mengambil kasih sayang dari meme Tekin dan kelima saudara tirinya karena pembawaannya yang patuh, cerdas dan cakap. Tahun 1938, I Nyoman Benben bersekolah di SRN Wanayu hingga kelas III dan pindah ke SRN Gianyar pada kelas IV hingga lulus. Kecerdasan I Nyoman Benben kecil tidak hanya menarik bagi keluarga dan gurunya saja, seorang warga Belanda yang melihatnya pun tertarik untuk mengajaknya tinggal di rumahnya. Pertemuan itu terjadi ketika I Nyoman Benben kecil berjualan souvenir di tempat wisata Bedugul, tanpa diduga Tuan Belanda itu balas menyapanya dan mengajak tinggal di rumahnya Denpasar. Merasa tertarik dengan tawaran tuan Belanda ini, I Nyoman pulang menemui sang ayah dan meminta ijin untuk menerima tawaran tuan Belanda itu. ‘bape, saya mau kerja di Denpasar’, mendengar permintaan sang putra ternyata sang ayah mengijinkan dengan catatan jangan lama-lama

Menjadi Kepala seksi bidang di Inspektorat

Setelah melalui tingkatan profesi di dunia pendidikan, pada penguhujung karirnya pak Sis menempati posisi tertinggi di dunia pedidikan di wilayah Probolinggo. Posisi kepala Inspektorat atau kepala dinas Pendidikan sampai saat ini bukanlah posisi yang di pandang sebelah mata, karena untuk mencapai itu semua pasti membutuhkan penilaian yang akurat dari pusat. Kecamatan Leces dari dulu hingga sekarang masih merupakan wilayah yang jauh dari jangkauan keramaian dan pusat pemerintahan. Kalau dibandingkan dengan jumlah, intelektual dan kampasitas guru guru di wilayah lain di Probolinggo pasti jauh perbandingannya. Namun sosok pak Sis ternyata mampu melibas pamor guru-guru yang lain waktu itu, walaupun beliau berlatar dan berkedudukan di kecamatan terpencil yang bernama Leces. Pak Sis yang memiliki visi misi besar untuk dunia pendidikan tidak menyiayiakan kesempatannya untuk mengukir sejarah pendidikan. Dengan berbekal sang menantu andalan, beliau seolah mendapat energy ekstra melanjutkan cita-citanya yang mulia. Karena tangan tuhan sudah menentukan dan mempermudah segalanya dengan cara mempertemukan dia dengan sang menantu. Gebrakan pertama yang pak Sis lakukan adalah menarik sang menantu dari kecamatan terpencil Leces menuju area yang lebih luas yaitu kantor Inspektorat pendidikan. Ya, tidak lama setelah pak Sis meduduki jabatan sebagai kepala Inspektorat, beliau menarik I Nyoman untuk menjadi penilik sekolah di wilayah kota Probolinggo tepatnya daerah Kademangan. Seolah gayung bersambut, cita-cita I Nyoman yang selaras dengan tujuan mengisi kemerdekaan yaitu menyediakan saran pendidikan di seluruh warga wilayah probolinggo sesuai hak pendidikan untuk seluruh warga Probolinggo. Atas dasar kejernihan hatinya I Nyoman tidak pernah sentangah melangkah dalam menekuni dunianya. Dunia pendidikan mengantarkan I Nyoman untuk bermimpi besar di dunia pendidikan. Setelah melakukan survey di daerah Leces yang cukup jauh dari kebisingan kota, I Nyoman dapat membuat kesimpulah apa yang di butuhkan masyarakat pada umumnya yaitu sarana dan motivasi belajar mulai dari dini. Mendapatkan hak pendidikan secara merata untuk warga Negara bukan lagi semboyan belaka, menyediakan sarana pendidikan dan guru-guru sebagai lokomotifnya akan menjadi nyata dengan rancangan yang sudah lama ia siapkan. Setelah satu periode I Nyoman menekuni tugasnya sebagai penilik sekolah di kecamatan Kademangan kota Probolinggo, posisi baru sebagai kepala seksi bidang pendidikan dasar dan pra sekolah sudah menanti. Meduduki posisi sebagai kepala seksi bidang pendidikan dasar dan pra sekolah sudah melebihi ekspektasinya selama ini. Bermula dari seorang kacong Belanda, tak pernah termimpikan olehnya akan menjadi seorang kepala seksi bidang di instansi pendidikan. I Nyoman yang tidak lama menekuni tugas di wilayah kota Probolinggo sebagai penilik sekolah, kini posisinya langsung menjadi kasi, yang tidak lain sebagai kaki dan tangan kepala Instansi pendidikan atau mertuanya sendiri.

Bekerjasama Dengan Universitas Merdeka Malang

Sepak terjang I Nyoman dalam dunia pendidikan sudah bukan hal yang sulit untuk di buktikan, banyak sekali kegiatan yang ia telah lakukan untuk pendidikan. Dengan dukungan dari pabrik kertas Leces ia sangat ringan melangkah ke berbagai pelosok untuk membangkitkan minat pendidikan di masyarakat. Bermula dari teman-teman pegawai pabrik kertas Leces, I Nyoman berkenalan dengan pendiri universitas Merdeka Malang yang yang bernama bapak Sarmidi Mangun Sarkoyo. Petemuannya dengan bapak Sarmidi ternyata banyak memiliki kesamaan tentang suatu misi pada pendidikan. Pak Sarmidi memahami ke risauan I Nyoman tentang pendidikan di desa Leces terutama dalam hal sarana. Ibarat gayung bersambut, satu masalah yang selama ini menjadi beban I Nyoman sudah terselesaikan. Pak Sarmidi memfasilitasi sarana pembangunan SMP Dwikora, sehingga anak-anak yang lulus pendidikan SD Asmorobangun tidak perlu jauh-jaun ke kota Probolinggo untuk melanjutkan atau bahkan terpaksa berhenti. Tangan Tuhan selalu ada untuk niat baik, mungkin itulah ungkapan yang salama ini I Nyoman percayai. I Nyoman tidak pernah menyerah atas segala kekurangan dirinya, ketidak tersediaan SMP di desa Leces kala itu memang di luar wewenang dia sebagi seorang guru. I Nyoman sadar untuk membangun sebuah sekolah pasti membutuhkan aturan yang tidak mudah karena banyak sekali alur yang harus di lalu hingga sampai ke pusat. Kebutuhan sebuah sarana SMP yang mendesak tidak dapat segera di wujutkan, walaupun semua tahu bahwa kebutuhan pendidikan SMP ibaratkan bom waktu untuk mengisi masa kemerdekaan bahwa pendidikan adalah hak setiap warga Negara.

Seleksi Kepala Sekolah

Dua tahun I Nyoman bekerjasama dengan pak Sis dan melaksanakan tugasnya sebagai guru di SD Asmorobangun, banyak sekali kemajuan yang terjadi di sekolah maupun masyarakat di Leces. Berawal dari niat baik I Nyoman yang selalu di dukung oleh pak Sis yaitu tentang meningkatkan minat belajar masyarakat di desa Leces. Dengan cara pergi kepemukiman penduduk yang tergolong miskin dengan membagikan buku dan alat tulis gratis yang ia dapat dari sumbangan pabrik kertas Leces. Dua tahun yang ia lalui bersama pak Sis kepala sekolah adalah pelajaran berharga untuk I Nyoman. Kedewasaan dan wibawa pak Sis dalam mengambil ke putusan hingga komunikasi yang interaktif dengan berbagai kalangan sangat ia kagumi. Tidak salah jika pak Sis adalah sosok pengidola sang proklamator presiden pertama kita Ir. Soekarno. Keteguhan pak Sis dalam perjuangan bersama presiden Soekarno telah ia buktikan sebagai pengikut selama presiden di asingkan ke pulau Bima. Dan dalam perantauan itu, lahirlah putri pertamanya yang bernama Sugiarti. Salah satu kenangan berharga dalam sejarah kehidupan rumah tangganya. Setelah dua tahun belajar dengan pak Sis, akhirnya pak Sis mendapatkan tugas baru sebagai penilik sekolah atau sekarang dikenal dengan nama pengawas sekolah dan di tempatkan di kota Banyuwangi. ‘Pak Nyoman titip sekolah ya’, pak Sis membuka percakapan untuk maksud perpisahan karena tugas barunya. ‘Selama ini pak Nyoman banyak memberi teladan kepada anak-anak dan rekan guru yang lain, jangan berhenti berjuang untuk kebaikan semua’, sambung pak Sis. I Nyoman yang sudah tahu berita pengangkatan pak Sis sebagai penilik sekolah, hanya bisa mengangguk walau ada perasaan berat di tinggalkan sosok ayah yang selama ini baru ia temukan di pulau Jawa. Kepergian Pak Sis ke Banyuwangi adalah karena tugas, sama halnya seperti perpisahan ia rasakan dengan bli Made Kereg sepupunya. Bedanya bukan dirinya yang pergi, namun dirinyalah yang ditinggalkan dengan tanggung jawab cukup besar yaitu sekolah dan rumah tinggal pak Sis dan seisinya. I Nyoman yang baru dua tahun menjadi guru di SD Asmorobangun, bukanlah guru senior disana walaupun ia merasa bertanggung jawab lebih besar dari pada sebelumnya. Kekosongan seorang pemimpin di SD Asmorobangun cukup menyulitkan kelola admonistrasi di sekolah tersebut, karena semua keputusan tentu berdasarkan tingkat ke tugasan. Sementara rumah tempat tinggal atau kos I Nyoman pun seolah kehilangan induknya, karena anak-anak pak Sis harus tinggal di rumah sementara pak Sis ditemani Istri bertugas ke Banyuwangi. Selama ini seolah I Nyomanlah kakak tertua dari anak-anak pak Sis, karena pak Sis memang memperlakukan I Nyoman layaknya anak sendiri. Terutama karena putri tertua pak Sis sedang menempuh pendidikan di Surabaya. Kehadiran I Nyoman di rumah tinggal pak Sis juga merupakan teladan untuk anak-anak pak Sis hingga sekarang, melebihi kakak ipar pada umumnya. Ternyata benar apa yang katakana sepupunya Made Kereg, bahwa I Nyoman pasti di terima di manapun kamu berada karena kecerdasanmu terpancar dari hati. Satu tahun setelah di tinggal pak Sis, SD Asmorobangun mendapat kuata untuk posisi kepala sekolah dengan cara seleksi di Surabaya. Beberapa gurupun mendapat kesempatan untuk menerima tes posisi kepala sekola . Salah satu kandidatnya tentu I Nyoman benben, setelah hasil seleksi turun ternyata harapan pak Sis pun menjadi nyata bahwa I Nyoman berhasil lulus dengan nilai tertinggi. Pengangkatan I Nyoman sebagai kepala SD Asmorobangun disambut dengan suka cita oleh rekan guru dan anak didik tentunya.

SD ASMOROBANGUN

Mungkin SD Asmorobangun adalah sekolah tertua di desa Leces yang sekarang bernama SDN 1 Leces. Tidak sulit untuk mencari SD Asmorobangun, karena letaknya di tepi jalan utama yang menghubungkan kota Probolinggo dengan kabupaten Lumajang hingga kota Jember. Begitu memasuki halaman sekolah, I Nyoman tidak merasa keanehan atau sseram yang selama ini di dengarnya. Sekolah ini tidak terlalu jauh berbeda dengan kebanyakan sekolah di kota Kediri dan sekitarnya. Halaman yang luas, beberapa kelas yang cukup bagus sarananya kecuali cuaca yang memang lebih panas dari yang Nyoman bayangkan. ‘Selamat datang pak Nyoman, nama saya Siswo Soeharto, panggil saja Pak Sis’ ucap kepala sekolah memberi sambutan atas kedangan I Nyoman di sekolah nya. ‘Semoga kerasan ya selama di sini’ sambung pak Sis sembari senyum mengembang. Mendengar sambutan yang hangat untuknya, I Nyoman begitu terharu hingga tak bisa membalasan sambutan tersebut, ‘terima kasih Pak, saya senang sekali berada disini, semoga saya tidak mengecewakan’, akhirnya I Nyoman bisa membalas sambutan pak Sis. ‘Mari masuk, anggap saja di rumah sendiri, jangan sungkan kalo ada yang mau di tanyakan atau di usulkan. Kedatangan pak Nyoman sudah saya nanti-nantikan. Hahaha’, mendengar candaan yang sangat ramah, I Nyoman semakin yakin bahwa pilihannya adalah tepat. Penempatan pertamanya sebagai PNS berada di lingkungan yang tepat, dia merasa kasih seorang ayah ketika berbincang dan dekat dengan pak Sis. Hari pertama I Nyoman mengajar di SD Asmorobangun, dia mendapati anak-anak yang sudah siap untuk belajar. Ternyata ketertinggalan kabupaten Probolinggo hanya isu, begitu I Nyoman bergumam. Hal yang perlu dia lakukan adalah penyesuaian bahasa dan budaya setempat, tidak sesulit yang saya bayangkan, gumam I Nyoman sembari tersenyum. Setelah cukup lama I Nyoman berbaur dengan warga desa Leces, dia sadar bahwa kebutuhan akan sekolah memang sangat mendesak. Ternyata wali muridnya selama ini tidak mewakili warga desa Leces secara umum. Desa Leces yang letaknya cukup jauh dari pusat pemerintahan ternyatan memiliki ketimpangan status social yang cukup jauh. Anak-anak yang menjadi muridnya sebagian besar dari keluarga berada atau setidaknya mengerti tentang pendidikan. Sedangkan keluarga yang status sosialnya di bawah masih banyak yang belum mendapatkan kesempatan pendidikan bahkan tidak menaruh minat pada pendidikan. Pak Sis yang selama ini sangat komunikatif dapat menerima apa yang di sampaikan I Nyoman tentang kondisi di desa Leces. Desa Leces tergolong kaya dengan pendapatan karena ada pabrik yang berstatus BUMN dengan produksi kertasnya. Walaupun sekarang hanya meninggalkan besi tua dan hutang pesangon pegawainya karena pengelolaan yang amburadul dengan hutang yang tinggi. ‘Jumlah sekolah di desa Leces waktu itu sangat kurang pak’, I Nyoman menyampaikan usulnya untuk mendirikan sekolah SMP dan SMA di sana. Kasihan anak-anak harus sekolah ke kota Probolinggo dengan jarak sekitar 8-9 Km’. Karena inilah yang menyebabkan sebagian besar anak-anak di desa Leces hanya lulus sampai SD, apalagi yang tidak sempat sekolah sama sekali.

Tinggal Di Rumah Kepala Sekolah

Pak Sis kepala sekolah adalah tokoh yang cukup di segani kala itu, baik di lingkungan rumah tinggal, di instansi pendidikan bahkan di pemerintahan. Pak Sis memiliki seorang istri dan 10 orang anak, tiga laki-laki dan tujuh perempuan. Anak pertama pak Sis adalah seorang gadis yang bernama Sugiarti. Sugiarti dilingkungan keluarganya di kenal galak bahkan melebih ayahnya, mungkin karena ia merasa memiliki tanggung jawabnya yang besar dan menjadi panutan adik-adiknya. Kala itu Sugiarti masih menempuh pendidikan Sekolah menengah keputrian di Surabaya dan menetap dan asrama Surabaya. Seminggu sekali biasanya Sugiarti pulang untuk melepas kangen dengan orang tua dan adik-adiknya di rumah. Sebagai anak tertua, kehadiran Sugiarti memang sangat di butuhkan ibunya yang telah cukup sibuk mengurus anak-anaknya yang lain. Hal yang pasti terjadi adalah adik-adik Sugiarti pasti tampak lebih sibuk menyambut kedatangan sang kakak terutama tentang kerapian rumah. Kedua adik perempuan Sugiarti yang bernama Lilik dan Suci biasanya hanya diam dan mengangguk ketika Sugiarti berbicara apalagi memerintah. Karena mereka paham bahwa sang ibu sedang sibuk dengan kedua adik kecil mereka ninik dan nunuk. Ninik dan Nunukpun merasakan kasih sayang kakak Sugiarati bagai ibu kedua mereka, mungkin karena tautan usianya yang cukup jauh. Kehadiran I Nyoman di rumah pak Sis di terima dengan suka cita, terutama tetika pak Sis harus pindah tugas ke Banyuwangi. Begitupun I Nyoman merasakan hal yang sama, terutama karena ketiga putra pak Sis yang sudah cukup besar dapat menjadi temannya sehari-hari. Sugiharto putra kedua pak Sis yang kala itu sudah bekerja di pabrik kertas Leces menjadi teman ngobrol yang pas. hingga akhirnya membantu I nyoman mendirikan beberapa sekolah swasta.

SELALU RAPI

Sebuah rumah di tepi jalan besar bagi kebanyakan orang adalah suatu impian, begitupun rumah bapak I Nyoman Benben yang beralamat di Jl. Hos Cokroaminoto no. 38 Kota Probolinggo. Dengan luas tanah 11 x40 m dan 1/3 di pake untuk bangunan rumah tampak serasi dan cocok di sebut rumah sehat. Beberapa murid saya pun jika berkunjung kesini selalu membawa senjata selfinya yaitu tongsis dan kamera. Hamparan rumput halus di halaman depan dan tengah belakang seolah tidak mau kalah dengan ke elokan relief Bali yang di sisi dinding pagar. Keseharian bapak semasa pensiun adalah berkebun dan menata rumah tinggalnya. Seolah tak ada hal yang terlewatkan dari jangkauan bapak hingga sehelai rumput pun tak lepas dari pengawasannya. Mulai dari cat dinding, pagar, paving dan tanaman yang mengisi halaman rumahnya pun harus sesuai dengan selera bapak, bukan alasan mahal atau tren suatu tanaman namun selera dan keserasian. Di bagian dalam rumah apalagi, perabot besar dan kecil tertata asri dan rapi sehingga membuat betah setiap orang yang berkunjung ke rumahnya. Setiap tamu yang datang selalu memuji ke elokann rumah bapak I Nyoman Benben ini. Saya sebagai pendatang sangat bersyukur menjadi penghuni tetap rumah ini, karena pujian padaku tak dapat di elakkan ketika tamu datang berkunjung. Sepeninggal ibu mertua, akulah wanita tercantik penghuni rumah itu, karena kedua anaku laki-laki dan yang lain adalah suami dan bapak mertuaku tercinta. Kerapian tatanan rumah bagian dalam tak pernah menyibukkanku, ibaratnya kerapian ini segera terjadi secepat aku membuka mataku. (Luar biasa…). Kedua putraku juga bukan anak yang rewel, ketika mainannya yang belum seminggu di beli menjadi bersih tak tersisa, bersih dan cemerlang karena sudah jadi penghuni gudang. Seperti mereka mengerti kebiasaan eyangnya, mengetahui mainannya lenyap anak-anaku memilih menghibur diri dengan membuat mainan sendiri dari karton yang di gambar dan di gunting. Tanpa malu-malu mereka selalu memamerkan kreasinya kepada tamu, ‘Nih aku punya Hp baru’, kata adit yang berumur tiga tahun dengan menunjukan kotak karton terbalik dan sudah di beri angka tombol Hp. Inilah surgaku sebagai ibu muda, Alhamdulillah. Sekitar satu minggu setiap hari raya Idul Fitri, kami selalu kedatangan tamu terutama sepupu suami untuk sungkem kepada sesepuh keluarga yaitu bapak mertuaku I Nyoman Benben. Tempat favorit mereka jika bertandang ke rumah adalah teras belakang yang menghubungkan ruang makan dan dapur. Teras itu dapat menampung sekitar sepuluh orang, dengan selonjor di lantai keramik atau merebahkan kepalanya sambil memandang langit. Anak-anak yang berkunjungpun tidak kalah seru berada di rumah itu karena mereka dapat menyibukan diri dengan memberikan ikan Koi atau sekedar menghitung belalang dan siput di taman.

Jumat, 10 April 2020

Menjadi PNS

Setelah tamat dari SGA Dhoho, I Nyoman diterima mengajar di SGB Katholik pada pelajaran berhitung dan olah raga di SMP Louist. Pada waktu itu sekolah swasta dengan yayasan Kristen atau Katholik adalah sekolah elite dan favorit untuk guru-guru. Guru-guru pemula sampai guru negeri seolah saling berkompetisi untuk dapat mengajar di sekolah tersebut. Pada jaman dulu guru negeri di perbolehkan untuk mencari jam tambahan di luar sekolah induknya, mungkin pertimbangan dari kelangkaan jumlah guru pada waktu itu. Dan kesempatan ini tentu di manfaatkan untuk menambah pundi-pundi penghasilan setiap guru. Begitupun para wali murid yang terdiri dari golongan menengah ke atas atau golongan pengusaha biasanya memilih sekolah swasta tersebut karena mengejar gengsi dan terkenal sekolah mahal. Warga keturunan Cina dan Belanda sudah pasti memilih sekolah itu juga atas pertimbangan menghindari pelajaran agama Islam di sekolah negeri atau swasta nasional. Karir I Nyoman sebagai seorang guru ternyata mendapat simpatik dari Suster kepala atau kepala yayasan di sekolah tersebut. Diantara persaingan yang cukup berat dari rekan kerjanya, I Nyoman menjadi salah satu kandidat yang mendapat tawaran sebagai guru tetap di yayasan. Menjadi seorang guru tetap yayasan adalah impian semua guru, karena mendapat fasilitas dan gaji lebih baik dari pada guru tidak tetap. Namun di tengah kebimbangan yang ia rasakan, ternyata I Nyoman lebih memilih menjadi guru tidak tetap karena ia bisa leluasa membagi ilmunya dengan lebih luas lagi yaitu dengan mengajar di sekolah lain. Pilihan I Nyoman menolak menjadi guru yayasan ternyata tepat, karena tidak lama kemudian dia mendapatkan SK mengangkatan sebagai Pegawai Negeri. Status barunya sebagai pegawai negeri membuat I Nyoman mengungkapkan rasa syukurnya yang tak terhingga kepada sang pencipta. Perjuangan dan pengormabannya selama ini telah berbuah hasil yaitu menjadi pegawai negeri yang pasti akan membuat meme dan bapenya bangga. Tidak lupa I Nyoman sampaikan juga kabar gembira ini kepada sepupunya yang selama ini telah menjadi penjaganya selama di Jawa. ‘Bli, aku mendapat mengangkatan menjadi pegawai negeri’, ucap Nyoman membuka percakapan. ‘Oh ya?.. selamat ya’ jawab bli Made. ‘Akhirnya perjuanganmu selama ini berbuah hasil, kamu jadi pegawai negeri dan kehidupanmu sudah di jamin oleh negara’ lanjut bli Made. Lalu I Nyoman menyampaikan bahwa iya di tempatkan di Probolinggo atau harus berpisah dengan sepupunya itu, ‘Loh penempatannya jauh sekali, kenapa bukan di sekitar Kediri saja? ‘ tanggapan bli atas beritu itu. ‘ Wah kalo bisa memilih jadi guru yayasan pasti lebih bagus kan kamu gak perlu jauh-jauh kerjanya bisa tetap tinggal sama saya’ lanjut bli Made. I Nyoman hanya bisa tersenyum atas apa yang disampaikan bli Made itu. Menjadi Pegawai Negeri pada masa itu sebenarnya bukan pilihan terbaik untuk kebanyakan orang, mengapa?.. karena gari PNS pada masa itu tergolong kecil di bandingkan gaji dari sekolah yayasan. Menjadi guru PNS pada masa itu sesuai dengan motonya, ‘Guru adalah Pahlawan tanpa tanda Jasa’, mengabdi kepada Negara dengan resiko di tempatkan dimana saja di wilayah Indonesia, Siap ?.. !.

Pindah ke Probolinggo

Turunnya SK pengangkatan Pegawai Negeri ternyata membuat I Nyoman harus pergi meninggalkan kota Kediri. Kota Kediri yang telah berjasa mengantarkan dia menyelesaikan pendidikan menengah hingga menjadi guru pilihan. Keberhasilan I Nyoman menjadi guru PNS harus di bayar dengan penempatan di SD Asmoro bangun Leces tepatnya di kabupaten Probolinggo. Tidak banyak yang I Nyoman ketahui tentang kabupaten Probolinggo kecuali lingkungan dan bahasanya yang mayoritas Madura. Walaupun jarak tempuh antara Kediri dan Probolinggo sekitar dua jam, namun menurut I Nyoman cukup banyak perbedaan yang ia rasakan. I Nyoman yang merasa kota Kediri sebagai kampung halamannya yang kedua, kini dia harus kembali memulai dari awal belajar budaya dan bahasa di Probolinggo. Dengan SK di tangan, I Nyoman berpamitan dengan Made Kereg sepupunya, ‘bli Made terima kasih telah mengijinkan aku tinggal di sini, aku lulus PNS dan di tempatkan di Probolinggo’, Nyoman memulai percakapan. Made Kereg yang mengetahui penolakan I Nyoman untuk menjadi guru yayasan sebenarnya menyayangkan keputusan I Nyoman. Namun Made Kereg pasrah karena ini sudah menjadi jalan hidup I Nyoman. ‘ Iya Nyoman, dulu bape mu menitipkan kau padaku’ jawaban Made, ‘nah sekarang tugasku sudah selesai karena kau pergi atas tugasmu sebagai guru yang harus mengabdi pada negara’ dengan senyum yang mengebang di di bibirnya. Karena ada kekhawatiran, Made pun menuangkan isi hatinya ‘Nyoman apa kau punya teman di Probolinggo?’ kata Made, ‘Tidak! ‘ balas I Nyoman. Kemudian Made melanjutkan perbincangan ini ‘ Apa kau tahu tentang daerah itu?’, iya lah sedikit, kenapa bli?.. balas I Nyoman sembari tersenyum. Seolah sudah tahu apa yang di risaukan sepupunya, I Nyoman coba menenangkan, ‘ Sudahlah bli, saya datang ke Kediri dengan kemauan saya sendiri walaupun saya dulu masih bocah’ ucap Nyoman, ‘Nah sekarang apalagi, saya sudah menjadi guru yang selalu menasehati murid yang baik-baik, untuk tidak jadi penakut, masa saya sendiri menjadi takut ke Probolinggo’ tambah Nyoman dengan senyum yang lebih lepas. ‘Saya sudah dengar tentang Probolinggo, katanya orangnya kasar-kasar, suka bawa golok, suka berkelahi dan lain-lain’ , ucap Nyoman ‘Tapi aku kesana kan sudah ada tujuannya, aku gak perlu cari-cari tempat lagi dan ada orang yang bertanggung jawab selama aku di sana’, I Nyoman melanjutkan perbincangannya. ‘Bli jangan risau ya.. dan kalo bape tanya macem-macem katakana saja yang baik-baik. Dengan senyum pula, Bli Made memegang bahu Nyoman, ‘Iya Nyoman aku tahu, kamu pasti bisa jadi orang Probolinggo’, ucap bli Made. ‘Kamu orang piter, pasti di terima di mana saja’ lanjut Made. ‘Jangan lupa kamu minta restu ke bape dan meme di Bali’, nasehat Made. ‘ Iya bli, terima kasih ya’, I Nyoman membenarkan nasehat bli Made. I Nyoman Benben mengawali karirnya sebagai guru PNS pada tahun 1958 dan di tempatkan di SRN Asmorobangun Leces Kabupaten Probolinggo. Probolinggo adalah salah satu daerah tapal kuda di Jawa timur, tidak banyak yang I Nyoman ketahui tentang Probolinggo selain mayoritas penduduknya berbahasa Madura. Probolinggo juga di kenal sebagai daerah pesisir karena letaknya di sebelah utara pulau Jawa bagian Timur. Probolinggo terdiri dari dua bagian yaitu Probolinggo bagian kota dan Probolinggo kabupaten, dan desa Leces letaknya di kabupaten Probolinggo bagian selatan. Pak Sis sebutan dari bapak Siswo soeharto kepala sekolah SD Asmorobangun dimana I Nyoman di tempatkan. Kedatangan I Nyoman di SRN Asmorobangun sangat membantu Pak Sis, apalagi tinggal kost di rumahnya pula. Dua tahun kemudian atau tahun 1960 Pak Sis di pindah tugas sebagai penilik di wilayah Genteng Banyuwangi dan posisi kepala sekolah SRN Asmorobangun terpaksa kosong. Selama satu tahun SRN Asmorobangun tanpa Kepala Sekolah, akhirnya I Nyoman Benben diangkat sebagai Kepala Sekolah pada tahun 1961 melalui seleksi di Surabaya.

Minggu, 05 April 2020

Daftar isi

I Nyoman Benben dan geliat pendidikan di Probolinggo 1. Cerita lebaran 2. Masa kecil 3. Kacong Belanda 4. Masa pendidikan 5. Menjadi PNS 6. pindah ke Probolinggo 7. Lingkungan dan bahasa yang berbeda 8. Selalu rapi 9. Tinggal di rumah kepala sekolah 10. SD Asmoro bangun 11. Berjodoh dengan anak kepala sekolah 12. seleksi kepala sekolah 13. Menjadi kepala sekolah 14. bekerjasama dengan rektor universitas merdeka Malang 15. Mendirikan sekolah Pertiwi 16. masa PKI 17. keterkaitan sang mertua dengan Presiden Soekarno 18. kelahiran putra yang prematur 19. Pindah tugas ke sekolah SD sawonggaleng 20. numpang tinggal di sekolah 21. Membangun rumah tinggal 22. Menjadi kepala dinas pendidikan 23. Membangun kantor dinas pendidikan 24. Kedatangan tamu presiden 25. Menolak beasiswa 26. Menolak pangkat tertinggi 27. Menjadi ketua PGRI 28. Penghargaan dari presiden 29. Masa pensiun 30. Mendirikan organisasi karangwreda 31. Kepergian istri

Selasa, 31 Maret 2020

KARYAKU

TERIMA KASIH ATAS ILMU DAN MOTIFASI SELAMA INI KUTOREHKAN PRASASTI MELALUI KARYAKU ADAKAH TEMPAT UNTUKKU MENUANGKAN KARYA KU MENAMPILKAN KARYA SISWA AREA TAMU, MEMBUATKU BANGGA

KESEHATAN SEKOLAH

UKS MENJADI SIMBOL SEKOLAH DAN MERUPAKAN CERMIN KESEHATAN SEKOLAH SARANA UKS MERUPAKAN UPAYA SEKOLAH MENCIPTAKAN SEKOLAH SEHAT SALING BERSINERGI MENGGALAKKAN SEKOLAH SEHAT DAN SEHAT BERSAMA

KOMPUTERISASI

KOMPUTERISASI ADALAH KEBUTUHAN DI ERA GLOBALISASI HAMPIR DISEGALA BIDANG DALAM KEHIDUPAN BERGANTUNG PADA KOMPUTERISASI BUATLAH PUSAT KOMPUTERISASI YANG STRATEGIS LIBATKAN SELURUH PIHAK DAN SISWA DALAM MEMENUHI KEBUTUHAN INFORMASI SEKOLAH

LABORATORIUM

LABORATORIUM ADALAH TEMPAT MENGAPLIKASIKAN ILMU YANG DIDAPAT DARI PEMBELAJARAN DIBUTUHKAN MEDIA DAN SARAN YANG MENDUKUNG UNTUK KEGIATAN PEMBELAJARAN YANG SESUAI DENGAN BIDANG YANG SAMA LABORATORIUM BERTUJUAN UNTUK MEMENUHI KEBUTUHAN DI BIDANG MEDIA DAN SARANA DIBUTUHKAN PERAN DAN DUKUNGAN SEMUA PIHAK AGAR TERCIPTA HASIL YANG MAKSIMAL

PEPUSTAKAAN

BANYAK HAL YANG TERKANDUNG DARI DERETAN BUKU DI PERPUSTAKAAN. JIKA KAU MAU DATANG KE PERPUSTAKAAN, MAKA AKAN KAU DAPATI HAL YANG JAUH DARI YANG KAU DUGA PERPUSTAKAAN ADALAH SUMBER SEGALA ILMU.. ILMU YANG DI GALI OLEH LELUHUR DARI SEGALA PENJURU.. DATANGLAH KAU... MAKA KAU AKAN TAHU... PERPUSTAKAAN TEMPATMU MENCARI ILMU

KANTINKU

DI SEKOLAH AKU TUMBUH DAN MENUNTUT ILMU UNTUK MENGGAPAI CITAKU DALAM AKTIFITAS KESEHARIAN, AKU MEMBUTUHKAN ASUPAN MAKANAN DAN KETENANGAN DALAM MENJALANI KEGIATANKU KANTIN ADALAH TEMPATKU MEMENUHI KEBUTUHAN RAGA SEHINGGA TIDAK MENGURANGI KEGIATANKU BERAKTIFITAS CIPTAKAN KETERATURAN DAN KECUKUPAN DALAM MENGKONSUNSI MAKANAN SEHAT

SARANA IBADAH

SEGALA YANG KUJALANI, DALAM LINGKUP RUANG DAN WAKTU.. IBADAH ADALAH PEGANGANKU TEMPAT IBADAH ADALAH TAMPAT TINGGAL BATINKU, SETELAH MELAKUKAN AKTIFITAS KESEHARIAN MATAKU MENJADI REDUP KETIKA KULIHAT MUSHOLLAH KUMANDANG ADZAN BAGAI BUTIRAN EMBUN YANG MELULUHKAN KERESAHAN HATIKU

KREASI TAK BERBATAS

MASA MUDA HANYA SEKALI, EKSPRESI ADALAH GEJOLAK JIWA MUDA YANG TUMBUH SEIRING LETUPAN GELORA MUDA YANG MEMBARA BERILAH KAMI WADAH UNTUK BEREKSPRISI DAN BERKARYA SEBAGAI PRASASTI DARI KAMI KARYA TERBANGUN MULAI DARI JIWA, TANPA BATAS RUANG DAN WAKTU EKSPRESI, KREASI DAN SENI DAPAT DICIPTAKAN MELALUI NIAT YANG MURNI

FUNGSI TOGA

KEMBALI KE ALAM, BUKANLAH SEKEDAR SLOGAN... ALAM MEMBERI KITA SUMBER KEHIDUPAN; UDARA, AIR, TANAH DAN SELURUH YANG ADA DIDALAMNYA MENGKONSUMSI BAHAN ALAMI KINI MENJADI GAYA HIDUP, BUKAN LAGI PERBEDAAN DI KOTA DAN DI DESA MEMBUAT TAMAN DENGAN TANAMAN TOGA MEMILIKI BANYAK MANFAAT

GEMA SMASA

GEMA SMASA TAK SEBATAS JANGKAUAN KITA, DILUAR SANA... SMASA MENJADI BAROMETER INTELIGENT GENERASI MUDA WAHAI WARGA SMASA TANAMKANLAH BUDI PEKERTI DI SETIAP LANGKAHMU.. PEGANG TEGUH IMAN DAN TAQWA SEBARKANLAH AROMA SEMERBAK DI SETIAP TUTUR KATA ITULAH SUMBANGSIH YANG TIADA TARA

TAMANKU SEJUKKAN AKU

ALAM ADALAH BAGIAN DARI HIDUP KITA TIDAK SULIT UNTUK MENCIPTAKAN LINGKUNGAN YANG ALAMI DI SEKITAR KITA BERILAH NUANSA ALAMI DISISI LINGKUNGAN DAN RUANG KITA BUATLAH DIA TUMBUH LAYAKNYA BAGIAN DARI KITA MAKA DIA PUN AKAN MEMBERIMU HIDUP, DAN MENGINGATKANMU AKAN HIDUP

Memandang Hutan Ku Mengangkasa

MELEPASKAN PANDANGAN KE ALAM TERBUKA MEMBUATKU SEJUK, RINDANG DAN NYAMAN.. TIADA LELAHKU DISINI... WALAU KELETIHAN MELIPUTI JIWA RAGAKU CIPTAKANLAH HUTAN DAN ANEKA TUMBUHAN DISEKITAR KITA KARENA HUTAN MEMBERI KITA HIDUP

Masa Pendidikan I Nyoman Benben

Kecintaan I Nyoman pada dunia pendidikan telah tampak sedari kecil, walaupun harus di lalui dengan jalan yang berliku. Pendidikan dasar I Nyoman di selesaikan di dua tempat pendidikan yaitu di SRN Wanayu hingga kelas III dan SRN Gianyar dari kelas IV hingga lulus. SRN Wanayu yang letaknya di dusun kecil sekitar tempat tinggalnya tidak memiliki fasilitas dan pengajar yang memenuhi menurutnya. Dan pada kelas IV bape dan meme menuruti kemauan I Nyoman pindah ke SRN Gianyar yang letaknya di luar dusun dengan jarak tempuh sekitas 3 Km. keseharian I Nyoman adalah belajar, bersekolah dan membantu memenya di warung makan, dan tampaknya bakat silat sang ayah belum menarik minat I Nyoman. Setelah enam tahun menempuh pendidikan dasar, I Nyoman mengisi waktunya dengan berjualan souvenir untuk menyambung hidupnya. Dan pertemuannya dengan menir Belanda membuat dia kembali memikirkan tujuan hidupnya yaitu melanjutkan sekolah yang sempat terhenti dua tahun. Dengan berbekal tabungan yang ia dapatkan selama jadi kacong Belanda, I Nyoman mantap melanjutkan pendidikan lanjutan pertama dengan uang hasil kerjanya sendiri. Selama menempuh pendidikan SMP I Nyoman mengisi waktunya dengan bekerja sebagai juru tulis pajak sawah yang tempatnya di daerah Tapak Siring. Menjadi juru tulis pajak, membuat I Nyoman sering ke pergi tempat-tempat baru dan bertemu banyak orang mulai dari petani hingga petinggi kantor. Berbekal ketekunan, kejujuran dan patuh pada perintah, I Nyoman banyak mendapat simpatik dari rekan kerja hingga atasan yang usianya jauh di atasnya. Profesi barunya ini ternyata membuat I Nyoman sibuk dan hampir lupa dangan pendidikannya, mungkin karena ia terlalu senang dengan pekerjaannya yang merupakan pekerjaan terbaik yang ia dapatkan selama di Bali. Kenyamanan yang dia dapatkan selama menjadi juru tulis pajak akhirnya ia tinggalkan, karena dia sadar bahwa dia harus mampu mengangkat martabatnya dan orang tuanya dengan bekal pendidikan yang lebih tinggi. Pendidikan SMP yang ia tempuh di Bali mungkin kurang menantang untuk ukuran I Nyoman, sehingga tahun 1950 dia memutuskan untuk hijrah ke pulau Jawa mengikuti sepupu. Sepupunya yang bernama I Made Kereg sudah cukup lama tinggal di Kediri tepatnya di desa Balowerti dan di situlah I Nyoman menetap untuk melanjutkan pendidikan SMP nya. Menempuh pendidikan di pulau jawa bagi anak Bali adalah impian terbesar, hal ini karena pulau jawa memang sudah terkenal lebih maju dalam segala hal termasuk pendidikan. I Nyoman menempuh pendidikan di Jawa tentunya dengan tantangan dan persaingan lebih besar dari pada di Bali, mulai Kurikulumnya, pengajarnya hingga hingga jumlah temannya yang lebih banyak dari pada di SMP Bali. Dan tantangan ini tidak membuat I Nyoman menyerah walau banyak keterbatasan yang ia alami yaitu tinggal jauh dari orang tua dan biaya hidup sudah menipis. Menetap di Kediri dengan menempuh pendidikan SMP dan membayar kost tempat tinggalnya membutuhkan biaya cukup tinggi menurut I Nyoman, sehingga ia memutuskan bekerja untuk menyambung hidup. Pekerjaan awal yang ia dapatkan di pulau jawa adalah menjadi tukang parkir di pemandian Sumber Kuak. Menjadi tukang parkir adalah profesi pertama I Nyoman selama tinggal di pulau Jawa, tanpa mengenal gengsi ia lakukan tugasnya setelah pulang sekolah. Menjadi tukang parkir mungkin salah satu kunci sukses I Nyoman dalam menempuh pedidikan di pulau Jawa, karena ia bisa fokus belajar sambil menekuni perkerjaan tersebut. Hal ini berbeda ketika I Nyoman merasakan kemanjaan selama jadi kacong Belanda dan kelebihan materi ketika menjadi juru tulis pajak sawah, menjadi tukang parkir dengan penghasilan seadanya ternyata membuatnya lebih fokus pada pendidikannya. Setelah menempuh pendidikan di SMP Kemauan dan SGA Dhoho Kediri, I Nyoman diterima mengajar pelajaran berhitung di SGB Katholik dan mengajar Olah raga di Saint Louist Kediri.

Senin, 30 Maret 2020

KACONG BELANDA

I Nyoman kecil yang cerdas tidak pernah takut atau malu mengahapi sesuatu baru sepanjang itu di jalan yang benar. Berbicara dengan menir Belanda mungkin hal yang menakutkan untuk orang lain, namun bagi I Nyoman kecil, menawarkan souvenir dagangannya kepada menir Belanda merupakan tantangan untuk mendapat sesuap nasi. I Nyoman kecil tidak ragu menyapa menir belanda yang berwisata bersama keluarga di Bedugul . dan sikap ramahnya telah membuat menir Belanda jatuh hati padanya. Menir Belanda ini memiliki seorang anak perempuan bernama Elsie berusia tujuh tahun, sebagai seorang asing Elasie tidak memiliki teman bermain. Pertemuan Elsie dengan I Nyoman kecil membuat sang menir senang karena telah menemukan teman yang tepat untuk putri kesayangannya. Menir pun menawarkan I Nyoman untuk ikut dan tinggal di rumahnya di Denpasar, ‘Iya Menir saya bilang bape dulu’ jawab I Nyoman. Dengan berbekal alamat yang di dapat dari menir, I Nyoman pun pulang menemui bape dan meminta ijin, ‘Oh yaya coba saja’ jawab bape kepada putranya. ‘Gimana nanti mondoknya?’ lanjut bape, oh ya nanti ada konconya bapak Tegek di Denpasar’. Setelah mendapatkan ijin dari bape Wayan, I Nyoman pun berangkat ke Denpasar pada ke esokan harinya dengan mondok di rumah bapak Tegek sesuai saran bapenya. I Nyoman pun bekerja di rumah menir Belanda sebagai kacong atau pesuruh dengan waktu kerja dari jam 6 pagi hingga jam 6 sore. Setiap datang pagi hari, I Nyoman langsung mendapat jatah makan pagi yang mewah di rumah menir, dengan perlakuan yang baik dari seisi rumah. Ada beberapa pembantu di rumah menir tersebut, ada yang bertugas memasak, bersih-bersih dan sopir sehingga kedatangan I Nyoman disana hamper tidak ada pekerjaan yang wajib ia lakukan. ‘Kacong.. ayo main..’ itu seruan Elsie putri menir setiap hari kepada I Nyoman dan permainan favoritnya adalah bulu tangkis. Selama dua tahun I Nyoman menjadi kacong Belanda tidak membuat dia lalai dengan kemanjaan yang ia rasakan di rumah menir Belanda. Mengukir waktu untuk masa depannya pun iya lalui dengan melanjutkan sekolah ke jenjang pendidikan lanjutan.

Masa Kecil I Nyoman Benben

I Nyoman Benben lahir didesa Bedulu kec Belahbatuh kab. Gianyar Bali pada tanggal 10 Juni 1931. Dari ayah Wayan Nombrog dan ibu Ni Wy Klepon yang bekerja sebagai penjual nasi di warung dekat pasar. Kehidupan yang sangat sederhana dan masa penjajahan Belanda mungkin menjadi salah satu sebab sulitnya I Nyoman memiliki saudara kandung, dari empat saudara yang telah di lahirkan meme Klepon (sebutan Ibunda Klepon ) hanya I Nyoman saja yang bertahan. Wayan Nombrog (sang ayah) yang hidup sederhana namun di kenal sebagai keluarga pesilat telah menarik perhatian seorang gadis ningrat yang bernama meme Tekin. Sehingga Wayan Nombrok di angkat menjadi pengawal dan kemudian di nikahi oleh meme Tekin, dari pernikahan kedua sang ayah I Nyoman mendapatkan lima orang adik beda ibu. Kelima adik tersebut bernama Wayan Pasti, Made Pasta, Nyoman Leci, Ketut Masta dan Wayan Tengsi. Walaupun berbeda ibu, I Nyoman benben tidak sulit untuk mengambil kasih sayang dari meme Teki karena pembawaannya yang patuh, cerdas dan cakap. Tahun 1938, I Nyoman Benben bersekolah di SRN Wanayu hingga kelas III, kelas IV pindah ke SRN Gianyar dan lulus tertanggal 10 Juli 1946 Kecerdasan I Nyoman Benben kecil tidak hanya menarik bagi keluarga dan gurunya saja, seorang warga Belanda yang melihatnya pun tertarik untuk mengajaknya tinggal di rumahnya. Pertemuan itu terjadi ketika si Belanda itu bertemu I Nyoman Benben kecil di tempat wisata Bedugul sedang menawarkan souvenir dagangannya. Tanpa diduga Si Belanda balas menyapa tawaran I Nyoman Benben kecil untuk membawanya menemui sang ayah dan meminta ijin atas tawaran si Belanda tersebut. ‘bape, saya mau kerja di Denpasar, mendengar permintaan sang putera ternyata sang ayah mengijinkan dengan catatan jangan lama-lama.

CERITA LEBARAN

Dengan ramah dan banyak tersenyum bapak menerima tamu yang datang dan pergi dari rumah. Setiap lebaran tiba kami harus siap menerima kedatangan tamu biasanya di mulai dari tetangga di sekitar rumah, hingga saudara dari luar kota. “Pak Nyoman sehat? “ selalu itu yang terdengar dari para tamu ketika bersilaturahmi ke rumah, bahkan banyak yang memuji bahwa wajah bapak tampak lebih muda dari usianya yang mendekati 90. “ Ya biasa saja, orang tua ya begini saja” jawab bapak menjawab pertanyaan tamu sambil mengulurkan tangan dan mengucap minal aidzin wal faizin. Hari lebaran merupakan momen special buat bapak, walaupun beliau seorang mualaf namun penghargaannya terhadap arti hari kemenangan umat muslim perlu di contoh. Bagaimana berbagi rejeki dengan sesama, menyiapkan angpau untuk anak2 yang datang kerumah hingga menyiapkan souvenir berupa sarung, jarik, daster dan kue lebaran untuk orang2 tertentu yang sudah beliau siapkan. Di ruang tamu yang berukuran cukup lebar bapak selalu siap menyambut tamu dengan senyum yang selalu merekah di bibirnya walau tampak garis2 usia di sekitar wajahnya namun rona merah di pipinya menunjukkan kondisi fisik dan psikisnya cukup baik. “Pak Nyoman lebih sehat sekarang, resepnya apa pak?” ucap tetangga yang usianya kisaran 60 tahun. Kalo saya sekarang rutin minum herbal inilah langganan dokter saraf inilah dan lain2, itu komentar seorang tetangga yang sedang silaturahmi ke rumah. Seperti biasa bapak selalu membalas dengan senyum setiap pujian yang di terima Sementara saya mempersilahkan tamu yang datang dan pergi, tidak lupa harus sigap pula menyiapak an hidangan secukupnya karena lebaran merupakan lebaran untuk pembantu rumah juga, jadi semua kebutuhan selama lebaran ya harus di kerjakan sendiri. Bapak merupakan seorang tokoh yang cukup di kenal di lingkungan kami tepatnya kelurahan Kanigaran RT 02 Rw 10. Banyak sekali teladan yang telah beliau toreh di lingkungan kami terutama karena beliau bijaksana, ringan tangan dan suka membantu warga yang kesusahan. Disamping itu itu dari segi usia beliau juga memiliki urutan pertama pada data kependudukan karena memang usianya paling banyak di antara yang lain.