Senin, 30 Maret 2020

KACONG BELANDA

I Nyoman kecil yang cerdas tidak pernah takut atau malu mengahapi sesuatu baru sepanjang itu di jalan yang benar. Berbicara dengan menir Belanda mungkin hal yang menakutkan untuk orang lain, namun bagi I Nyoman kecil, menawarkan souvenir dagangannya kepada menir Belanda merupakan tantangan untuk mendapat sesuap nasi. I Nyoman kecil tidak ragu menyapa menir belanda yang berwisata bersama keluarga di Bedugul . dan sikap ramahnya telah membuat menir Belanda jatuh hati padanya. Menir Belanda ini memiliki seorang anak perempuan bernama Elsie berusia tujuh tahun, sebagai seorang asing Elasie tidak memiliki teman bermain. Pertemuan Elsie dengan I Nyoman kecil membuat sang menir senang karena telah menemukan teman yang tepat untuk putri kesayangannya. Menir pun menawarkan I Nyoman untuk ikut dan tinggal di rumahnya di Denpasar, ‘Iya Menir saya bilang bape dulu’ jawab I Nyoman. Dengan berbekal alamat yang di dapat dari menir, I Nyoman pun pulang menemui bape dan meminta ijin, ‘Oh yaya coba saja’ jawab bape kepada putranya. ‘Gimana nanti mondoknya?’ lanjut bape, oh ya nanti ada konconya bapak Tegek di Denpasar’. Setelah mendapatkan ijin dari bape Wayan, I Nyoman pun berangkat ke Denpasar pada ke esokan harinya dengan mondok di rumah bapak Tegek sesuai saran bapenya. I Nyoman pun bekerja di rumah menir Belanda sebagai kacong atau pesuruh dengan waktu kerja dari jam 6 pagi hingga jam 6 sore. Setiap datang pagi hari, I Nyoman langsung mendapat jatah makan pagi yang mewah di rumah menir, dengan perlakuan yang baik dari seisi rumah. Ada beberapa pembantu di rumah menir tersebut, ada yang bertugas memasak, bersih-bersih dan sopir sehingga kedatangan I Nyoman disana hamper tidak ada pekerjaan yang wajib ia lakukan. ‘Kacong.. ayo main..’ itu seruan Elsie putri menir setiap hari kepada I Nyoman dan permainan favoritnya adalah bulu tangkis. Selama dua tahun I Nyoman menjadi kacong Belanda tidak membuat dia lalai dengan kemanjaan yang ia rasakan di rumah menir Belanda. Mengukir waktu untuk masa depannya pun iya lalui dengan melanjutkan sekolah ke jenjang pendidikan lanjutan.

3 komentar:

  1. Belum hebat, masih banyak belajar. Semoga bisa mengikuti jejak om Jay jadi guru blogger atau guru berprestasi

    BalasHapus
  2. Belum hebat, masih banyak belajar. Semoga bisa mengikuti jejak om Jay menjadi guru blogger atau guru berprestasi. Aamiin

    BalasHapus