Rabu, 15 April 2020
SD ASMOROBANGUN
Mungkin SD Asmorobangun adalah sekolah tertua di desa Leces yang sekarang bernama SDN 1 Leces. Tidak sulit untuk mencari SD Asmorobangun, karena letaknya di tepi jalan utama yang menghubungkan kota Probolinggo dengan kabupaten Lumajang hingga kota Jember. Begitu memasuki halaman sekolah, I Nyoman tidak merasa keanehan atau sseram yang selama ini di dengarnya. Sekolah ini tidak terlalu jauh berbeda dengan kebanyakan sekolah di kota Kediri dan sekitarnya. Halaman yang luas, beberapa kelas yang cukup bagus sarananya kecuali cuaca yang memang lebih panas dari yang Nyoman bayangkan.
‘Selamat datang pak Nyoman, nama saya Siswo Soeharto, panggil saja Pak Sis’ ucap kepala sekolah memberi sambutan atas kedangan I Nyoman di sekolah nya. ‘Semoga kerasan ya selama di sini’ sambung pak Sis sembari senyum mengembang. Mendengar sambutan yang hangat untuknya, I Nyoman begitu terharu hingga tak bisa membalasan sambutan tersebut, ‘terima kasih Pak, saya senang sekali berada disini, semoga saya tidak mengecewakan’, akhirnya I Nyoman bisa membalas sambutan pak Sis. ‘Mari masuk, anggap saja di rumah sendiri, jangan sungkan kalo ada yang mau di tanyakan atau di usulkan. Kedatangan pak Nyoman sudah saya nanti-nantikan. Hahaha’, mendengar candaan yang sangat ramah, I Nyoman semakin yakin bahwa pilihannya adalah tepat. Penempatan pertamanya sebagai PNS berada di lingkungan yang tepat, dia merasa kasih seorang ayah ketika berbincang dan dekat dengan pak Sis.
Hari pertama I Nyoman mengajar di SD Asmorobangun, dia mendapati anak-anak yang sudah siap untuk belajar. Ternyata ketertinggalan kabupaten Probolinggo hanya isu, begitu I Nyoman bergumam. Hal yang perlu dia lakukan adalah penyesuaian bahasa dan budaya setempat, tidak sesulit yang saya bayangkan, gumam I Nyoman sembari tersenyum.
Setelah cukup lama I Nyoman berbaur dengan warga desa Leces, dia sadar bahwa kebutuhan akan sekolah memang sangat mendesak. Ternyata wali muridnya selama ini tidak mewakili warga desa Leces secara umum. Desa Leces yang letaknya cukup jauh dari pusat pemerintahan ternyatan memiliki ketimpangan status social yang cukup jauh. Anak-anak yang menjadi muridnya sebagian besar dari keluarga berada atau setidaknya mengerti tentang pendidikan. Sedangkan keluarga yang status sosialnya di bawah masih banyak yang belum mendapatkan kesempatan pendidikan bahkan tidak menaruh minat pada pendidikan.
Pak Sis yang selama ini sangat komunikatif dapat menerima apa yang di sampaikan I Nyoman tentang kondisi di desa Leces. Desa Leces tergolong kaya dengan pendapatan karena ada pabrik yang berstatus BUMN dengan produksi kertasnya. Walaupun sekarang hanya meninggalkan besi tua dan hutang pesangon pegawainya karena pengelolaan yang amburadul dengan hutang yang tinggi. ‘Jumlah sekolah di desa Leces waktu itu sangat kurang pak’, I Nyoman menyampaikan usulnya untuk mendirikan sekolah SMP dan SMA di sana. Kasihan anak-anak harus sekolah ke kota Probolinggo dengan jarak sekitar 8-9 Km’. Karena inilah yang menyebabkan sebagian besar anak-anak di desa Leces hanya lulus sampai SD, apalagi yang tidak sempat sekolah sama sekali.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar