Jumat, 24 April 2020

JALAN YANG BERLIKU

Keberhasilan pak Nyoman menjadi teladan di lingkungan pendidikan kota Probalinggo selama menjadi penilik sekolah ternyata tidak berlaku ketika menduduki posisi barunya sebagai kepala seksi bidang di instansi pendidikan. Perjalanan karir yang selama ini berjalan dengan manis, sekarang adalah masa sulit, corak terjal dan berliku menghampiri perjuangannya. Wilayah probolinggo yang terdiri dari dua bagian, yaitu kota dan kabupaten merupakan daerah yang luas dengan berbagai kondisi alam yang menantang dan ragam budaya yang komplek. Tanggung jawab tugas pak Nyoman sebagai kepala seksi bidang pendidikan dasar dan prasekolah, ternyata tidak semuda tugas-tugasnya selama ini. Kecamatan Leces tempat pertama beliau memulai perjuangannya ternyata hanya sebagian tempat kecil di lingkungan wilayah Probolinggo karena wilayah kabupaten Probolinggo ternyata memiliki luas sekitar 1.696 Km2. Sementara luas kota Probolinggo tempat beliau menebarkan semangatnya hanya seluas 56,67Km2 . Jadi bisa di bayangkan nilai 56,.. berapa kali lipat dari 1.696 ? .. Kemudahan tugaspak Nyoman selama di kota Probolinggo adalah karena lokasi wilayahnya tidak merepotkan yaitu memiliki luas terjangkau dengan dataran yang rata, jadi untuk melakukan sidak atau pengawasan cukup dilakukan dengan waktu sehari. Berbeda dengan wilayah kabupaten Probolinggo, dengan luas wilayah seperti itu ternyata letaknya juga terpencar yaitu di sebelah selatan, barat dan timur dari kota Probolinggo atau mengelilingi kota Probolinggo. Selain lokasinya yang sangat luas, kabupaten Probolinggo juga memiliki geografis yang berbeda yaitu dataran rendah atau tanah pesisir di sebelah utara di sepanjang bagian paling barat hingga paling timur kabupaten Probolinggo; daerah perbukitan di sekitar kaki gunung Semeru, pegunungan Tengger dan sisi bagian timur gunung Lamongan; dan terakhir daerah pegunungan di sekitar pegunungan Tengger dan pegunungan Argopuro. I Nyoman percaya usaha tak akan membohongi hasil, dengan memahami letak geografis dan mata pencaharian penduduk setempat, saya pasti bisa menyelesaikan tugas ini, gumamnya. Melaksanakan misi ‘menyediakan sarana pendidikan dan memotivasi warga Probolinggo untuk belajar’ mulai berjalan tentunya dengan bantuan para penilik sekolah. Satu kendala lagi yang menjadi masalah adalah keterbatasan guru dan penilik sekolah, kurangnya motivasi belajar pada penduduk di probolinggo menyebabkan kurangnya sumberdaya manusia penggerak misinya. Salah satu cara untuk menyediakan guru dan penilik sekolah adalah dengan meminta kuota dari pusat melalui seleksi PNS. Ketika guru baru sudah hadir, seperti yang beliau bayangkan selama ini yaitu di dominasi kaum urban seperti kota Malang, Surabaya, Kediri, Jombang, Magetan dan wilayah lain sekitar Jawa Timur. Kehadiran guru urban memiliki nilai plus dan minus, nilai plusnya adalah kwalitas SDM yang sudah bagus karena berasal dari pendidikan tinggi, sedangkan nilai minusnya adalah karena bukan dari Probolinggo maka kurang siap menghadapi kultur budaya di kabupaten Probolinggo yang beragam. Sehingga langkah pertama adalah membuat guru urban tersebut betah untuk tinggal di wilayah Probolinggo sesuai pilihannya, pilihan terbanyak adalah di kota Probolinggo. Langkah kedua menjalankan misinya adalah melanjutkan memeratakan jumlah sekolah di seluruh wilayah Probolinggo khususnya kabupaten. Mendirikan sekolah dengan memahami kwalitas SDM daerah adalah kuncinya yaitu memperluas jangkauan tingkat sekolah dasar dan prasekolah. Dengan memberi bekal pendidikan setara sekolah menengah, maka di buatlah rekruetment. Pendidikan pra sekolah yang berisi permainan akan membuat anak-anak di daerah setempat tertarik untuk bersekolah, sehingga untuk melanjutkan ke jenjang SD tidak kesulitan dalam memotivasi. Daerah pesisir yang memiliki jangkauan dekat dan jumlah penduduk yang rapat, cukup sulit untuk menyadarkan arti pendidikan di setiap warganya. Karena moto mereka adalah bagaimana mencari uang untuk hidup, sementara susah payah sekolah belum tentu dapat uang melainkan menghabiskan uang begitu mereka bilang. Baru masuk di wilayah terdekat saja sudah mendapat kendala, ternyata slogan Probolinggo sebagai daerah keras sudah dapat di lihat dari budaya di pesisir. ‘Perlu lebih sabar dan tidak usah di paksa’, gumam pak Nyoman dalam hati. Dari wilayah paling barat keselatan adalah wilayah pegunungan Tengger dan Semeru, ternyata wayoritas penduduknya pemalu, mata pencaharian meraka adalah berkebun di lereng pegunung Tengger. Wilayah dataran menengah dan tinggi ini sangat luas dengan jumlah penduduk yang tidak terlalu banyak maka sekolah yang didirikan di sesuaikan dengan jumlah penduduk setempat. Jangkau penduduk dengan sekolah terdekat cukup jauh untuk ukuran orang kota di tambah lagi medan yang di tempuh cukup curam. Wilayah timur dari kota Probolinggo adalah Dringu, Gending, Kraksaan dan Paiton merupakan wilayah dataran rendah dan sedang. Mata pencaharian penduduk selain nelayan adalah bertani, cuaca yang panas dan anginnya yang kencang, tanaman terbaik di sana adalah bawang merah, tembakau, anggur hitam, mangga dan banyak lagi tanaman lain yang tumbuh dengan baik. Karena lokasinya sangat mudah di jangkau, sepertinya penduduk setempat lebih terbuka untuk pendatang baru dari guru urban. Memasuki wilayah timur ke selatan adalah dataran menengah dan tinggi yang terdiri dari daerah Tiris, Pakuniran, Krucil dan seterusnya. Wilayah dataran tinggi yang ini tidak sedingin wilayah di lereng pegunungan Tengger. Cuaca Probolinggo masih terasa disini ada panas dan angina walaupun lokasinya di dataran tinggi. Kondisi alamnya tidak jauh berbedengan dengan tengger yaitu berliku dan curam. Akomodasi favorit kala itu adalah delman dan mata pencaharian penduduknya adalah berterbak sapi perah, domba perkebunan dan pertanian. Sama halnya dengan di tengger jumlah pendudukanya tidak sebanding dengan luas wilayahnya, jadi mendirikan sekolah disini disesuaikan dengan jumlah penduduknya. Wilayah selatan kota Probolinggo terdiri daerah Malasan, Leces, Bremi, Patalan dan seterusnya. Wilayah selatan ini terdiri dari dataran rendah dan dataran sedang mata pencaharian terbanyak berdagang, bertani dan berkebun. Sesuai dengan letak geografisnya, kondisi tanahnya landai dan berbukit, iklimnya tropis dengan bahasa yang di gunakan mayoritas Madura. Jumlah penduduk di wilayah ini cukup padat sehingga pendirian sekolah di daerah ini bisa memenuhi jangkauan penduduk

1 komentar: