Jumat, 24 April 2020
PRESENTASI TERBAIK
Proposal adalah langkah awal dari pengajuan bantuan ke pusat, yang isinya terdiri dari latar belakang, tujuan, masalah hingga perkiraan dana yang di butuhkan. Dengan proposal apa yang menjadi tujuan dan kendala di lapangan akan terbaca oleh pusat atau pihak di tuju. Dan pengajuan proposal ini sudah pernah pak Nyoman lakukan untuk sekolah-sekolah swasta ketika di Lecas sehingga mendapatkan bantuan dari beberapa instansi.
Salah satu kesulitan membuat proposal adalah rasa malas atau alas an yang kita buat-buat sehingga menghabiskan waktu dan kesempatan untuk memperoleh kesempatan itu. Tidak banyak daerah atau instansi harus mundur atau membatalakan niatnya untuk kesempatan seperti ini. Namun kata malas tidak berlaku untuk pak Nyoman. Setiap proposal yang di buat harus di periksa sendiri secara akurat, bahkan tidak jarang beliau membuat proposal sendiri karena beberapa hal. Pak Nyoman sadar bahwa yang lebih membutuhkan kesempatan ini adalah kita atau yang mengajukan bantuan belum lagi kesempatan ini harus bersaing dengan wilayah lain se Indonesia. Jadi kecepatan kita dalam membuat proposal memang menjadi taruhan berhasi tidaknya bantuan yang akan kita dapatkan.
Setelah misinya di beberapa wilayah di Probolinggo tercapai, sekali lagi pak Nyoman membuat pengajuan mendirikan gedung Dinas Pendidikan dan Kebudayaan atau di kenal dengan P & K untuk wilayah Probolinggo. Pada waktu itu Dinas P & K kota dan kabupaten Probolinggo masih bergabung dan belum memiliki bangunan sendiri atau berstatus kontrak. Memperjuangkan sebuah bantuan lagi untuk membuat gedung dinas P & K tidak ingin ia tunda, walaupun kesempatan yang ada hanya dua kuato.
Masih kuat dalam ingatan bapak bagaimana beliau mempresentasikan pengadaan gedung dinas P &K itu. ‘Kuota bantuan pengadaan gedung dinas hanya dua pak Nyoman dan sepertinya daerahnya sudah di tentukan’, itu yang di sampaikan salah seorang pegawai di pusat. Dengan argumennya pak Nyoman terus memberi alasan lagi tentang pentingnya gedung dinas itu untuk wilayah Probolinggo. ‘Pengadaan gedung dinas di Probolinggo tergolong besar karena masih melakukan pembelian tanah’, seorang lagi ada yang menyela presentasi pak Nyoman. Setelah ikhtiar di lakukan langkah senjutnya adalah doa, karena Allah maha penentu terbaik. Dan jawaban dari usaha pak Nyoman adalah Probolinggo mendapatkan kuota pendirian gedung dinas P&K yang letaknya di jalan Basuki Rahmad No. 20A kota Probolinggo. Alhamdulillah
Sekali lagi pak Nyoman membuat pengajuan sarana pendidikan untuk sekolah kejuruan, pada waktu itu ada sebuah moment meningkatkan persiapan SDM untuk siap kerja. Untuk mempersiapkan SDM yang baik dan siap kerja harus di siapkan sarana belajar dan praktik yang tepat pula. Hal inilah momen di adakannya pengadaan sarana untuk SMK. Kesempatan ini tidak akan di lepas oleh Pak Nyoman untuk sekali lagi membuat proposal pengajuan bantuan.
Pengadaan sarana pendidikan untuk SMK ini merupakan momen yang besar pada prooyek pendidikan dan hampir seluruh kota mendapatkan bantuan ini. Dan Probolinggo juga mendapatkan kuota bantuan sarana pendidikan SMK. Entah sudah berapa kali pak Nyoman membuat proposal pengajuan hingga presentasi ke pusat, yang pasti usaha beliau selama ini membuatnya cukup di kenal dan hasilnya mempermudah setiap usaha beliau.
Tiba saat peresmian sarana SMK, ternyata langsung di resmikan oleh orang nomer satu Indonesia saat itu yaitu Presiden Soeharto. Secara simbolis bapak presiden Soeharto melakukan peresmian penerima bantuan sarana SMK tersebut ke semua kota di Jawa Timur, dimana tempat yang di pilih adalah Probolinggo. Subhannallah…
PANORAMA ALAM
Dalam diam, pak Nyoman kembali mengingat jalan-jalan yang ia lalui di wilayah-wilayah kabupaten tersebut, ‘betapa beragamnya iklim dan budaya disini’, kenang pak Nyoman. Ternyata ada budaya hindu yang sangat kental walaupun tidak dijumpai banyak pura layaknya di Bali, dan bahasa yang di gunakan jawa yang medok, ya.. itulah daerah lereng gunung Tengger dan sekitarnya. Dengan iklim yang dingin sangat jauh dari iklim Probolinggo pada umumnya, panoramanya sangat indah mulai dari perjalanan hingga mencapai puncak gunung Bromo. Penduduknya masih memegang budaya asri miliki leluhurnya dan taat pada adat istiadat, sama seperti di Bali gumam pak Nyoman lagi. Turun dari desa Sukopuro yang dingin akan menjumpai desa Negororejo Lumbang yang memiliki air terjun besar Madakaripura, konon disinilah patih Gajah Mada menghabiskan sisa hidupnya.
Wilayah daerah timur Probolinggo antar Gending, Tiris dan Maron banyak sekali dijumpai sungai yang masih alami dengan batu-batu besardan tebing yang berkelok dan curam. Salah sungai yang bernama sungai Pakelan, saat ini menjadi wisata Arum Jeram. Desa Tiris mempunyai banyak pesona alam yaitu pemandian air panas yang alami dan Danau yang bernama Ranu Segaran. Dan masih di sekitar daerah ini terdapat juga Candi peninggalan raja Hayam Wuruk yang bernama Candi Jabung, konon candi ini tempat makam salah seorang keluarga kerajaan Majapahit. Kemudian masuk ke pegunungan Argopuro yang memiliki panorama puncak yang khas dan salah satu puncaknya tersebut bernama Rengganis. Nama Rengganis diambil dari nama Dewi Rengganis seorang ratu kerajaan.
Selain keindahan panorama alamnya ternyata Probolinggo memiliki tanah yang subur, dari wilayah barat sampai timur memiliki kesuburan yang beragam sehingga menghasilkan hasil bumi yang beragam pula. Buah Mangga dari Probolinggo sudah diakui semua orang baik dari dalam maupun luar Probolinggo, belum lagi hasil bumi yang lain seperti bawang merah, tembakau, padi, jagung sangat cocok sekali untuk iklim panas di Probolinggo. Daerah lereng pegunungan Tengger yang dingin juga sangat produktif dengan hasil kebunnya seperti kentang, koll, wortel dan lain-lain. Dan tidak kalah dari hasil bumi ada kekayaan hasil laut yang tak pernah habis, wilayah pesisir di Probolinggo sangat luas dan hampir semua bermata pencaharian nelayan.
Sesaat rasa capek yang menggelayuti badannya mulai terasa hilang, betapa bagusnya panorama di Probolinggo, gumam pak Nyoman lagi. Panorama seindah ini akan mudah di asah dengan bekal pengetahuan dari penduduk setempat, sehingga dapat menarik wisata dan tidak hilang percuma. Sekali lagi semangat pak Nyoman dalam membuat rancangan bertambah dan kian lama kian kuat.
JALAN YANG BERLIKU
Keberhasilan pak Nyoman menjadi teladan di lingkungan pendidikan kota Probalinggo selama menjadi penilik sekolah ternyata tidak berlaku ketika menduduki posisi barunya sebagai kepala seksi bidang di instansi pendidikan. Perjalanan karir yang selama ini berjalan dengan manis, sekarang adalah masa sulit, corak terjal dan berliku menghampiri perjuangannya. Wilayah probolinggo yang terdiri dari dua bagian, yaitu kota dan kabupaten merupakan daerah yang luas dengan berbagai kondisi alam yang menantang dan ragam budaya yang komplek.
Tanggung jawab tugas pak Nyoman sebagai kepala seksi bidang pendidikan dasar dan prasekolah, ternyata tidak semuda tugas-tugasnya selama ini. Kecamatan Leces tempat pertama beliau memulai perjuangannya ternyata hanya sebagian tempat kecil di lingkungan wilayah Probolinggo karena wilayah kabupaten Probolinggo ternyata memiliki luas sekitar 1.696 Km2. Sementara luas kota Probolinggo tempat beliau menebarkan semangatnya hanya seluas 56,67Km2 . Jadi bisa di bayangkan nilai 56,.. berapa kali lipat dari 1.696 ? ..
Kemudahan tugaspak Nyoman selama di kota Probolinggo adalah karena lokasi wilayahnya tidak merepotkan yaitu memiliki luas terjangkau dengan dataran yang rata, jadi untuk melakukan sidak atau pengawasan cukup dilakukan dengan waktu sehari. Berbeda dengan wilayah kabupaten Probolinggo, dengan luas wilayah seperti itu ternyata letaknya juga terpencar yaitu di sebelah selatan, barat dan timur dari kota Probolinggo atau mengelilingi kota Probolinggo. Selain lokasinya yang sangat luas, kabupaten Probolinggo juga memiliki geografis yang berbeda yaitu dataran rendah atau tanah pesisir di sebelah utara di sepanjang bagian paling barat hingga paling timur kabupaten Probolinggo; daerah perbukitan di sekitar kaki gunung Semeru, pegunungan Tengger dan sisi bagian timur gunung Lamongan; dan terakhir daerah pegunungan di sekitar pegunungan Tengger dan pegunungan Argopuro.
I Nyoman percaya usaha tak akan membohongi hasil, dengan memahami letak geografis dan mata pencaharian penduduk setempat, saya pasti bisa menyelesaikan tugas ini, gumamnya. Melaksanakan misi ‘menyediakan sarana pendidikan dan memotivasi warga Probolinggo untuk belajar’ mulai berjalan tentunya dengan bantuan para penilik sekolah. Satu kendala lagi yang menjadi masalah adalah keterbatasan guru dan penilik sekolah, kurangnya motivasi belajar pada penduduk di probolinggo menyebabkan kurangnya sumberdaya manusia penggerak misinya. Salah satu cara untuk menyediakan guru dan penilik sekolah adalah dengan meminta kuota dari pusat melalui seleksi PNS. Ketika guru baru sudah hadir, seperti yang beliau bayangkan selama ini yaitu di dominasi kaum urban seperti kota Malang, Surabaya, Kediri, Jombang, Magetan dan wilayah lain sekitar Jawa Timur.
Kehadiran guru urban memiliki nilai plus dan minus, nilai plusnya adalah kwalitas SDM yang sudah bagus karena berasal dari pendidikan tinggi, sedangkan nilai minusnya adalah karena bukan dari Probolinggo maka kurang siap menghadapi kultur budaya di kabupaten Probolinggo yang beragam. Sehingga langkah pertama adalah membuat guru urban tersebut betah untuk tinggal di wilayah Probolinggo sesuai pilihannya, pilihan terbanyak adalah di kota Probolinggo. Langkah kedua menjalankan misinya adalah melanjutkan memeratakan jumlah sekolah di seluruh wilayah Probolinggo khususnya kabupaten. Mendirikan sekolah dengan memahami kwalitas SDM daerah adalah kuncinya yaitu memperluas jangkauan tingkat sekolah dasar dan prasekolah. Dengan memberi bekal pendidikan setara sekolah menengah, maka di buatlah rekruetment. Pendidikan pra sekolah yang berisi permainan akan membuat anak-anak di daerah setempat tertarik untuk bersekolah, sehingga untuk melanjutkan ke jenjang SD tidak kesulitan dalam memotivasi.
Daerah pesisir yang memiliki jangkauan dekat dan jumlah penduduk yang rapat, cukup sulit untuk menyadarkan arti pendidikan di setiap warganya. Karena moto mereka adalah bagaimana mencari uang untuk hidup, sementara susah payah sekolah belum tentu dapat uang melainkan menghabiskan uang begitu mereka bilang. Baru masuk di wilayah terdekat saja sudah mendapat kendala, ternyata slogan Probolinggo sebagai daerah keras sudah dapat di lihat dari budaya di pesisir. ‘Perlu lebih sabar dan tidak usah di paksa’, gumam pak Nyoman dalam hati.
Dari wilayah paling barat keselatan adalah wilayah pegunungan Tengger dan Semeru, ternyata wayoritas penduduknya pemalu, mata pencaharian meraka adalah berkebun di lereng pegunung Tengger. Wilayah dataran menengah dan tinggi ini sangat luas dengan jumlah penduduk yang tidak terlalu banyak maka sekolah yang didirikan di sesuaikan dengan jumlah penduduk setempat. Jangkau penduduk dengan sekolah terdekat cukup jauh untuk ukuran orang kota di tambah lagi medan yang di tempuh cukup curam.
Wilayah timur dari kota Probolinggo adalah Dringu, Gending, Kraksaan dan Paiton merupakan wilayah dataran rendah dan sedang. Mata pencaharian penduduk selain nelayan adalah bertani, cuaca yang panas dan anginnya yang kencang, tanaman terbaik di sana adalah bawang merah, tembakau, anggur hitam, mangga dan banyak lagi tanaman lain yang tumbuh dengan baik. Karena lokasinya sangat mudah di jangkau, sepertinya penduduk setempat lebih terbuka untuk pendatang baru dari guru urban.
Memasuki wilayah timur ke selatan adalah dataran menengah dan tinggi yang terdiri dari daerah Tiris, Pakuniran, Krucil dan seterusnya. Wilayah dataran tinggi yang ini tidak sedingin wilayah di lereng pegunungan Tengger. Cuaca Probolinggo masih terasa disini ada panas dan angina walaupun lokasinya di dataran tinggi. Kondisi alamnya tidak jauh berbedengan dengan tengger yaitu berliku dan curam. Akomodasi favorit kala itu adalah delman dan mata pencaharian penduduknya adalah berterbak sapi perah, domba perkebunan dan pertanian. Sama halnya dengan di tengger jumlah pendudukanya tidak sebanding dengan luas wilayahnya, jadi mendirikan sekolah disini disesuaikan dengan jumlah penduduknya.
Wilayah selatan kota Probolinggo terdiri daerah Malasan, Leces, Bremi, Patalan dan seterusnya. Wilayah selatan ini terdiri dari dataran rendah dan dataran sedang mata pencaharian terbanyak berdagang, bertani dan berkebun. Sesuai dengan letak geografisnya, kondisi tanahnya landai dan berbukit, iklimnya tropis dengan bahasa yang di gunakan mayoritas Madura. Jumlah penduduk di wilayah ini cukup padat sehingga pendirian sekolah di daerah ini bisa memenuhi jangkauan penduduk
Jumat, 17 April 2020
Keterkaitan Sang Mertua Dengan Presiden Soekarno
Pak Sis adalah salah seorang pejuang sebelum terjun dan berprofesi di dunia pendidikan. Kepahlawanan pak Sis telah ia buktikan atas kesetiaannya dalam membela dan mendampingi presiden Soekarno ketika melakukan pengasingan di pulau Bima. Presiden Soekarno yang sudah beberapa kali di tangkap Belanda karena di nilai membahayakan misi Belanda selama di Indonesia, tidak pernah pudar menggelorakan semangat juangnya ke seantero negeri. Pak Sis adalah salah satu pejuang muda kala itu setia menunggu kode dari sang proklamator dalam melancarkan gerakkan perjuangannya. Hingga akhirnya terjadilah pertemuan dengan sosok penggelora semangat juang yang terkenal dengan sebutan putra sang Fajar. Di pengasingan itu pak Sis mendapati berkah yang luar biasa, dimana kelahiran putri pertamannya menjadi saksi nyata perjuangan sang idola. Dengan belaian dan keberkahan sang proklamator teriring doa terbaik untuk sang buah hati hingga keturunannya kelak, jadilah pahlawan bangsa. Aamiin.
Pak Sis sejenak merenung ke masa silam, pada masa perjuangan bersama bung Karno yang tidak pernah menyerah dengan walau beberapa kali di tangkap dan hukuman oleh Belanda. Kini pak Sis kembali merasa menjadi saksi sejarah dari seorang pemuda yang tidak pernah menyerah dengan idealisnya. Pemuda yang berstatus menantunya, telah membuktikan bahwa masih ada jiwa-jiwa pejuang di bumi Pertiwi ini.
Untuk kedua kalinya di masa hidupnya dia menjadi saksi dan ikut mendampingi sosok pejuang, bagaimana sang menantu ketika menumbuhkan semangat pendidikan untuk anak-anak yang belum terjamah pendidikan, membangun sarana belajar dalam keterbatasan yang ia miliki tanpa mempedulikan kebutuhan dan kesenangan sendiri. Ketika dia sudah berada di puncak dan di elu-elukan anak buahnya pun dia tetap bekerja dan berjuang tanpa pamrih, walau harus tinggal di sebuah kamar yang sekaligus dapur. Tanpa merengek kepada mertuanya yang seorang kepala Inspektorat, dia rela menjalani kesederhanaan hidup bersama keluarga kecilnya.
Suatu waktu pak Sis di kejutkan atas tergoleknya sang menantu di sebuah ranjang rumah sakit, 'apa yang terjadi ?' tanya pak Sis pada putrinya. 'Iya pak, mas kalau malam masih bekerja', jawab Sugiarti. Dia selalu memeriksa administrasi pertanggungjawaban keuangan terutama dana bantuan dari pusat, lanjut Sugiarti. Ternyata itulah yang dilakukan menantunya, Pak Sis hanya tahu kalau menantunya dikantor adalah pekerja yang pantang menyerah, tidak pernah berhenti untuk memberi teladan kepada bawahan dan rekannya. Sugiarti sang putri tidak pernah menceritakan apa selalu suaminya lakukan setiap ada di rumah, hingga dia tahu setelah jatuhnya fisik sang menantu dan harus menginap di rumah sakit.
Tanpa terasa terucap doa tulus dari bibir laki-laki tua itu, sunggup beruntungnya aku menjadi saksi dan turut menyertai dua orang yang pilihanMu ya Tuhan.. Dua pemuda berbeda waktu yang memiliki semangat luar biasa. di umurku yang tidak seberapa ini, aku telah menyaksikan kokohnya semangat juang bung Karno membela tanah airnya, berjuang untuk meraih kemerdekan dan satu lagi semangat juang mengisi kemerdekaan. Ya Allah.. ijinkan aku meminta.. tumbuhkanlah jiwa pejuang dan rasa nasionalisme pada diri putra dan putri kami agar bangga bangsa kami, sesungguhnya kami hanya tunduk padaMu ya Robb
Kamis, 16 April 2020
Kelahiran Putra Yang Prematur
Kehilangan seorang putri kecilnya yang masih amat kecil merupakan pukulan untuk Ibu Sugiarti, terutama putri pertama yang sangat ia harapkan. Kesedihan ini semakin bertambah dengan adanya aksi pemberantasan anggota PKI yang meraja lela. Gerakan penumpasan PKI yang sudah merata di seantero tanah air, hampir tak terkendalikan karena bukan hanya di lakukan oleh aparat melainkan masyarakat awam. Antara sikap tegas atau anarkis hampir tiada beda kala itu, karena sikap marah yang mereka tunjukkan adalah sama.
Sugiarti yang sedang mengandung putra ke dua juga terdampak dengan kondisi yang demikian, ketenangan dan kenyamanan yang ia inginkan sulit sekali di dapat. Hari demi hari tiada ketenangan sedikit pun yang ia rasakan, kecuali dengan istifar dan doa yang mampu meredakan guncangan hatinya. Setiap kali pintu di gedor, sontah seluruh tubuhnya tergoncang dan perut buncitnya saja yang menjadi saksi bagaimana paniknya dia. Untuk turun dari tempat tidurpun tak mampu ia lakukan, profesi guru yang selama ini dia banggakan sudah tergoncang oleh isu PKI.
Ditengah ke uncangan jiwa dan raganya, ibu Sugiarti harus menerima kenyataan untuk melahirkan putra idamannya secara kurang bulan atau premature. Kondisi ini semakin memperburuk keadaan karena perawatan yang ia jalani harus berjalan di tengan kondisi yang rusuh dan mendebarkan.
Berjodoh Dengan Anak Kepala Sekolah
Kehadiran I Nyoman di lingkungan keluarga pak Sis untuk anak-anaknya, terutama karena pembawaannya yang dewasa dan sabar. Ketika ada suatu an di dalam keluarga, anak-anak pak Sis tidak pernah sungkan untuk melibatkan mas Nyoman sebagai penengah. Kepercayaan yang di gantungkan padanya membuat I Nyoman terharu dan bersyukur memiliki keluarga di pulau Jawa.
Sugiarti yang menyadari kehadiran I Nyoman di lingkungan rumahnya pun tidak dapat mengelak kewibaan yang di miliki I Nyoman. Setelah beberapa kali bertemu, Sugiarti permasalahpaham mengapa adik-adiknya begitu sayang dan patuh dengan sosok yang bernama Nyiman ini. Kesan pertama yang pada diri Sugiarti terhadap I Nyoman hampir tidak ada, ‘ah biasa saja, tidak terlalu istimewa’, bisik hati Sugiarti.
Selepas pendidikannya di SMA Keputrian Surabaya, Sugiarti pun pulang dan beraktifitas di rumah sebagai pengganti kedua orang tuanya yang dinas di Banyuwangi. ‘Ndun kamu bantu mas Nyoman ngajar di SD ya’, perintah pak Sis ketika pulang. ‘Ndun’ adalah panggilan Sugiarti di rumah, begitupun adik-adiknya memanggilnya mbak Ndun. Mendengar perintah bapak, sudah pasti Sugiarti tak dapat menolak. Apalagi jiwa Sugiarti yang tidak bisa diam, lulus dari sekolah menengah di kota Surabaya adalah bekal yang lebih dari cukup untuk menjadi seorang guru.
Kerjasama antar Sugiarti dengan kepala sekolahnya atau pak Nyoman sangat ideal, karena pak Nyoman yang sabar dan banyak mengalah banyak di bantuk oleh sifat Sugiarti yang tegas dan tangkas. Kehadiran Sugiarti dalam lingkungan sekolah sangat membantu kerja I Nyoman sebagai kepala sekolah. Serasa menemukan sosok pak Sis yang sudah hilang karena tugas barunya.
Kekompakan Sugiarti dan I Nyoman mungkin sudah ramal pak Sis jauh sebelum kelulusan Sugiarti dari sekolahnya di Surabaya. Sebagai seorang ayah tentu pak Sis paham dengan berbagai karakter sifat anak-anaknya, terutama putri pertamanya Sugiarti. Sugiarti yang memiliki watak hampir tak jauh berbeda dengan dirinya, pasti cukup sulit untuk menerima teman laki-laki di sekitar desa Leces yang tergolong terpencil. Dan I Nyoman adalah sosok yang tepat untuk putri kesayangannya apalagi posisi pak Nyoman yang kala itu seorang kepala sekolah. Hanya pak Nyoman saja yang mampu membust putrinya berhati keras ini menurut, ‘bapak, anak orang jangan di suruh-suruh’ jawab Sugiarti. ‘Apalagi hubungan kami sudah seperti saudara, kalau dia gak mau kan enak nanti kerja di satu sekolah’, sambung Sugiarti. Pak Sis hanya tersenyum mendengar jawaban Sugiarti. ‘Soal itu, urusan bapak’, jawab pak Sis sambil bergegas pergi. Singkat cerita, terjadilah pernikahan antara pak Nyoman dan Ibu Sugiarti, bukan main kebahagiaan pak Sis kala itu. Karena mendapatkan menantu sosok yang ia idamkan, kini pak Nyoman bukan sekedar anak kost melainkan menjadi putranya yang tertua.
Kehidupan pasangan I Nyoman dan Sugiarti berlangsung harmonis walau ada cobaan yang harus di lalui, misalnya ketika putri pertama yang bernama Ni Wayan Budiharti atau Anik harus menghadap Illahi pada usia 1 tahun karena sakit. Pada tanggal 21 Nopember 1965 lahir putra ke dua yang bernama I Made Darmayana atau Anang. Pada tanggal 10 Juli 1968 Ibu Sugiarti mengalami keguguran anak ke tiganya. Pada tanggal 19 September 1969 lahirlah anak ke empat yan bernama Ni Ketut Darmawati atau dipanggil Rini dan pada putra terakhir lahir pada tanggal 28 Oktober 1972 yang bernama I Wayan Mudayana atau di panggil Iwan.
Membangun Rumah Tinggal
Membangun rumah tinggal yang selama ini menjadi saksi perjalanan hidup rumah tangganya adalah hal yang tak terlupakan. Dengan lancar bapak menjawab pertanyaan tamu ketika ada yang bertanya tentang model rumah hinggal detail yang mengiasi sisi-sisinya. ‘Pembangunannya sekitar 10 tahun dengan banyak bantuan dari teman-teman’ itu yang selalu bapak katakan karena beliau memang tak pernah melupaka jasa orang walau sekecil apapun.
Ukuran tanah yang menurut sebagian besar orang luas dan mahal memang demikianlah adanya, bahkan denga paksaan dari penjual pak Nyoman akhirnya membeli tanah ini dengan cara mengutang, ‘Untuk pak Nyoman yang kepala Dinas harus ambil dua kapling’, begitu kata pak Gianto. Sebagaian besar masyarakat Probolinggo mengenal Pak Nyoman adalah kepala Dinas Pendidikan walaupun sebenarnya Plt. ‘Jangan pak gak enak saya mengutang, gajinya PNS ya bisa buat makan dan sekolah anak saja, bayar utang dari mana saya’ begitulah bapak menjawab, coba memilih ukuran satu kapling. ‘Sudah pak, saya lebih suka tanah itu menjadi milik bapak, apapun yang terjadi gak bakal saya jual ke orang lain’, lanjut pak Gianto dengan memaksa. Akhirnya dengan tersenyum tipis pak Nyoman mengiyakan apa yang di katakana pak Gianto.
Setelah mendapatkan dua petak kapling tanah secara ngutang, bapak tidak berpikir terlalu jauh untuk pembangunan rumah ini karena masih konsentrasi pada pelunasan tanahnya dulu, itu yang di pikirkan bapak. Namun ternyata tangan Tunah kembali menghampiri bapak, seorang teman dari dinas perhutanan ternyata telah mempersiapkan beberapa bongkah kayu Jati tua yang tak ternilai harganya, menurut ukuran bapak. ‘Bagaimana saya menerima kayu mahal itu, saya gak punya duit’, pak Nyoman berusaha menolak pemberiaan sang teman itu. ‘Jangan bilang begitu pak, tolong terima saja. Biar saya senang’, jawab teman bapak memaksa. Subhanallah.. ternyata jika Tuhan berkehendak, ternyata pemberian Illahi jauh dari apa yang kita bayangkan. Kolasi tanah yang bagus dan luas dan hadiah kayu dengan kwalitas tinggi yang tak terbayangkan selama ini.
Dengan doa dan kepasrahan kapan rumahnya akan mulai di bangun, bapak yang suka menggambar merancang sendiri bentuk dan desain rumah tinggal impiannya dan masih tersimpan hingga sekarang. Waktu pembangunan pun bertahap di lakukan sesuai ketersediaan dana yang ada. Mulai membuat kerangka pintu, jendela dan kudakuda dari kayu jati pemberian teman kemudian di tambah membuat bangunan secukupnya. Setelah di rasa cukup pantas untuk di tempati, maka pindahlah keluarga pak Nyoman dari tempatnya menumpang selama ini di sebuah kamar milik SD Sawonggaling kota Probolinggo. Bantuan dari adik nya dari Bali juga tidak dapat dia tolak, dengan menambahkan prasasti relief di dinding pagar dan masih indah sampai sekarang.
Kedatangan Tamu Presiden
Selama Pak Sis sang mertua bertugas sebagai kepala Inspektorat pedidikan, banyak sekali prestasi yang terukir selama kepemimpinan beliau disana. Pak Nyoman yang telah menekuni tugasnya sebagai penilik sekolah di lingkungan kota Probolingggo, kini menduduki tugas sebagai kepala bidang sekolah dasar dan pra sekolah di tempat yang sama dengan sang mertua. Kedudukan baru yang di dapat pak Nyoman bukan semata hadiah dari sang mertua, namun waktu dan prestasinya telah membuktikan bahwa di sangat layak mendapatkan tempat tersebut di dunia pendidikan.
Setelah pak Sis purna tugas, posisi kepala Inspektorat telah di gantikan oleh bapak Daus… yang tempat tinggalnya di Surabaya. Pak Daus yang kala itu sedang mengalami masalah kesehatan harus memenuhi perintah dokter untuk melakukan perawatan sesuai petunjuk dokter. Tugas kedinasan yang cukup menguras fisiknya yang belum sehat harus ia limpahkan kepada salah seorang bawahannya. Dan orang tersebut telah di tunjuk dan menerima tugas dan tanggung jawab pak Daus, dialah Pak Nyoman Benben.
Beberapa agenda besar tugas pak Daus sebagai kepala Inspektorat telah pak Nyoman lakukan, dari pengadaan sarana untuk sekolah dasar, pra sekolah, pengadaan kantor Dinas Pendidikan hingga pengadaan sarana sekolah menengah kejuruan. Pengadaan sarana SMK terbesar se Jawa Timur berhasil menarik orang pertama Indonesia bapak presiden Soeharto untuk bekunjung ke kota Probolinggo yang kecil. Ternyata pamor pak Nyoman Benben mampu menenggelamkan beberapa kelapa dinas yang lain di Jawa Timur, sebuah momen yang tak terlupakan.
Tiba pada diskusi penyambutan sang presiden berbagai persiapan pun di lakukan dengan mengerahkan seluruh tenaga dan argumentasi. Ketika terjadi perdebatan untuk hiburan penyambutan bapak presiden, berbagai kalangan usul untuk mendatangkan dari Surabaya. Dengan argumen yang realistis dan berwibawa pak Nyoman menolak usulan tersebut walau sebagian besar orang berpendapat kwalitas dan nama yang terkenal. ‘Kalau sedikit-sedikit mendatangkan drumband atau hiburan dari Surabaya, kapan anak-anak kita akan tampil?’ itulah argumen mematikan di pak Nyoman. Dengan alasan pengeluaran dan loyalitas kepada hasil kerja guru-guru di wilayah Probolinggo, otomatis alasan ini membuat guru-guru semakin bangga dengan sifat pemimpin mereka.
Momen penyambutan presinden dengan tamu dari berbagai wilayah di Jawa Timur adalah momen langka untuk ukuran kota Probolinggo yang kecil. Dan kebanggan ini harus di rasakan semua murid dan guru-guru di wilayah Probolinggo. Melalui perdebatan yang sengit, akhirnya keputusan terakhir berpihak pada usulan pak Nyoman yaitu menggunakan hiburan dan penyambutan dari siswa siswi dan guru wilayah Probolinggo
Numpang Tinggal Di Sekolah
Menjadi guru PNS dan memiliki kedudukan yang cukup tinggi jaman dulu, tidak menjanjikan kehidupan yang sempurna. Walaupun pak Nyoman sudah menjadi panutan untuk guru-guru di lingkungan Probolinggo, kesehariannya bisa di bilang jauh dari sebutan layak. Pengorbanan dan perjuangannya sebagai guru hingga penilik sekolah selama ini ia lakukan dengan apa adanya tanpa berpikir pamrih sama sekali.
Kesederhanaan keluarga kecil Pak Nyoman benben sangat jelas dari tempat tinggalnya waktu itu, yang hanya menumpang si sebuah ruangan yang mungkin berfungsi sebagai dapur sebelumnya. Keterbatasan yang ia alami waktu itu tidak membuat keluarga kecil ini manja dengan memanfaatkan kedudukan pak Sis sebagai kepala instansi Pendidikan. Dengan menerima uluran bantuan dari sebuah sekolah yang bernama SD Sawonggaling di dalam kota Probolinggo, keluarga kecil ini selalu bersyukur dalam keseharian.
Pengabdian Pak Nyoman di dunia pendidikan kini teruji lagi, beliau tidak ingin berjuang setengah hati sehingga memutuskan untuk hijrah ke kota probolinggo dan menjauhi kenyamanan yang sudah di rasakan di rumah pak Sis di Leces.
Pengorbanan pak Nyoman dengan keluarga yang hidup sederhana dengan menumpang di sebuah ruangan di sekolah SD Sawonggaling merupakan ujian terindah dalam hidup rumah tangganya. Tahun pertama di sebuah ruang sekolah itu, ibu Sugiarti melahirkan putri keempat mereka yang bernama I Ketut Darmayanti. Dan pada tahun yang sama pula 1969, pak Nyoman di angkat sebagai kepala seksi bidang sekolah Dasar dan Pra Sekolah di Instansi Pendidikan. Tiga tahun kemudian lahirlah putra kelima mereka yang bernama I Wayan Mudayana.
Keteguhan hari pak Nyoman untuk meningkatkan mutu pedidikan sudah dia buktikan dengan tindakan dan komunikasi selama ini. Hampir di semua bidang pendidikan pak Nyoman tidak mau menunggu untuk memperjuangkan mutu pendidikan. Bidang sekolah dasar dan pra sekolah yang yang menjadi tanggung jawab tugasnya di inspektorat telah ia perjuangkan dengan meningkatkan jumlah saran sekolah dasar dan taman kanak-kanak. Dan pada bidang sekolah menengah khususnya kejuruan, pak Nyoman juga tidak mau diam dan memperjuangkan sarana pendidikan sekolah menengah kejuruan di Probolinggo menjadi yang terbaik se Jawa Timur
Pengadaan sarana dan tempat pendidikan sekolah menengah kejuruan saat itu sedang di galakan oleh perintah pusat. Hampir seluruh kota si Jawa Timur mendapatkan kuota pengadaan di kota / kabupaten masing-masing, termasuk kota Probolinggo. Pak Nyoman yang kala itu berstatus Plt Kepala dinas pendidikan mendapatkan penghargaan yang luar biasa dengan di percaya sebagai tuan rumah persemian bantuan sarana SMK se Jawa Timur. Peresmian sarana SMK se Jawa Timur pun terjadi tepatnya di stadion Bayuangga kota Probolinggo dengan tamu kehormatan orang nomer satu di Indonesia yaitu Presiden Soeharto.
Begitu banyak tugas mulia yang telah pak Nyoman tekuni tanpa mengeluh dan pamri, hingga akhirnya tangan Tuhanpun menghampirinya. Tuhan memahami keinginan keluarga kecil ini untuk membangun rumah tinggal. Sehingga rumah tinggal idaman yang sangat nyaman dapat di wujutkan dengan perpanjangan tangan Allah SWT tentunya.
Menjadi ketua PGRI
Tujuh tahun setelah menekuni posisi sebagai kepala sekolah di SD Asmorobangun, pak Nyoman mendapat tugas baru sebagai penilik sekolah yang di wilayah Kadengan kota Probolinggo. Perpisahan pak Nyoman sebagai kepala sekolah dengan anak didik dan rekan guru di SD Asmorobangun dapat di abadikan dalam sebuah foto kenangan.
Dengan berbekal pengalamannya selama mengajar dan memimpin di SD Asmorobangun, semangat pak Nyoman tak pernah padam dalam memajukan pendidikan khususnya di wilayah Probolinggo. Tugas pak Nyoman yang kala itu sebagai penilik sekolah merupakan posisi yang tepat untuk menggencarkan semangatnya ke seluruh guru binaannya. Semangat yang selama ini berkorbar di dadanya telah tersalurkan ke seluruh guru di wilayah probolinggo.
Aktif, komunikatif dan bersemangat itulah kesan pembawaan pak Nyoman Benben, kedatangan pak Nyoman di lingkungan sekolah selalu menggerakkan semangat guru dalam pendidikan. Tidak heran bila akhirnya pak Nyoman menjadi kandidat yang tepat sebagai ketua PGRI, tanpa memandang latar belakang pendidikan yang mungkin masih ada yang lebih tinggi dari pada tamatan SGA.
Keaktifannya dalam berorganisasi bukan hanya membius guru-guru binaannya di wilayah Probolinggo, hampir setiap seminar yang ia ikuti selalu menjadi pribadi yang unggul dari segi kognitif dan pengetahuan. ‘Saya tidak pernah menganggap remeh suatu ujian’, itu yang selalu di sampaikan bapak setiap kali dia bercerita tentang pengalaman hidupnya. ‘Setiap kali ada penataran, bawaan saya paling banyak di banding peserta lain, bisa di bilang buku atau bahan penataran saya bawa semua dengan tas yang terpisah dengan baju’. Teman-teman penataran banyak juga yang mengolok-olok, katanya refresing lah, jangan tertalu serius lah, cari teman, jalan-jalan. Tapi kalau untuk saya penataran itu kesempatan saya menambah ilmu, saya sangat menghargai pemateri siapapun dia karena dia datang untuk menyampaikan ilmu, itulah moto pak Nyoman. Tak heran di setiap penilaian nama I Nyoman Benben selalu di peringkat pertama dengan nilai tertinggi, dan pujianpun selalu ia terima dari teman peserta seminar hingga narasumber
Rabu, 15 April 2020
menjadi PNS
Beberapa tamu tak lupa memberi ucapan selamat kepadaku yang telah lulus menjadi PNS, setelah dua tahun aku mengabdi pada sekolah swasta. Beberapa sepupu suami yang terlebih dahulu menjadi PNS pun berbagi cerita sejarah hingga dia menjadi PNS. Ya, menjadi guru PNS saat ini sangat berbeda dengan jaman bapak, terutama adanya tunjangan sertifikasi. Mendengar diskusi kami, bapak hanya tersenyum sambil terucap syukur, ‘bagus kalo begitu, memang seharusnya demikian’, bapak menambahkan.
Perbincanan kami semakin seru dengan keikut sertaan bapak yang berbagi pengalaman hidupnya sehingga menjadi PNS. Setelah tamat dari SGA Dhoho Kediri saya diterima mengajar di SGB Katholik pada pelajaran berhitung dan olah raga di SMP Louist, bapak menjawab ketika salah seorang sepupu kami bertanya. Pada waktu itu sekolah swasta dengan yayasan Kristen atau Katholik adalah sekolah elite dan favorit untuk guru-guru. Guru-guru pemula sampai guru negeri seolah saling berkompetisi untuk dapat mengajar di sekolah tersebut, bapak melanjutkan ceritanya. Pada jaman dulu guru negeri di perbolehkan untuk mencari jam tambahan di luar sekolah induknya, mungkin pertimbangan dari kelangkaan jumlah guru pada waktu itu. Dan kesempatan ini tentu di manfaatkan untuk menambah pundi-pundi penghasilan setiap guru.
Wali murid sekolah swasta jaman dulu kebanyakan dari golongan menengah ke atas atau pengusaha, biasanya mereka memilih sekolah swasta untuk mengejar gengsi yang terkenal sebagai sekolah mahal. Warga keturunan Cina dan Belanda sudah pasti memilih sekolah swasta Kristen atau Katholik atas pertimbangan menghindari pelajaran agama Islam di sekolah negeri atau swasta nasional.
Sebelum lulus sebagai PNS, teryata bapak mendapat tawaran untuk menjadi guru tetap di sekolah tersebut. Diantara persaingan yang cukup berat dari rekan kerjanya, bapak menjadi salah satu kandidat yang mendapat tawaran sebagai guru tetap di yayasan. Namun di tengah kebimbangan yang ia rasakan, ternyata bapak memilih menjadi guru tidak tetap karena ia bisa leluasa membagi ilmunya lebih luas lagi yaitu dengan mengajar di sekolah lain.
Pilihan bapak menolak menjadi guru yayasan ternyata tepat, karena tidak lama kemudian dia mendapatkan SK mengangkatan sebagai Pegawai Negeri. Status barunya sebagai pegawai negeri membuat bapak mengungkapkan rasa syukurnya yang tak terhingga kepada sang pencipta. Tidak lupa bapak menympaikan juga kabar gembira ini kepada sepupunya bli Made yang selama ini menjaganya di Kediri. Dengan SK di tangan, I Nyoman berpamitan dengan Made Kereg sepupunya, ‘Bli, aku mendapat pengangkatan menjadi pegawai negeri’, ucap Nyoman membuka percakapan. ‘Oh ya?.. selamat ya’ jawab bli Made. ‘Akhirnya perjuanganmu selama ini berbuah hasil, kamu jadi pegawai negeri dan kehidupanmu sudah di jamin oleh negara’ lanjut bli Made. Lalu I Nyoman menyampaikan bahwa iya di tempatkan di Probolinggo atau harus berpisah dengan sepupunya itu, ‘Bli Made terima kasih telah mengijinkan aku tinggal di sini, aku lulus PNS dan di tempatkan di Probolinggo’, Nyoman melanjutkan percakapannya. ‘Loh penempatannya jauh sekali, kenapa bukan di sekitar Kediri saja? ‘ tanggapan bli atas beritu itu. ‘Wah kalo bisa memilih jadi guru yayasan pasti lebih bagus kan, kamu gak perlu jauh-jauh kerjanya bisa tetap tinggal sama saya di Kediri’ lanjut bli Made. I Nyoman hanya bisa tersenyum atas apa yang disampaikan bli Made itu.
Menjadi Pegawai Negeri pada masa itu sebenarnya bukan pilihan terbaik untuk kebanyakan orang, mengapa?.. karena gari PNS pada masa itu tergolong kecil di bandingkan gaji dari sekolah yayasan. Menjadi guru PNS pada masa itu sesuai dengan motonya, ‘Guru adalah Pahlawan tanpa tanda Jasa’, mengabdi kepada Negara dengan resiko di tempatkan dimana saja di wilayah Indonesia, Siap ?.. !.
masa kecil
I Nyoman Benben lahir didesa Bedulu kec Belahbatuh kab. Gianyar Bali pada tanggal 10 Juni 1931. Ayahnya bernama Wayan Nombrog dan ibunya Ni Wy Klepon yang bekerja sebagai penjual nasi di warung dekat pasar. Kehidupan yang sangat sederhana dan masa penjajahan mungkin menjadi salah satu sebab sulitnya I Nyoman memiliki saudara kandung, dari empat saudara yang telah di lahirkan meme Klepon (sebutan Ibunda) hanya I Nyoman saja yang bertahan. Ada cerita lucu dalam sejarah nama ‘Benben’, yaitu berawal dari keputus asahan sang bape wayan karena setiap anak yang di lahirkan istrinya tidak bertahan lama, jadi kata ‘ben’ berarti biarkan saja. Jadi maksudnya adalah anaknya ini mau bertahan atau tidak, tak ada bedanya atau pasrah saja, wah kasiahan sekali ya.. Alhamdulilaah nama I Nyoman Benben membuat putra bape wayan panjang umur hingga 90 an, semoga sehat selalu.
Bape Wayan Nombrog (sang ayah) di kenal sebagai seorang pesilat dilingkungannya. Seorang jawara atau pesilat pada masa itu memang di butuhkan, apalagi di Bali banyak sekali kegiatan keagamaan atau adat istiadat yang masih membutuhkan keamanan atau semacam pawang, sampai sekarang di sebut polisi daerah atau. Suatu ketika ada sebuah keluarga ningrat yang membutuhkan pengawal, dan ternyata bape wayanlah yang terpilih. Bape Wayan bertugas menjadi pengawal seorang putri yang bernama Tekin dari keluarga ningrat tersebut. Selama bape wayan menjadi pengawal, ternyata putri Tekin menaruh minat sehingga terjadilah pernikahan antara bape wayan dengan putri Tekin. Dari pernikahan kedua sang ayah, I Nyoman mendapatkan lima orang adik dari ibu Tekin. Kelima adik tersebut bernama Wayan Pasti, Made Pasta, Nyoman Leci, Ketut Masta dan Wayan Tengsi. Walaupun berbeda ibu, I Nyoman benben kecil tidak sulit untuk mengambil kasih sayang dari meme Tekin dan kelima saudara tirinya karena pembawaannya yang patuh, cerdas dan cakap.
Tahun 1938, I Nyoman Benben bersekolah di SRN Wanayu hingga kelas III dan pindah ke SRN Gianyar pada kelas IV hingga lulus. Kecerdasan I Nyoman Benben kecil tidak hanya menarik bagi keluarga dan gurunya saja, seorang warga Belanda yang melihatnya pun tertarik untuk mengajaknya tinggal di rumahnya. Pertemuan itu terjadi ketika I Nyoman Benben kecil berjualan souvenir di tempat wisata Bedugul, tanpa diduga Tuan Belanda itu balas menyapanya dan mengajak tinggal di rumahnya Denpasar. Merasa tertarik dengan tawaran tuan Belanda ini, I Nyoman pulang menemui sang ayah dan meminta ijin untuk menerima tawaran tuan Belanda itu. ‘bape, saya mau kerja di Denpasar’, mendengar permintaan sang putra ternyata sang ayah mengijinkan dengan catatan jangan lama-lama
Menjadi Kepala seksi bidang di Inspektorat
Setelah melalui tingkatan profesi di dunia pendidikan, pada penguhujung karirnya pak Sis menempati posisi tertinggi di dunia pedidikan di wilayah Probolinggo. Posisi kepala Inspektorat atau kepala dinas Pendidikan sampai saat ini bukanlah posisi yang di pandang sebelah mata, karena untuk mencapai itu semua pasti membutuhkan penilaian yang akurat dari pusat. Kecamatan Leces dari dulu hingga sekarang masih merupakan wilayah yang jauh dari jangkauan keramaian dan pusat pemerintahan. Kalau dibandingkan dengan jumlah, intelektual dan kampasitas guru guru di wilayah lain di Probolinggo pasti jauh perbandingannya. Namun sosok pak Sis ternyata mampu melibas pamor guru-guru yang lain waktu itu, walaupun beliau berlatar dan berkedudukan di kecamatan terpencil yang bernama Leces.
Pak Sis yang memiliki visi misi besar untuk dunia pendidikan tidak menyiayiakan kesempatannya untuk mengukir sejarah pendidikan. Dengan berbekal sang menantu andalan, beliau seolah mendapat energy ekstra melanjutkan cita-citanya yang mulia. Karena tangan tuhan sudah menentukan dan mempermudah segalanya dengan cara mempertemukan dia dengan sang menantu. Gebrakan pertama yang pak Sis lakukan adalah menarik sang menantu dari kecamatan terpencil Leces menuju area yang lebih luas yaitu kantor Inspektorat pendidikan. Ya, tidak lama setelah pak Sis meduduki jabatan sebagai kepala Inspektorat, beliau menarik I Nyoman untuk menjadi penilik sekolah di wilayah kota Probolinggo tepatnya daerah Kademangan. Seolah gayung bersambut, cita-cita I Nyoman yang selaras dengan tujuan mengisi kemerdekaan yaitu menyediakan saran pendidikan di seluruh warga wilayah probolinggo sesuai hak pendidikan untuk seluruh warga Probolinggo.
Atas dasar kejernihan hatinya I Nyoman tidak pernah sentangah melangkah dalam menekuni dunianya. Dunia pendidikan mengantarkan I Nyoman untuk bermimpi besar di dunia pendidikan. Setelah melakukan survey di daerah Leces yang cukup jauh dari kebisingan kota, I Nyoman dapat membuat kesimpulah apa yang di butuhkan masyarakat pada umumnya yaitu sarana dan motivasi belajar mulai dari dini.
Mendapatkan hak pendidikan secara merata untuk warga Negara bukan lagi semboyan belaka, menyediakan sarana pendidikan dan guru-guru sebagai lokomotifnya akan menjadi nyata dengan rancangan yang sudah lama ia siapkan.
Setelah satu periode I Nyoman menekuni tugasnya sebagai penilik sekolah di kecamatan Kademangan kota Probolinggo, posisi baru sebagai kepala seksi bidang pendidikan dasar dan pra sekolah sudah menanti. Meduduki posisi sebagai kepala seksi bidang pendidikan dasar dan pra sekolah sudah melebihi ekspektasinya selama ini. Bermula dari seorang kacong Belanda, tak pernah termimpikan olehnya akan menjadi seorang kepala seksi bidang di instansi pendidikan. I Nyoman yang tidak lama menekuni tugas di wilayah kota Probolinggo sebagai penilik sekolah, kini posisinya langsung menjadi kasi, yang tidak lain sebagai kaki dan tangan kepala Instansi pendidikan atau mertuanya sendiri.
Bekerjasama Dengan Universitas Merdeka Malang
Sepak terjang I Nyoman dalam dunia pendidikan sudah bukan hal yang sulit untuk di buktikan, banyak sekali kegiatan yang ia telah lakukan untuk pendidikan. Dengan dukungan dari pabrik kertas Leces ia sangat ringan melangkah ke berbagai pelosok untuk membangkitkan minat pendidikan di masyarakat. Bermula dari teman-teman pegawai pabrik kertas Leces, I Nyoman berkenalan dengan pendiri universitas Merdeka Malang yang yang bernama bapak Sarmidi Mangun Sarkoyo. Petemuannya dengan bapak Sarmidi ternyata banyak memiliki kesamaan tentang suatu misi pada pendidikan. Pak Sarmidi memahami ke risauan I Nyoman tentang pendidikan di desa Leces terutama dalam hal sarana. Ibarat gayung bersambut, satu masalah yang selama ini menjadi beban I Nyoman sudah terselesaikan. Pak Sarmidi memfasilitasi sarana pembangunan SMP Dwikora, sehingga anak-anak yang lulus pendidikan SD Asmorobangun tidak perlu jauh-jaun ke kota Probolinggo untuk melanjutkan atau bahkan terpaksa berhenti.
Tangan Tuhan selalu ada untuk niat baik, mungkin itulah ungkapan yang salama ini I Nyoman percayai. I Nyoman tidak pernah menyerah atas segala kekurangan dirinya, ketidak tersediaan SMP di desa Leces kala itu memang di luar wewenang dia sebagi seorang guru. I Nyoman sadar untuk membangun sebuah sekolah pasti membutuhkan aturan yang tidak mudah karena banyak sekali alur yang harus di lalu hingga sampai ke pusat. Kebutuhan sebuah sarana SMP yang mendesak tidak dapat segera di wujutkan, walaupun semua tahu bahwa kebutuhan pendidikan SMP ibaratkan bom waktu untuk mengisi masa kemerdekaan bahwa pendidikan adalah hak setiap warga Negara.
Seleksi Kepala Sekolah
Dua tahun I Nyoman bekerjasama dengan pak Sis dan melaksanakan tugasnya sebagai guru di SD Asmorobangun, banyak sekali kemajuan yang terjadi di sekolah maupun masyarakat di Leces. Berawal dari niat baik I Nyoman yang selalu di dukung oleh pak Sis yaitu tentang meningkatkan minat belajar masyarakat di desa Leces. Dengan cara pergi kepemukiman penduduk yang tergolong miskin dengan membagikan buku dan alat tulis gratis yang ia dapat dari sumbangan pabrik kertas Leces.
Dua tahun yang ia lalui bersama pak Sis kepala sekolah adalah pelajaran berharga untuk I Nyoman. Kedewasaan dan wibawa pak Sis dalam mengambil ke putusan hingga komunikasi yang interaktif dengan berbagai kalangan sangat ia kagumi. Tidak salah jika pak Sis adalah sosok pengidola sang proklamator presiden pertama kita Ir. Soekarno. Keteguhan pak Sis dalam perjuangan bersama presiden Soekarno telah ia buktikan sebagai pengikut selama presiden di asingkan ke pulau Bima. Dan dalam perantauan itu, lahirlah putri pertamanya yang bernama Sugiarti. Salah satu kenangan berharga dalam sejarah kehidupan rumah tangganya.
Setelah dua tahun belajar dengan pak Sis, akhirnya pak Sis mendapatkan tugas baru sebagai penilik sekolah atau sekarang dikenal dengan nama pengawas sekolah dan di tempatkan di kota Banyuwangi. ‘Pak Nyoman titip sekolah ya’, pak Sis membuka percakapan untuk maksud perpisahan karena tugas barunya. ‘Selama ini pak Nyoman banyak memberi teladan kepada anak-anak dan rekan guru yang lain, jangan berhenti berjuang untuk kebaikan semua’, sambung pak Sis. I Nyoman yang sudah tahu berita pengangkatan pak Sis sebagai penilik sekolah, hanya bisa mengangguk walau ada perasaan berat di tinggalkan sosok ayah yang selama ini baru ia temukan di pulau Jawa.
Kepergian Pak Sis ke Banyuwangi adalah karena tugas, sama halnya seperti perpisahan ia rasakan dengan bli Made Kereg sepupunya. Bedanya bukan dirinya yang pergi, namun dirinyalah yang ditinggalkan dengan tanggung jawab cukup besar yaitu sekolah dan rumah tinggal pak Sis dan seisinya. I Nyoman yang baru dua tahun menjadi guru di SD Asmorobangun, bukanlah guru senior disana walaupun ia merasa bertanggung jawab lebih besar dari pada sebelumnya. Kekosongan seorang pemimpin di SD Asmorobangun cukup menyulitkan kelola admonistrasi di sekolah tersebut, karena semua keputusan tentu berdasarkan tingkat ke tugasan. Sementara rumah tempat tinggal atau kos I Nyoman pun seolah kehilangan induknya, karena anak-anak pak Sis harus tinggal di rumah sementara pak Sis ditemani Istri bertugas ke Banyuwangi.
Selama ini seolah I Nyomanlah kakak tertua dari anak-anak pak Sis, karena pak Sis memang memperlakukan I Nyoman layaknya anak sendiri. Terutama karena putri tertua pak Sis sedang menempuh pendidikan di Surabaya. Kehadiran I Nyoman di rumah tinggal pak Sis juga merupakan teladan untuk anak-anak pak Sis hingga sekarang, melebihi kakak ipar pada umumnya. Ternyata benar apa yang katakana sepupunya Made Kereg, bahwa I Nyoman pasti di terima di manapun kamu berada karena kecerdasanmu terpancar dari hati.
Satu tahun setelah di tinggal pak Sis, SD Asmorobangun mendapat kuata untuk posisi kepala sekolah dengan cara seleksi di Surabaya. Beberapa gurupun mendapat kesempatan untuk menerima tes posisi kepala sekola . Salah satu kandidatnya tentu I Nyoman benben, setelah hasil seleksi turun ternyata harapan pak Sis pun menjadi nyata bahwa I Nyoman berhasil lulus dengan nilai tertinggi. Pengangkatan I Nyoman sebagai kepala SD Asmorobangun disambut dengan suka cita oleh rekan guru dan anak didik tentunya.
SD ASMOROBANGUN
Mungkin SD Asmorobangun adalah sekolah tertua di desa Leces yang sekarang bernama SDN 1 Leces. Tidak sulit untuk mencari SD Asmorobangun, karena letaknya di tepi jalan utama yang menghubungkan kota Probolinggo dengan kabupaten Lumajang hingga kota Jember. Begitu memasuki halaman sekolah, I Nyoman tidak merasa keanehan atau sseram yang selama ini di dengarnya. Sekolah ini tidak terlalu jauh berbeda dengan kebanyakan sekolah di kota Kediri dan sekitarnya. Halaman yang luas, beberapa kelas yang cukup bagus sarananya kecuali cuaca yang memang lebih panas dari yang Nyoman bayangkan.
‘Selamat datang pak Nyoman, nama saya Siswo Soeharto, panggil saja Pak Sis’ ucap kepala sekolah memberi sambutan atas kedangan I Nyoman di sekolah nya. ‘Semoga kerasan ya selama di sini’ sambung pak Sis sembari senyum mengembang. Mendengar sambutan yang hangat untuknya, I Nyoman begitu terharu hingga tak bisa membalasan sambutan tersebut, ‘terima kasih Pak, saya senang sekali berada disini, semoga saya tidak mengecewakan’, akhirnya I Nyoman bisa membalas sambutan pak Sis. ‘Mari masuk, anggap saja di rumah sendiri, jangan sungkan kalo ada yang mau di tanyakan atau di usulkan. Kedatangan pak Nyoman sudah saya nanti-nantikan. Hahaha’, mendengar candaan yang sangat ramah, I Nyoman semakin yakin bahwa pilihannya adalah tepat. Penempatan pertamanya sebagai PNS berada di lingkungan yang tepat, dia merasa kasih seorang ayah ketika berbincang dan dekat dengan pak Sis.
Hari pertama I Nyoman mengajar di SD Asmorobangun, dia mendapati anak-anak yang sudah siap untuk belajar. Ternyata ketertinggalan kabupaten Probolinggo hanya isu, begitu I Nyoman bergumam. Hal yang perlu dia lakukan adalah penyesuaian bahasa dan budaya setempat, tidak sesulit yang saya bayangkan, gumam I Nyoman sembari tersenyum.
Setelah cukup lama I Nyoman berbaur dengan warga desa Leces, dia sadar bahwa kebutuhan akan sekolah memang sangat mendesak. Ternyata wali muridnya selama ini tidak mewakili warga desa Leces secara umum. Desa Leces yang letaknya cukup jauh dari pusat pemerintahan ternyatan memiliki ketimpangan status social yang cukup jauh. Anak-anak yang menjadi muridnya sebagian besar dari keluarga berada atau setidaknya mengerti tentang pendidikan. Sedangkan keluarga yang status sosialnya di bawah masih banyak yang belum mendapatkan kesempatan pendidikan bahkan tidak menaruh minat pada pendidikan.
Pak Sis yang selama ini sangat komunikatif dapat menerima apa yang di sampaikan I Nyoman tentang kondisi di desa Leces. Desa Leces tergolong kaya dengan pendapatan karena ada pabrik yang berstatus BUMN dengan produksi kertasnya. Walaupun sekarang hanya meninggalkan besi tua dan hutang pesangon pegawainya karena pengelolaan yang amburadul dengan hutang yang tinggi. ‘Jumlah sekolah di desa Leces waktu itu sangat kurang pak’, I Nyoman menyampaikan usulnya untuk mendirikan sekolah SMP dan SMA di sana. Kasihan anak-anak harus sekolah ke kota Probolinggo dengan jarak sekitar 8-9 Km’. Karena inilah yang menyebabkan sebagian besar anak-anak di desa Leces hanya lulus sampai SD, apalagi yang tidak sempat sekolah sama sekali.
Tinggal Di Rumah Kepala Sekolah
Pak Sis kepala sekolah adalah tokoh yang cukup di segani kala itu, baik di lingkungan rumah tinggal, di instansi pendidikan bahkan di pemerintahan. Pak Sis memiliki seorang istri dan 10 orang anak, tiga laki-laki dan tujuh perempuan. Anak pertama pak Sis adalah seorang gadis yang bernama Sugiarti. Sugiarti dilingkungan keluarganya di kenal galak bahkan melebih ayahnya, mungkin karena ia merasa memiliki tanggung jawabnya yang besar dan menjadi panutan adik-adiknya. Kala itu Sugiarti masih menempuh pendidikan Sekolah menengah keputrian di Surabaya dan menetap dan asrama Surabaya. Seminggu sekali biasanya Sugiarti pulang untuk melepas kangen dengan orang tua dan adik-adiknya di rumah. Sebagai anak tertua, kehadiran Sugiarti memang sangat di butuhkan ibunya yang telah cukup sibuk mengurus anak-anaknya yang lain. Hal yang pasti terjadi adalah adik-adik Sugiarti pasti tampak lebih sibuk menyambut kedatangan sang kakak terutama tentang kerapian rumah.
Kedua adik perempuan Sugiarti yang bernama Lilik dan Suci biasanya hanya diam dan mengangguk ketika Sugiarti berbicara apalagi memerintah. Karena mereka paham bahwa sang ibu sedang sibuk dengan kedua adik kecil mereka ninik dan nunuk. Ninik dan Nunukpun merasakan kasih sayang kakak Sugiarati bagai ibu kedua mereka, mungkin karena tautan usianya yang cukup jauh.
Kehadiran I Nyoman di rumah pak Sis di terima dengan suka cita, terutama tetika pak Sis harus pindah tugas ke Banyuwangi. Begitupun I Nyoman merasakan hal yang sama, terutama karena ketiga putra pak Sis yang sudah cukup besar dapat menjadi temannya sehari-hari. Sugiharto putra kedua pak Sis yang kala itu sudah bekerja di pabrik kertas Leces menjadi teman ngobrol yang pas. hingga akhirnya membantu I nyoman mendirikan beberapa sekolah swasta.
SELALU RAPI
Sebuah rumah di tepi jalan besar bagi kebanyakan orang adalah suatu impian, begitupun rumah bapak I Nyoman Benben yang beralamat di Jl. Hos Cokroaminoto no. 38 Kota Probolinggo. Dengan luas tanah 11 x40 m dan 1/3 di pake untuk bangunan rumah tampak serasi dan cocok di sebut rumah sehat. Beberapa murid saya pun jika berkunjung kesini selalu membawa senjata selfinya yaitu tongsis dan kamera.
Hamparan rumput halus di halaman depan dan tengah belakang seolah tidak mau kalah dengan ke elokan relief Bali yang di sisi dinding pagar. Keseharian bapak semasa pensiun adalah berkebun dan menata rumah tinggalnya. Seolah tak ada hal yang terlewatkan dari jangkauan bapak hingga sehelai rumput pun tak lepas dari pengawasannya. Mulai dari cat dinding, pagar, paving dan tanaman yang mengisi halaman rumahnya pun harus sesuai dengan selera bapak, bukan alasan mahal atau tren suatu tanaman namun selera dan keserasian. Di bagian dalam rumah apalagi, perabot besar dan kecil tertata asri dan rapi sehingga membuat betah setiap orang yang berkunjung ke rumahnya. Setiap tamu yang datang selalu memuji ke elokann rumah bapak I Nyoman Benben ini.
Saya sebagai pendatang sangat bersyukur menjadi penghuni tetap rumah ini, karena pujian padaku tak dapat di elakkan ketika tamu datang berkunjung. Sepeninggal ibu mertua, akulah wanita tercantik penghuni rumah itu, karena kedua anaku laki-laki dan yang lain adalah suami dan bapak mertuaku tercinta. Kerapian tatanan rumah bagian dalam tak pernah menyibukkanku, ibaratnya kerapian ini segera terjadi secepat aku membuka mataku. (Luar biasa…). Kedua putraku juga bukan anak yang rewel, ketika mainannya yang belum seminggu di beli menjadi bersih tak tersisa, bersih dan cemerlang karena sudah jadi penghuni gudang. Seperti mereka mengerti kebiasaan eyangnya, mengetahui mainannya lenyap anak-anaku memilih menghibur diri dengan membuat mainan sendiri dari karton yang di gambar dan di gunting. Tanpa malu-malu mereka selalu memamerkan kreasinya kepada tamu, ‘Nih aku punya Hp baru’, kata adit yang berumur tiga tahun dengan menunjukan kotak karton terbalik dan sudah di beri angka tombol Hp. Inilah surgaku sebagai ibu muda, Alhamdulillah.
Sekitar satu minggu setiap hari raya Idul Fitri, kami selalu kedatangan tamu terutama sepupu suami untuk sungkem kepada sesepuh keluarga yaitu bapak mertuaku I Nyoman Benben. Tempat favorit mereka jika bertandang ke rumah adalah teras belakang yang menghubungkan ruang makan dan dapur. Teras itu dapat menampung sekitar sepuluh orang, dengan selonjor di lantai keramik atau merebahkan kepalanya sambil memandang langit. Anak-anak yang berkunjungpun tidak kalah seru berada di rumah itu karena mereka dapat menyibukan diri dengan memberikan ikan Koi atau sekedar menghitung belalang dan siput di taman.
Jumat, 10 April 2020
Menjadi PNS
Setelah tamat dari SGA Dhoho, I Nyoman diterima mengajar di SGB Katholik pada pelajaran berhitung dan olah raga di SMP Louist. Pada waktu itu sekolah swasta dengan yayasan Kristen atau Katholik adalah sekolah elite dan favorit untuk guru-guru. Guru-guru pemula sampai guru negeri seolah saling berkompetisi untuk dapat mengajar di sekolah tersebut.
Pada jaman dulu guru negeri di perbolehkan untuk mencari jam tambahan di luar sekolah induknya, mungkin pertimbangan dari kelangkaan jumlah guru pada waktu itu. Dan kesempatan ini tentu di manfaatkan untuk menambah pundi-pundi penghasilan setiap guru.
Begitupun para wali murid yang terdiri dari golongan menengah ke atas atau golongan pengusaha biasanya memilih sekolah swasta tersebut karena mengejar gengsi dan terkenal sekolah mahal. Warga keturunan Cina dan Belanda sudah pasti memilih sekolah itu juga atas pertimbangan menghindari pelajaran agama Islam di sekolah negeri atau swasta nasional.
Karir I Nyoman sebagai seorang guru ternyata mendapat simpatik dari Suster kepala atau kepala yayasan di sekolah tersebut. Diantara persaingan yang cukup berat dari rekan kerjanya, I Nyoman menjadi salah satu kandidat yang mendapat tawaran sebagai guru tetap di yayasan. Menjadi seorang guru tetap yayasan adalah impian semua guru, karena mendapat fasilitas dan gaji lebih baik dari pada guru tidak tetap. Namun di tengah kebimbangan yang ia rasakan, ternyata I Nyoman lebih memilih menjadi guru tidak tetap karena ia bisa leluasa membagi ilmunya dengan lebih luas lagi yaitu dengan mengajar di sekolah lain.
Pilihan I Nyoman menolak menjadi guru yayasan ternyata tepat, karena tidak lama kemudian dia mendapatkan SK mengangkatan sebagai Pegawai Negeri. Status barunya sebagai pegawai negeri membuat I Nyoman mengungkapkan rasa syukurnya yang tak terhingga kepada sang pencipta. Perjuangan dan pengormabannya selama ini telah berbuah hasil yaitu menjadi pegawai negeri yang pasti akan membuat meme dan bapenya bangga. Tidak lupa I Nyoman sampaikan juga kabar gembira ini kepada sepupunya yang selama ini telah menjadi penjaganya selama di Jawa. ‘Bli, aku mendapat mengangkatan menjadi pegawai negeri’, ucap Nyoman membuka percakapan. ‘Oh ya?.. selamat ya’ jawab bli Made. ‘Akhirnya perjuanganmu selama ini berbuah hasil, kamu jadi pegawai negeri dan kehidupanmu sudah di jamin oleh negara’ lanjut bli Made. Lalu I Nyoman menyampaikan bahwa iya di tempatkan di Probolinggo atau harus berpisah dengan sepupunya itu, ‘Loh penempatannya jauh sekali, kenapa bukan di sekitar Kediri saja? ‘ tanggapan bli atas beritu itu. ‘ Wah kalo bisa memilih jadi guru yayasan pasti lebih bagus kan kamu gak perlu jauh-jauh kerjanya bisa tetap tinggal sama saya’ lanjut bli Made. I Nyoman hanya bisa tersenyum atas apa yang disampaikan bli Made itu.
Menjadi Pegawai Negeri pada masa itu sebenarnya bukan pilihan terbaik untuk kebanyakan orang, mengapa?.. karena gari PNS pada masa itu tergolong kecil di bandingkan gaji dari sekolah yayasan. Menjadi guru PNS pada masa itu sesuai dengan motonya, ‘Guru adalah Pahlawan tanpa tanda Jasa’, mengabdi kepada Negara dengan resiko di tempatkan dimana saja di wilayah Indonesia, Siap ?.. !.
Pindah ke Probolinggo
Turunnya SK pengangkatan Pegawai Negeri ternyata membuat I Nyoman harus pergi meninggalkan kota Kediri. Kota Kediri yang telah berjasa mengantarkan dia menyelesaikan pendidikan menengah hingga menjadi guru pilihan. Keberhasilan I Nyoman menjadi guru PNS harus di bayar dengan penempatan di SD Asmoro bangun Leces tepatnya di kabupaten Probolinggo.
Tidak banyak yang I Nyoman ketahui tentang kabupaten Probolinggo kecuali lingkungan dan bahasanya yang mayoritas Madura. Walaupun jarak tempuh antara Kediri dan Probolinggo sekitar dua jam, namun menurut I Nyoman cukup banyak perbedaan yang ia rasakan. I Nyoman yang merasa kota Kediri sebagai kampung halamannya yang kedua, kini dia harus kembali memulai dari awal belajar budaya dan bahasa di Probolinggo.
Dengan SK di tangan, I Nyoman berpamitan dengan Made Kereg sepupunya, ‘bli Made terima kasih telah mengijinkan aku tinggal di sini, aku lulus PNS dan di tempatkan di Probolinggo’, Nyoman memulai percakapan. Made Kereg yang mengetahui penolakan I Nyoman untuk menjadi guru yayasan sebenarnya menyayangkan keputusan I Nyoman. Namun Made Kereg pasrah karena ini sudah menjadi jalan hidup I Nyoman. ‘ Iya Nyoman, dulu bape mu menitipkan kau padaku’ jawaban Made, ‘nah sekarang tugasku sudah selesai karena kau pergi atas tugasmu sebagai guru yang harus mengabdi pada negara’ dengan senyum yang mengebang di di bibirnya. Karena ada kekhawatiran, Made pun menuangkan isi hatinya ‘Nyoman apa kau punya teman di Probolinggo?’ kata Made, ‘Tidak! ‘ balas I Nyoman. Kemudian Made melanjutkan perbincangan ini ‘ Apa kau tahu tentang daerah itu?’, iya lah sedikit, kenapa bli?.. balas I Nyoman sembari tersenyum. Seolah sudah tahu apa yang di risaukan sepupunya, I Nyoman coba menenangkan, ‘ Sudahlah bli, saya datang ke Kediri dengan kemauan saya sendiri walaupun saya dulu masih bocah’ ucap Nyoman, ‘Nah sekarang apalagi, saya sudah menjadi guru yang selalu menasehati murid yang baik-baik, untuk tidak jadi penakut, masa saya sendiri menjadi takut ke Probolinggo’ tambah Nyoman dengan senyum yang lebih lepas. ‘Saya sudah dengar tentang Probolinggo, katanya orangnya kasar-kasar, suka bawa golok, suka berkelahi dan lain-lain’ , ucap Nyoman ‘Tapi aku kesana kan sudah ada tujuannya, aku gak perlu cari-cari tempat lagi dan ada orang yang bertanggung jawab selama aku di sana’, I Nyoman melanjutkan perbincangannya. ‘Bli jangan risau ya.. dan kalo bape tanya macem-macem katakana saja yang baik-baik. Dengan senyum pula, Bli Made memegang bahu Nyoman, ‘Iya Nyoman aku tahu, kamu pasti bisa jadi orang Probolinggo’, ucap bli Made. ‘Kamu orang piter, pasti di terima di mana saja’ lanjut Made. ‘Jangan lupa kamu minta restu ke bape dan meme di Bali’, nasehat Made. ‘ Iya bli, terima kasih ya’, I Nyoman membenarkan nasehat bli Made.
I Nyoman Benben mengawali karirnya sebagai guru PNS pada tahun 1958 dan di tempatkan di SRN Asmorobangun Leces Kabupaten Probolinggo. Probolinggo adalah salah satu daerah tapal kuda di Jawa timur, tidak banyak yang I Nyoman ketahui tentang Probolinggo selain mayoritas penduduknya berbahasa Madura. Probolinggo juga di kenal sebagai daerah pesisir karena letaknya di sebelah utara pulau Jawa bagian Timur. Probolinggo terdiri dari dua bagian yaitu Probolinggo bagian kota dan Probolinggo kabupaten, dan desa Leces letaknya di kabupaten Probolinggo bagian selatan.
Pak Sis sebutan dari bapak Siswo soeharto kepala sekolah SD Asmorobangun dimana I Nyoman di tempatkan. Kedatangan I Nyoman di SRN Asmorobangun sangat membantu Pak Sis, apalagi tinggal kost di rumahnya pula.
Dua tahun kemudian atau tahun 1960 Pak Sis di pindah tugas sebagai penilik di wilayah Genteng Banyuwangi dan posisi kepala sekolah SRN Asmorobangun terpaksa kosong. Selama satu tahun SRN Asmorobangun tanpa Kepala Sekolah, akhirnya I Nyoman Benben diangkat sebagai Kepala Sekolah pada tahun 1961 melalui seleksi di Surabaya.
Minggu, 05 April 2020
Daftar isi
I Nyoman Benben dan geliat pendidikan di Probolinggo
1. Cerita lebaran
2. Masa kecil
3. Kacong Belanda
4. Masa pendidikan
5. Menjadi PNS
6. pindah ke Probolinggo
7. Lingkungan dan bahasa yang berbeda
8. Selalu rapi
9. Tinggal di rumah kepala sekolah
10. SD Asmoro bangun
11. Berjodoh dengan anak kepala sekolah
12. seleksi kepala sekolah
13. Menjadi kepala sekolah
14. bekerjasama dengan rektor universitas merdeka Malang
15. Mendirikan sekolah Pertiwi
16. masa PKI
17. keterkaitan sang mertua dengan Presiden Soekarno
18. kelahiran putra yang prematur
19. Pindah tugas ke sekolah SD sawonggaleng
20. numpang tinggal di sekolah
21. Membangun rumah tinggal
22. Menjadi kepala dinas pendidikan
23. Membangun kantor dinas pendidikan
24. Kedatangan tamu presiden
25. Menolak beasiswa
26. Menolak pangkat tertinggi
27. Menjadi ketua PGRI
28. Penghargaan dari presiden
29. Masa pensiun
30. Mendirikan organisasi karangwreda
31. Kepergian istri
Langganan:
Komentar (Atom)