Kamis, 16 April 2020
Berjodoh Dengan Anak Kepala Sekolah
Kehadiran I Nyoman di lingkungan keluarga pak Sis untuk anak-anaknya, terutama karena pembawaannya yang dewasa dan sabar. Ketika ada suatu an di dalam keluarga, anak-anak pak Sis tidak pernah sungkan untuk melibatkan mas Nyoman sebagai penengah. Kepercayaan yang di gantungkan padanya membuat I Nyoman terharu dan bersyukur memiliki keluarga di pulau Jawa.
Sugiarti yang menyadari kehadiran I Nyoman di lingkungan rumahnya pun tidak dapat mengelak kewibaan yang di miliki I Nyoman. Setelah beberapa kali bertemu, Sugiarti permasalahpaham mengapa adik-adiknya begitu sayang dan patuh dengan sosok yang bernama Nyiman ini. Kesan pertama yang pada diri Sugiarti terhadap I Nyoman hampir tidak ada, ‘ah biasa saja, tidak terlalu istimewa’, bisik hati Sugiarti.
Selepas pendidikannya di SMA Keputrian Surabaya, Sugiarti pun pulang dan beraktifitas di rumah sebagai pengganti kedua orang tuanya yang dinas di Banyuwangi. ‘Ndun kamu bantu mas Nyoman ngajar di SD ya’, perintah pak Sis ketika pulang. ‘Ndun’ adalah panggilan Sugiarti di rumah, begitupun adik-adiknya memanggilnya mbak Ndun. Mendengar perintah bapak, sudah pasti Sugiarti tak dapat menolak. Apalagi jiwa Sugiarti yang tidak bisa diam, lulus dari sekolah menengah di kota Surabaya adalah bekal yang lebih dari cukup untuk menjadi seorang guru.
Kerjasama antar Sugiarti dengan kepala sekolahnya atau pak Nyoman sangat ideal, karena pak Nyoman yang sabar dan banyak mengalah banyak di bantuk oleh sifat Sugiarti yang tegas dan tangkas. Kehadiran Sugiarti dalam lingkungan sekolah sangat membantu kerja I Nyoman sebagai kepala sekolah. Serasa menemukan sosok pak Sis yang sudah hilang karena tugas barunya.
Kekompakan Sugiarti dan I Nyoman mungkin sudah ramal pak Sis jauh sebelum kelulusan Sugiarti dari sekolahnya di Surabaya. Sebagai seorang ayah tentu pak Sis paham dengan berbagai karakter sifat anak-anaknya, terutama putri pertamanya Sugiarti. Sugiarti yang memiliki watak hampir tak jauh berbeda dengan dirinya, pasti cukup sulit untuk menerima teman laki-laki di sekitar desa Leces yang tergolong terpencil. Dan I Nyoman adalah sosok yang tepat untuk putri kesayangannya apalagi posisi pak Nyoman yang kala itu seorang kepala sekolah. Hanya pak Nyoman saja yang mampu membust putrinya berhati keras ini menurut, ‘bapak, anak orang jangan di suruh-suruh’ jawab Sugiarti. ‘Apalagi hubungan kami sudah seperti saudara, kalau dia gak mau kan enak nanti kerja di satu sekolah’, sambung Sugiarti. Pak Sis hanya tersenyum mendengar jawaban Sugiarti. ‘Soal itu, urusan bapak’, jawab pak Sis sambil bergegas pergi. Singkat cerita, terjadilah pernikahan antara pak Nyoman dan Ibu Sugiarti, bukan main kebahagiaan pak Sis kala itu. Karena mendapatkan menantu sosok yang ia idamkan, kini pak Nyoman bukan sekedar anak kost melainkan menjadi putranya yang tertua.
Kehidupan pasangan I Nyoman dan Sugiarti berlangsung harmonis walau ada cobaan yang harus di lalui, misalnya ketika putri pertama yang bernama Ni Wayan Budiharti atau Anik harus menghadap Illahi pada usia 1 tahun karena sakit. Pada tanggal 21 Nopember 1965 lahir putra ke dua yang bernama I Made Darmayana atau Anang. Pada tanggal 10 Juli 1968 Ibu Sugiarti mengalami keguguran anak ke tiganya. Pada tanggal 19 September 1969 lahirlah anak ke empat yan bernama Ni Ketut Darmawati atau dipanggil Rini dan pada putra terakhir lahir pada tanggal 28 Oktober 1972 yang bernama I Wayan Mudayana atau di panggil Iwan.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
tgl kelahirannya sama dgn kelahiran omjay, 28 oktober, hehehe
BalasHapus