Selasa, 31 Maret 2020
Masa Pendidikan I Nyoman Benben
Kecintaan I Nyoman pada dunia pendidikan telah tampak sedari kecil, walaupun harus di lalui dengan jalan yang berliku. Pendidikan dasar I Nyoman di selesaikan di dua tempat pendidikan yaitu di SRN Wanayu hingga kelas III dan SRN Gianyar dari kelas IV hingga lulus. SRN Wanayu yang letaknya di dusun kecil sekitar tempat tinggalnya tidak memiliki fasilitas dan pengajar yang memenuhi menurutnya. Dan pada kelas IV bape dan meme menuruti kemauan I Nyoman pindah ke SRN Gianyar yang letaknya di luar dusun dengan jarak tempuh sekitas 3 Km. keseharian I Nyoman adalah belajar, bersekolah dan membantu memenya di warung makan, dan tampaknya bakat silat sang ayah belum menarik minat I Nyoman.
Setelah enam tahun menempuh pendidikan dasar, I Nyoman mengisi waktunya dengan berjualan souvenir untuk menyambung hidupnya. Dan pertemuannya dengan menir Belanda membuat dia kembali memikirkan tujuan hidupnya yaitu melanjutkan sekolah yang sempat terhenti dua tahun. Dengan berbekal tabungan yang ia dapatkan selama jadi kacong Belanda, I Nyoman mantap melanjutkan pendidikan lanjutan pertama dengan uang hasil kerjanya sendiri.
Selama menempuh pendidikan SMP I Nyoman mengisi waktunya dengan bekerja sebagai juru tulis pajak sawah yang tempatnya di daerah Tapak Siring. Menjadi juru tulis pajak, membuat I Nyoman sering ke pergi tempat-tempat baru dan bertemu banyak orang mulai dari petani hingga petinggi kantor. Berbekal ketekunan, kejujuran dan patuh pada perintah, I Nyoman banyak mendapat simpatik dari rekan kerja hingga atasan yang usianya jauh di atasnya. Profesi barunya ini ternyata membuat I Nyoman sibuk dan hampir lupa dangan pendidikannya, mungkin karena ia terlalu senang dengan pekerjaannya yang merupakan pekerjaan terbaik yang ia dapatkan selama di Bali. Kenyamanan yang dia dapatkan selama menjadi juru tulis pajak akhirnya ia tinggalkan, karena dia sadar bahwa dia harus mampu mengangkat martabatnya dan orang tuanya dengan bekal pendidikan yang lebih tinggi.
Pendidikan SMP yang ia tempuh di Bali mungkin kurang menantang untuk ukuran I Nyoman, sehingga tahun 1950 dia memutuskan untuk hijrah ke pulau Jawa mengikuti sepupu. Sepupunya yang bernama I Made Kereg sudah cukup lama tinggal di Kediri tepatnya di desa Balowerti dan di situlah I Nyoman menetap untuk melanjutkan pendidikan SMP nya.
Menempuh pendidikan di pulau jawa bagi anak Bali adalah impian terbesar, hal ini karena pulau jawa memang sudah terkenal lebih maju dalam segala hal termasuk pendidikan. I Nyoman menempuh pendidikan di Jawa tentunya dengan tantangan dan persaingan lebih besar dari pada di Bali, mulai Kurikulumnya, pengajarnya hingga hingga jumlah temannya yang lebih banyak dari pada di SMP Bali. Dan tantangan ini tidak membuat I Nyoman menyerah walau banyak keterbatasan yang ia alami yaitu tinggal jauh dari orang tua dan biaya hidup sudah menipis.
Menetap di Kediri dengan menempuh pendidikan SMP dan membayar kost tempat tinggalnya membutuhkan biaya cukup tinggi menurut I Nyoman, sehingga ia memutuskan bekerja untuk menyambung hidup. Pekerjaan awal yang ia dapatkan di pulau jawa adalah menjadi tukang parkir di pemandian Sumber Kuak. Menjadi tukang parkir adalah profesi pertama I Nyoman selama tinggal di pulau Jawa, tanpa mengenal gengsi ia lakukan tugasnya setelah pulang sekolah. Menjadi tukang parkir mungkin salah satu kunci sukses I Nyoman dalam menempuh pedidikan di pulau Jawa, karena ia bisa fokus belajar sambil menekuni perkerjaan tersebut. Hal ini berbeda ketika I Nyoman merasakan kemanjaan selama jadi kacong Belanda dan kelebihan materi ketika menjadi juru tulis pajak sawah, menjadi tukang parkir dengan penghasilan seadanya ternyata membuatnya lebih fokus pada pendidikannya. Setelah menempuh pendidikan di SMP Kemauan dan SGA Dhoho Kediri, I Nyoman diterima mengajar pelajaran berhitung di SGB Katholik dan mengajar Olah raga di Saint Louist Kediri.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar