Jumat, 10 April 2020

Menjadi PNS

Setelah tamat dari SGA Dhoho, I Nyoman diterima mengajar di SGB Katholik pada pelajaran berhitung dan olah raga di SMP Louist. Pada waktu itu sekolah swasta dengan yayasan Kristen atau Katholik adalah sekolah elite dan favorit untuk guru-guru. Guru-guru pemula sampai guru negeri seolah saling berkompetisi untuk dapat mengajar di sekolah tersebut. Pada jaman dulu guru negeri di perbolehkan untuk mencari jam tambahan di luar sekolah induknya, mungkin pertimbangan dari kelangkaan jumlah guru pada waktu itu. Dan kesempatan ini tentu di manfaatkan untuk menambah pundi-pundi penghasilan setiap guru. Begitupun para wali murid yang terdiri dari golongan menengah ke atas atau golongan pengusaha biasanya memilih sekolah swasta tersebut karena mengejar gengsi dan terkenal sekolah mahal. Warga keturunan Cina dan Belanda sudah pasti memilih sekolah itu juga atas pertimbangan menghindari pelajaran agama Islam di sekolah negeri atau swasta nasional. Karir I Nyoman sebagai seorang guru ternyata mendapat simpatik dari Suster kepala atau kepala yayasan di sekolah tersebut. Diantara persaingan yang cukup berat dari rekan kerjanya, I Nyoman menjadi salah satu kandidat yang mendapat tawaran sebagai guru tetap di yayasan. Menjadi seorang guru tetap yayasan adalah impian semua guru, karena mendapat fasilitas dan gaji lebih baik dari pada guru tidak tetap. Namun di tengah kebimbangan yang ia rasakan, ternyata I Nyoman lebih memilih menjadi guru tidak tetap karena ia bisa leluasa membagi ilmunya dengan lebih luas lagi yaitu dengan mengajar di sekolah lain. Pilihan I Nyoman menolak menjadi guru yayasan ternyata tepat, karena tidak lama kemudian dia mendapatkan SK mengangkatan sebagai Pegawai Negeri. Status barunya sebagai pegawai negeri membuat I Nyoman mengungkapkan rasa syukurnya yang tak terhingga kepada sang pencipta. Perjuangan dan pengormabannya selama ini telah berbuah hasil yaitu menjadi pegawai negeri yang pasti akan membuat meme dan bapenya bangga. Tidak lupa I Nyoman sampaikan juga kabar gembira ini kepada sepupunya yang selama ini telah menjadi penjaganya selama di Jawa. ‘Bli, aku mendapat mengangkatan menjadi pegawai negeri’, ucap Nyoman membuka percakapan. ‘Oh ya?.. selamat ya’ jawab bli Made. ‘Akhirnya perjuanganmu selama ini berbuah hasil, kamu jadi pegawai negeri dan kehidupanmu sudah di jamin oleh negara’ lanjut bli Made. Lalu I Nyoman menyampaikan bahwa iya di tempatkan di Probolinggo atau harus berpisah dengan sepupunya itu, ‘Loh penempatannya jauh sekali, kenapa bukan di sekitar Kediri saja? ‘ tanggapan bli atas beritu itu. ‘ Wah kalo bisa memilih jadi guru yayasan pasti lebih bagus kan kamu gak perlu jauh-jauh kerjanya bisa tetap tinggal sama saya’ lanjut bli Made. I Nyoman hanya bisa tersenyum atas apa yang disampaikan bli Made itu. Menjadi Pegawai Negeri pada masa itu sebenarnya bukan pilihan terbaik untuk kebanyakan orang, mengapa?.. karena gari PNS pada masa itu tergolong kecil di bandingkan gaji dari sekolah yayasan. Menjadi guru PNS pada masa itu sesuai dengan motonya, ‘Guru adalah Pahlawan tanpa tanda Jasa’, mengabdi kepada Negara dengan resiko di tempatkan dimana saja di wilayah Indonesia, Siap ?.. !.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar