Rabu, 15 April 2020

menjadi PNS

Beberapa tamu tak lupa memberi ucapan selamat kepadaku yang telah lulus menjadi PNS, setelah dua tahun aku mengabdi pada sekolah swasta. Beberapa sepupu suami yang terlebih dahulu menjadi PNS pun berbagi cerita sejarah hingga dia menjadi PNS. Ya, menjadi guru PNS saat ini sangat berbeda dengan jaman bapak, terutama adanya tunjangan sertifikasi. Mendengar diskusi kami, bapak hanya tersenyum sambil terucap syukur, ‘bagus kalo begitu, memang seharusnya demikian’, bapak menambahkan. Perbincanan kami semakin seru dengan keikut sertaan bapak yang berbagi pengalaman hidupnya sehingga menjadi PNS. Setelah tamat dari SGA Dhoho Kediri saya diterima mengajar di SGB Katholik pada pelajaran berhitung dan olah raga di SMP Louist, bapak menjawab ketika salah seorang sepupu kami bertanya. Pada waktu itu sekolah swasta dengan yayasan Kristen atau Katholik adalah sekolah elite dan favorit untuk guru-guru. Guru-guru pemula sampai guru negeri seolah saling berkompetisi untuk dapat mengajar di sekolah tersebut, bapak melanjutkan ceritanya. Pada jaman dulu guru negeri di perbolehkan untuk mencari jam tambahan di luar sekolah induknya, mungkin pertimbangan dari kelangkaan jumlah guru pada waktu itu. Dan kesempatan ini tentu di manfaatkan untuk menambah pundi-pundi penghasilan setiap guru. Wali murid sekolah swasta jaman dulu kebanyakan dari golongan menengah ke atas atau pengusaha, biasanya mereka memilih sekolah swasta untuk mengejar gengsi yang terkenal sebagai sekolah mahal. Warga keturunan Cina dan Belanda sudah pasti memilih sekolah swasta Kristen atau Katholik atas pertimbangan menghindari pelajaran agama Islam di sekolah negeri atau swasta nasional. Sebelum lulus sebagai PNS, teryata bapak mendapat tawaran untuk menjadi guru tetap di sekolah tersebut. Diantara persaingan yang cukup berat dari rekan kerjanya, bapak menjadi salah satu kandidat yang mendapat tawaran sebagai guru tetap di yayasan. Namun di tengah kebimbangan yang ia rasakan, ternyata bapak memilih menjadi guru tidak tetap karena ia bisa leluasa membagi ilmunya lebih luas lagi yaitu dengan mengajar di sekolah lain. Pilihan bapak menolak menjadi guru yayasan ternyata tepat, karena tidak lama kemudian dia mendapatkan SK mengangkatan sebagai Pegawai Negeri. Status barunya sebagai pegawai negeri membuat bapak mengungkapkan rasa syukurnya yang tak terhingga kepada sang pencipta. Tidak lupa bapak menympaikan juga kabar gembira ini kepada sepupunya bli Made yang selama ini menjaganya di Kediri. Dengan SK di tangan, I Nyoman berpamitan dengan Made Kereg sepupunya, ‘Bli, aku mendapat pengangkatan menjadi pegawai negeri’, ucap Nyoman membuka percakapan. ‘Oh ya?.. selamat ya’ jawab bli Made. ‘Akhirnya perjuanganmu selama ini berbuah hasil, kamu jadi pegawai negeri dan kehidupanmu sudah di jamin oleh negara’ lanjut bli Made. Lalu I Nyoman menyampaikan bahwa iya di tempatkan di Probolinggo atau harus berpisah dengan sepupunya itu, ‘Bli Made terima kasih telah mengijinkan aku tinggal di sini, aku lulus PNS dan di tempatkan di Probolinggo’, Nyoman melanjutkan percakapannya. ‘Loh penempatannya jauh sekali, kenapa bukan di sekitar Kediri saja? ‘ tanggapan bli atas beritu itu. ‘Wah kalo bisa memilih jadi guru yayasan pasti lebih bagus kan, kamu gak perlu jauh-jauh kerjanya bisa tetap tinggal sama saya di Kediri’ lanjut bli Made. I Nyoman hanya bisa tersenyum atas apa yang disampaikan bli Made itu. Menjadi Pegawai Negeri pada masa itu sebenarnya bukan pilihan terbaik untuk kebanyakan orang, mengapa?.. karena gari PNS pada masa itu tergolong kecil di bandingkan gaji dari sekolah yayasan. Menjadi guru PNS pada masa itu sesuai dengan motonya, ‘Guru adalah Pahlawan tanpa tanda Jasa’, mengabdi kepada Negara dengan resiko di tempatkan dimana saja di wilayah Indonesia, Siap ?.. !.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar