Kamis, 16 April 2020

Kelahiran Putra Yang Prematur

Kehilangan seorang putri kecilnya yang masih amat kecil merupakan pukulan untuk Ibu Sugiarti, terutama putri pertama yang sangat ia harapkan. Kesedihan ini semakin bertambah dengan adanya aksi pemberantasan anggota PKI yang meraja lela. Gerakan penumpasan PKI yang sudah merata di seantero tanah air, hampir tak terkendalikan karena bukan hanya di lakukan oleh aparat melainkan masyarakat awam. Antara sikap tegas atau anarkis hampir tiada beda kala itu, karena sikap marah yang mereka tunjukkan adalah sama. Sugiarti yang sedang mengandung putra ke dua juga terdampak dengan kondisi yang demikian, ketenangan dan kenyamanan yang ia inginkan sulit sekali di dapat. Hari demi hari tiada ketenangan sedikit pun yang ia rasakan, kecuali dengan istifar dan doa yang mampu meredakan guncangan hatinya. Setiap kali pintu di gedor, sontah seluruh tubuhnya tergoncang dan perut buncitnya saja yang menjadi saksi bagaimana paniknya dia. Untuk turun dari tempat tidurpun tak mampu ia lakukan, profesi guru yang selama ini dia banggakan sudah tergoncang oleh isu PKI. Ditengah ke uncangan jiwa dan raganya, ibu Sugiarti harus menerima kenyataan untuk melahirkan putra idamannya secara kurang bulan atau premature. Kondisi ini semakin memperburuk keadaan karena perawatan yang ia jalani harus berjalan di tengan kondisi yang rusuh dan mendebarkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar