Jumat, 10 April 2020

Pindah ke Probolinggo

Turunnya SK pengangkatan Pegawai Negeri ternyata membuat I Nyoman harus pergi meninggalkan kota Kediri. Kota Kediri yang telah berjasa mengantarkan dia menyelesaikan pendidikan menengah hingga menjadi guru pilihan. Keberhasilan I Nyoman menjadi guru PNS harus di bayar dengan penempatan di SD Asmoro bangun Leces tepatnya di kabupaten Probolinggo. Tidak banyak yang I Nyoman ketahui tentang kabupaten Probolinggo kecuali lingkungan dan bahasanya yang mayoritas Madura. Walaupun jarak tempuh antara Kediri dan Probolinggo sekitar dua jam, namun menurut I Nyoman cukup banyak perbedaan yang ia rasakan. I Nyoman yang merasa kota Kediri sebagai kampung halamannya yang kedua, kini dia harus kembali memulai dari awal belajar budaya dan bahasa di Probolinggo. Dengan SK di tangan, I Nyoman berpamitan dengan Made Kereg sepupunya, ‘bli Made terima kasih telah mengijinkan aku tinggal di sini, aku lulus PNS dan di tempatkan di Probolinggo’, Nyoman memulai percakapan. Made Kereg yang mengetahui penolakan I Nyoman untuk menjadi guru yayasan sebenarnya menyayangkan keputusan I Nyoman. Namun Made Kereg pasrah karena ini sudah menjadi jalan hidup I Nyoman. ‘ Iya Nyoman, dulu bape mu menitipkan kau padaku’ jawaban Made, ‘nah sekarang tugasku sudah selesai karena kau pergi atas tugasmu sebagai guru yang harus mengabdi pada negara’ dengan senyum yang mengebang di di bibirnya. Karena ada kekhawatiran, Made pun menuangkan isi hatinya ‘Nyoman apa kau punya teman di Probolinggo?’ kata Made, ‘Tidak! ‘ balas I Nyoman. Kemudian Made melanjutkan perbincangan ini ‘ Apa kau tahu tentang daerah itu?’, iya lah sedikit, kenapa bli?.. balas I Nyoman sembari tersenyum. Seolah sudah tahu apa yang di risaukan sepupunya, I Nyoman coba menenangkan, ‘ Sudahlah bli, saya datang ke Kediri dengan kemauan saya sendiri walaupun saya dulu masih bocah’ ucap Nyoman, ‘Nah sekarang apalagi, saya sudah menjadi guru yang selalu menasehati murid yang baik-baik, untuk tidak jadi penakut, masa saya sendiri menjadi takut ke Probolinggo’ tambah Nyoman dengan senyum yang lebih lepas. ‘Saya sudah dengar tentang Probolinggo, katanya orangnya kasar-kasar, suka bawa golok, suka berkelahi dan lain-lain’ , ucap Nyoman ‘Tapi aku kesana kan sudah ada tujuannya, aku gak perlu cari-cari tempat lagi dan ada orang yang bertanggung jawab selama aku di sana’, I Nyoman melanjutkan perbincangannya. ‘Bli jangan risau ya.. dan kalo bape tanya macem-macem katakana saja yang baik-baik. Dengan senyum pula, Bli Made memegang bahu Nyoman, ‘Iya Nyoman aku tahu, kamu pasti bisa jadi orang Probolinggo’, ucap bli Made. ‘Kamu orang piter, pasti di terima di mana saja’ lanjut Made. ‘Jangan lupa kamu minta restu ke bape dan meme di Bali’, nasehat Made. ‘ Iya bli, terima kasih ya’, I Nyoman membenarkan nasehat bli Made. I Nyoman Benben mengawali karirnya sebagai guru PNS pada tahun 1958 dan di tempatkan di SRN Asmorobangun Leces Kabupaten Probolinggo. Probolinggo adalah salah satu daerah tapal kuda di Jawa timur, tidak banyak yang I Nyoman ketahui tentang Probolinggo selain mayoritas penduduknya berbahasa Madura. Probolinggo juga di kenal sebagai daerah pesisir karena letaknya di sebelah utara pulau Jawa bagian Timur. Probolinggo terdiri dari dua bagian yaitu Probolinggo bagian kota dan Probolinggo kabupaten, dan desa Leces letaknya di kabupaten Probolinggo bagian selatan. Pak Sis sebutan dari bapak Siswo soeharto kepala sekolah SD Asmorobangun dimana I Nyoman di tempatkan. Kedatangan I Nyoman di SRN Asmorobangun sangat membantu Pak Sis, apalagi tinggal kost di rumahnya pula. Dua tahun kemudian atau tahun 1960 Pak Sis di pindah tugas sebagai penilik di wilayah Genteng Banyuwangi dan posisi kepala sekolah SRN Asmorobangun terpaksa kosong. Selama satu tahun SRN Asmorobangun tanpa Kepala Sekolah, akhirnya I Nyoman Benben diangkat sebagai Kepala Sekolah pada tahun 1961 melalui seleksi di Surabaya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar