Jumat, 24 April 2020

PRESENTASI TERBAIK

Proposal adalah langkah awal dari pengajuan bantuan ke pusat, yang isinya terdiri dari latar belakang, tujuan, masalah hingga perkiraan dana yang di butuhkan. Dengan proposal apa yang menjadi tujuan dan kendala di lapangan akan terbaca oleh pusat atau pihak di tuju. Dan pengajuan proposal ini sudah pernah pak Nyoman lakukan untuk sekolah-sekolah swasta ketika di Lecas sehingga mendapatkan bantuan dari beberapa instansi. Salah satu kesulitan membuat proposal adalah rasa malas atau alas an yang kita buat-buat sehingga menghabiskan waktu dan kesempatan untuk memperoleh kesempatan itu. Tidak banyak daerah atau instansi harus mundur atau membatalakan niatnya untuk kesempatan seperti ini. Namun kata malas tidak berlaku untuk pak Nyoman. Setiap proposal yang di buat harus di periksa sendiri secara akurat, bahkan tidak jarang beliau membuat proposal sendiri karena beberapa hal. Pak Nyoman sadar bahwa yang lebih membutuhkan kesempatan ini adalah kita atau yang mengajukan bantuan belum lagi kesempatan ini harus bersaing dengan wilayah lain se Indonesia. Jadi kecepatan kita dalam membuat proposal memang menjadi taruhan berhasi tidaknya bantuan yang akan kita dapatkan. Setelah misinya di beberapa wilayah di Probolinggo tercapai, sekali lagi pak Nyoman membuat pengajuan mendirikan gedung Dinas Pendidikan dan Kebudayaan atau di kenal dengan P & K untuk wilayah Probolinggo. Pada waktu itu Dinas P & K kota dan kabupaten Probolinggo masih bergabung dan belum memiliki bangunan sendiri atau berstatus kontrak. Memperjuangkan sebuah bantuan lagi untuk membuat gedung dinas P & K tidak ingin ia tunda, walaupun kesempatan yang ada hanya dua kuato. Masih kuat dalam ingatan bapak bagaimana beliau mempresentasikan pengadaan gedung dinas P &K itu. ‘Kuota bantuan pengadaan gedung dinas hanya dua pak Nyoman dan sepertinya daerahnya sudah di tentukan’, itu yang di sampaikan salah seorang pegawai di pusat. Dengan argumennya pak Nyoman terus memberi alasan lagi tentang pentingnya gedung dinas itu untuk wilayah Probolinggo. ‘Pengadaan gedung dinas di Probolinggo tergolong besar karena masih melakukan pembelian tanah’, seorang lagi ada yang menyela presentasi pak Nyoman. Setelah ikhtiar di lakukan langkah senjutnya adalah doa, karena Allah maha penentu terbaik. Dan jawaban dari usaha pak Nyoman adalah Probolinggo mendapatkan kuota pendirian gedung dinas P&K yang letaknya di jalan Basuki Rahmad No. 20A kota Probolinggo. Alhamdulillah Sekali lagi pak Nyoman membuat pengajuan sarana pendidikan untuk sekolah kejuruan, pada waktu itu ada sebuah moment meningkatkan persiapan SDM untuk siap kerja. Untuk mempersiapkan SDM yang baik dan siap kerja harus di siapkan sarana belajar dan praktik yang tepat pula. Hal inilah momen di adakannya pengadaan sarana untuk SMK. Kesempatan ini tidak akan di lepas oleh Pak Nyoman untuk sekali lagi membuat proposal pengajuan bantuan. Pengadaan sarana pendidikan untuk SMK ini merupakan momen yang besar pada prooyek pendidikan dan hampir seluruh kota mendapatkan bantuan ini. Dan Probolinggo juga mendapatkan kuota bantuan sarana pendidikan SMK. Entah sudah berapa kali pak Nyoman membuat proposal pengajuan hingga presentasi ke pusat, yang pasti usaha beliau selama ini membuatnya cukup di kenal dan hasilnya mempermudah setiap usaha beliau. Tiba saat peresmian sarana SMK, ternyata langsung di resmikan oleh orang nomer satu Indonesia saat itu yaitu Presiden Soeharto. Secara simbolis bapak presiden Soeharto melakukan peresmian penerima bantuan sarana SMK tersebut ke semua kota di Jawa Timur, dimana tempat yang di pilih adalah Probolinggo. Subhannallah…

PANORAMA ALAM

Dalam diam, pak Nyoman kembali mengingat jalan-jalan yang ia lalui di wilayah-wilayah kabupaten tersebut, ‘betapa beragamnya iklim dan budaya disini’, kenang pak Nyoman. Ternyata ada budaya hindu yang sangat kental walaupun tidak dijumpai banyak pura layaknya di Bali, dan bahasa yang di gunakan jawa yang medok, ya.. itulah daerah lereng gunung Tengger dan sekitarnya. Dengan iklim yang dingin sangat jauh dari iklim Probolinggo pada umumnya, panoramanya sangat indah mulai dari perjalanan hingga mencapai puncak gunung Bromo. Penduduknya masih memegang budaya asri miliki leluhurnya dan taat pada adat istiadat, sama seperti di Bali gumam pak Nyoman lagi. Turun dari desa Sukopuro yang dingin akan menjumpai desa Negororejo Lumbang yang memiliki air terjun besar Madakaripura, konon disinilah patih Gajah Mada menghabiskan sisa hidupnya. Wilayah daerah timur Probolinggo antar Gending, Tiris dan Maron banyak sekali dijumpai sungai yang masih alami dengan batu-batu besardan tebing yang berkelok dan curam. Salah sungai yang bernama sungai Pakelan, saat ini menjadi wisata Arum Jeram. Desa Tiris mempunyai banyak pesona alam yaitu pemandian air panas yang alami dan Danau yang bernama Ranu Segaran. Dan masih di sekitar daerah ini terdapat juga Candi peninggalan raja Hayam Wuruk yang bernama Candi Jabung, konon candi ini tempat makam salah seorang keluarga kerajaan Majapahit. Kemudian masuk ke pegunungan Argopuro yang memiliki panorama puncak yang khas dan salah satu puncaknya tersebut bernama Rengganis. Nama Rengganis diambil dari nama Dewi Rengganis seorang ratu kerajaan. Selain keindahan panorama alamnya ternyata Probolinggo memiliki tanah yang subur, dari wilayah barat sampai timur memiliki kesuburan yang beragam sehingga menghasilkan hasil bumi yang beragam pula. Buah Mangga dari Probolinggo sudah diakui semua orang baik dari dalam maupun luar Probolinggo, belum lagi hasil bumi yang lain seperti bawang merah, tembakau, padi, jagung sangat cocok sekali untuk iklim panas di Probolinggo. Daerah lereng pegunungan Tengger yang dingin juga sangat produktif dengan hasil kebunnya seperti kentang, koll, wortel dan lain-lain. Dan tidak kalah dari hasil bumi ada kekayaan hasil laut yang tak pernah habis, wilayah pesisir di Probolinggo sangat luas dan hampir semua bermata pencaharian nelayan. Sesaat rasa capek yang menggelayuti badannya mulai terasa hilang, betapa bagusnya panorama di Probolinggo, gumam pak Nyoman lagi. Panorama seindah ini akan mudah di asah dengan bekal pengetahuan dari penduduk setempat, sehingga dapat menarik wisata dan tidak hilang percuma. Sekali lagi semangat pak Nyoman dalam membuat rancangan bertambah dan kian lama kian kuat.

JALAN YANG BERLIKU

Keberhasilan pak Nyoman menjadi teladan di lingkungan pendidikan kota Probalinggo selama menjadi penilik sekolah ternyata tidak berlaku ketika menduduki posisi barunya sebagai kepala seksi bidang di instansi pendidikan. Perjalanan karir yang selama ini berjalan dengan manis, sekarang adalah masa sulit, corak terjal dan berliku menghampiri perjuangannya. Wilayah probolinggo yang terdiri dari dua bagian, yaitu kota dan kabupaten merupakan daerah yang luas dengan berbagai kondisi alam yang menantang dan ragam budaya yang komplek. Tanggung jawab tugas pak Nyoman sebagai kepala seksi bidang pendidikan dasar dan prasekolah, ternyata tidak semuda tugas-tugasnya selama ini. Kecamatan Leces tempat pertama beliau memulai perjuangannya ternyata hanya sebagian tempat kecil di lingkungan wilayah Probolinggo karena wilayah kabupaten Probolinggo ternyata memiliki luas sekitar 1.696 Km2. Sementara luas kota Probolinggo tempat beliau menebarkan semangatnya hanya seluas 56,67Km2 . Jadi bisa di bayangkan nilai 56,.. berapa kali lipat dari 1.696 ? .. Kemudahan tugaspak Nyoman selama di kota Probolinggo adalah karena lokasi wilayahnya tidak merepotkan yaitu memiliki luas terjangkau dengan dataran yang rata, jadi untuk melakukan sidak atau pengawasan cukup dilakukan dengan waktu sehari. Berbeda dengan wilayah kabupaten Probolinggo, dengan luas wilayah seperti itu ternyata letaknya juga terpencar yaitu di sebelah selatan, barat dan timur dari kota Probolinggo atau mengelilingi kota Probolinggo. Selain lokasinya yang sangat luas, kabupaten Probolinggo juga memiliki geografis yang berbeda yaitu dataran rendah atau tanah pesisir di sebelah utara di sepanjang bagian paling barat hingga paling timur kabupaten Probolinggo; daerah perbukitan di sekitar kaki gunung Semeru, pegunungan Tengger dan sisi bagian timur gunung Lamongan; dan terakhir daerah pegunungan di sekitar pegunungan Tengger dan pegunungan Argopuro. I Nyoman percaya usaha tak akan membohongi hasil, dengan memahami letak geografis dan mata pencaharian penduduk setempat, saya pasti bisa menyelesaikan tugas ini, gumamnya. Melaksanakan misi ‘menyediakan sarana pendidikan dan memotivasi warga Probolinggo untuk belajar’ mulai berjalan tentunya dengan bantuan para penilik sekolah. Satu kendala lagi yang menjadi masalah adalah keterbatasan guru dan penilik sekolah, kurangnya motivasi belajar pada penduduk di probolinggo menyebabkan kurangnya sumberdaya manusia penggerak misinya. Salah satu cara untuk menyediakan guru dan penilik sekolah adalah dengan meminta kuota dari pusat melalui seleksi PNS. Ketika guru baru sudah hadir, seperti yang beliau bayangkan selama ini yaitu di dominasi kaum urban seperti kota Malang, Surabaya, Kediri, Jombang, Magetan dan wilayah lain sekitar Jawa Timur. Kehadiran guru urban memiliki nilai plus dan minus, nilai plusnya adalah kwalitas SDM yang sudah bagus karena berasal dari pendidikan tinggi, sedangkan nilai minusnya adalah karena bukan dari Probolinggo maka kurang siap menghadapi kultur budaya di kabupaten Probolinggo yang beragam. Sehingga langkah pertama adalah membuat guru urban tersebut betah untuk tinggal di wilayah Probolinggo sesuai pilihannya, pilihan terbanyak adalah di kota Probolinggo. Langkah kedua menjalankan misinya adalah melanjutkan memeratakan jumlah sekolah di seluruh wilayah Probolinggo khususnya kabupaten. Mendirikan sekolah dengan memahami kwalitas SDM daerah adalah kuncinya yaitu memperluas jangkauan tingkat sekolah dasar dan prasekolah. Dengan memberi bekal pendidikan setara sekolah menengah, maka di buatlah rekruetment. Pendidikan pra sekolah yang berisi permainan akan membuat anak-anak di daerah setempat tertarik untuk bersekolah, sehingga untuk melanjutkan ke jenjang SD tidak kesulitan dalam memotivasi. Daerah pesisir yang memiliki jangkauan dekat dan jumlah penduduk yang rapat, cukup sulit untuk menyadarkan arti pendidikan di setiap warganya. Karena moto mereka adalah bagaimana mencari uang untuk hidup, sementara susah payah sekolah belum tentu dapat uang melainkan menghabiskan uang begitu mereka bilang. Baru masuk di wilayah terdekat saja sudah mendapat kendala, ternyata slogan Probolinggo sebagai daerah keras sudah dapat di lihat dari budaya di pesisir. ‘Perlu lebih sabar dan tidak usah di paksa’, gumam pak Nyoman dalam hati. Dari wilayah paling barat keselatan adalah wilayah pegunungan Tengger dan Semeru, ternyata wayoritas penduduknya pemalu, mata pencaharian meraka adalah berkebun di lereng pegunung Tengger. Wilayah dataran menengah dan tinggi ini sangat luas dengan jumlah penduduk yang tidak terlalu banyak maka sekolah yang didirikan di sesuaikan dengan jumlah penduduk setempat. Jangkau penduduk dengan sekolah terdekat cukup jauh untuk ukuran orang kota di tambah lagi medan yang di tempuh cukup curam. Wilayah timur dari kota Probolinggo adalah Dringu, Gending, Kraksaan dan Paiton merupakan wilayah dataran rendah dan sedang. Mata pencaharian penduduk selain nelayan adalah bertani, cuaca yang panas dan anginnya yang kencang, tanaman terbaik di sana adalah bawang merah, tembakau, anggur hitam, mangga dan banyak lagi tanaman lain yang tumbuh dengan baik. Karena lokasinya sangat mudah di jangkau, sepertinya penduduk setempat lebih terbuka untuk pendatang baru dari guru urban. Memasuki wilayah timur ke selatan adalah dataran menengah dan tinggi yang terdiri dari daerah Tiris, Pakuniran, Krucil dan seterusnya. Wilayah dataran tinggi yang ini tidak sedingin wilayah di lereng pegunungan Tengger. Cuaca Probolinggo masih terasa disini ada panas dan angina walaupun lokasinya di dataran tinggi. Kondisi alamnya tidak jauh berbedengan dengan tengger yaitu berliku dan curam. Akomodasi favorit kala itu adalah delman dan mata pencaharian penduduknya adalah berterbak sapi perah, domba perkebunan dan pertanian. Sama halnya dengan di tengger jumlah pendudukanya tidak sebanding dengan luas wilayahnya, jadi mendirikan sekolah disini disesuaikan dengan jumlah penduduknya. Wilayah selatan kota Probolinggo terdiri daerah Malasan, Leces, Bremi, Patalan dan seterusnya. Wilayah selatan ini terdiri dari dataran rendah dan dataran sedang mata pencaharian terbanyak berdagang, bertani dan berkebun. Sesuai dengan letak geografisnya, kondisi tanahnya landai dan berbukit, iklimnya tropis dengan bahasa yang di gunakan mayoritas Madura. Jumlah penduduk di wilayah ini cukup padat sehingga pendirian sekolah di daerah ini bisa memenuhi jangkauan penduduk

Jumat, 17 April 2020

Keterkaitan Sang Mertua Dengan Presiden Soekarno

Pak Sis adalah salah seorang pejuang sebelum terjun dan berprofesi di dunia pendidikan. Kepahlawanan pak Sis telah ia buktikan atas kesetiaannya dalam membela dan mendampingi presiden Soekarno ketika melakukan pengasingan di pulau Bima. Presiden Soekarno yang sudah beberapa kali di tangkap Belanda karena di nilai membahayakan misi Belanda selama di Indonesia, tidak pernah pudar menggelorakan semangat juangnya ke seantero negeri. Pak Sis adalah salah satu pejuang muda kala itu setia menunggu kode dari sang proklamator dalam melancarkan gerakkan perjuangannya. Hingga akhirnya terjadilah pertemuan dengan sosok penggelora semangat juang yang terkenal dengan sebutan putra sang Fajar. Di pengasingan itu pak Sis mendapati berkah yang luar biasa, dimana kelahiran putri pertamannya menjadi saksi nyata perjuangan sang idola. Dengan belaian dan keberkahan sang proklamator teriring doa terbaik untuk sang buah hati hingga keturunannya kelak, jadilah pahlawan bangsa. Aamiin. Pak Sis sejenak merenung ke masa silam, pada masa perjuangan bersama bung Karno yang tidak pernah menyerah dengan walau beberapa kali di tangkap dan hukuman oleh Belanda. Kini pak Sis kembali merasa menjadi saksi sejarah dari seorang pemuda yang tidak pernah menyerah dengan idealisnya. Pemuda yang berstatus menantunya, telah membuktikan bahwa masih ada jiwa-jiwa pejuang di bumi Pertiwi ini. Untuk kedua kalinya di masa hidupnya dia menjadi saksi dan ikut mendampingi sosok pejuang, bagaimana sang menantu ketika menumbuhkan semangat pendidikan untuk anak-anak yang belum terjamah pendidikan, membangun sarana belajar dalam keterbatasan yang ia miliki tanpa mempedulikan kebutuhan dan kesenangan sendiri. Ketika dia sudah berada di puncak dan di elu-elukan anak buahnya pun dia tetap bekerja dan berjuang tanpa pamrih, walau harus tinggal di sebuah kamar yang sekaligus dapur. Tanpa merengek kepada mertuanya yang seorang kepala Inspektorat, dia rela menjalani kesederhanaan hidup bersama keluarga kecilnya. Suatu waktu pak Sis di kejutkan atas tergoleknya sang menantu di sebuah ranjang rumah sakit, 'apa yang terjadi ?' tanya pak Sis pada putrinya. 'Iya pak, mas kalau malam masih bekerja', jawab Sugiarti. Dia selalu memeriksa administrasi pertanggungjawaban keuangan terutama dana bantuan dari pusat, lanjut Sugiarti. Ternyata itulah yang dilakukan menantunya, Pak Sis hanya tahu kalau menantunya dikantor adalah pekerja yang pantang menyerah, tidak pernah berhenti untuk memberi teladan kepada bawahan dan rekannya. Sugiarti sang putri tidak pernah menceritakan apa selalu suaminya lakukan setiap ada di rumah, hingga dia tahu setelah jatuhnya fisik sang menantu dan harus menginap di rumah sakit. Tanpa terasa terucap doa tulus dari bibir laki-laki tua itu, sunggup beruntungnya aku menjadi saksi dan turut menyertai dua orang yang pilihanMu ya Tuhan.. Dua pemuda berbeda waktu yang memiliki semangat luar biasa. di umurku yang tidak seberapa ini, aku telah menyaksikan kokohnya semangat juang bung Karno membela tanah airnya, berjuang untuk meraih kemerdekan dan satu lagi semangat juang mengisi kemerdekaan. Ya Allah.. ijinkan aku meminta.. tumbuhkanlah jiwa pejuang dan rasa nasionalisme pada diri putra dan putri kami agar bangga bangsa kami, sesungguhnya kami hanya tunduk padaMu ya Robb

Kamis, 16 April 2020

Kelahiran Putra Yang Prematur

Kehilangan seorang putri kecilnya yang masih amat kecil merupakan pukulan untuk Ibu Sugiarti, terutama putri pertama yang sangat ia harapkan. Kesedihan ini semakin bertambah dengan adanya aksi pemberantasan anggota PKI yang meraja lela. Gerakan penumpasan PKI yang sudah merata di seantero tanah air, hampir tak terkendalikan karena bukan hanya di lakukan oleh aparat melainkan masyarakat awam. Antara sikap tegas atau anarkis hampir tiada beda kala itu, karena sikap marah yang mereka tunjukkan adalah sama. Sugiarti yang sedang mengandung putra ke dua juga terdampak dengan kondisi yang demikian, ketenangan dan kenyamanan yang ia inginkan sulit sekali di dapat. Hari demi hari tiada ketenangan sedikit pun yang ia rasakan, kecuali dengan istifar dan doa yang mampu meredakan guncangan hatinya. Setiap kali pintu di gedor, sontah seluruh tubuhnya tergoncang dan perut buncitnya saja yang menjadi saksi bagaimana paniknya dia. Untuk turun dari tempat tidurpun tak mampu ia lakukan, profesi guru yang selama ini dia banggakan sudah tergoncang oleh isu PKI. Ditengah ke uncangan jiwa dan raganya, ibu Sugiarti harus menerima kenyataan untuk melahirkan putra idamannya secara kurang bulan atau premature. Kondisi ini semakin memperburuk keadaan karena perawatan yang ia jalani harus berjalan di tengan kondisi yang rusuh dan mendebarkan.

Berjodoh Dengan Anak Kepala Sekolah

Kehadiran I Nyoman di lingkungan keluarga pak Sis untuk anak-anaknya, terutama karena pembawaannya yang dewasa dan sabar. Ketika ada suatu an di dalam keluarga, anak-anak pak Sis tidak pernah sungkan untuk melibatkan mas Nyoman sebagai penengah. Kepercayaan yang di gantungkan padanya membuat I Nyoman terharu dan bersyukur memiliki keluarga di pulau Jawa. Sugiarti yang menyadari kehadiran I Nyoman di lingkungan rumahnya pun tidak dapat mengelak kewibaan yang di miliki I Nyoman. Setelah beberapa kali bertemu, Sugiarti permasalahpaham mengapa adik-adiknya begitu sayang dan patuh dengan sosok yang bernama Nyiman ini. Kesan pertama yang pada diri Sugiarti terhadap I Nyoman hampir tidak ada, ‘ah biasa saja, tidak terlalu istimewa’, bisik hati Sugiarti. Selepas pendidikannya di SMA Keputrian Surabaya, Sugiarti pun pulang dan beraktifitas di rumah sebagai pengganti kedua orang tuanya yang dinas di Banyuwangi. ‘Ndun kamu bantu mas Nyoman ngajar di SD ya’, perintah pak Sis ketika pulang. ‘Ndun’ adalah panggilan Sugiarti di rumah, begitupun adik-adiknya memanggilnya mbak Ndun. Mendengar perintah bapak, sudah pasti Sugiarti tak dapat menolak. Apalagi jiwa Sugiarti yang tidak bisa diam, lulus dari sekolah menengah di kota Surabaya adalah bekal yang lebih dari cukup untuk menjadi seorang guru. Kerjasama antar Sugiarti dengan kepala sekolahnya atau pak Nyoman sangat ideal, karena pak Nyoman yang sabar dan banyak mengalah banyak di bantuk oleh sifat Sugiarti yang tegas dan tangkas. Kehadiran Sugiarti dalam lingkungan sekolah sangat membantu kerja I Nyoman sebagai kepala sekolah. Serasa menemukan sosok pak Sis yang sudah hilang karena tugas barunya. Kekompakan Sugiarti dan I Nyoman mungkin sudah ramal pak Sis jauh sebelum kelulusan Sugiarti dari sekolahnya di Surabaya. Sebagai seorang ayah tentu pak Sis paham dengan berbagai karakter sifat anak-anaknya, terutama putri pertamanya Sugiarti. Sugiarti yang memiliki watak hampir tak jauh berbeda dengan dirinya, pasti cukup sulit untuk menerima teman laki-laki di sekitar desa Leces yang tergolong terpencil. Dan I Nyoman adalah sosok yang tepat untuk putri kesayangannya apalagi posisi pak Nyoman yang kala itu seorang kepala sekolah. Hanya pak Nyoman saja yang mampu membust putrinya berhati keras ini menurut, ‘bapak, anak orang jangan di suruh-suruh’ jawab Sugiarti. ‘Apalagi hubungan kami sudah seperti saudara, kalau dia gak mau kan enak nanti kerja di satu sekolah’, sambung Sugiarti. Pak Sis hanya tersenyum mendengar jawaban Sugiarti. ‘Soal itu, urusan bapak’, jawab pak Sis sambil bergegas pergi. Singkat cerita, terjadilah pernikahan antara pak Nyoman dan Ibu Sugiarti, bukan main kebahagiaan pak Sis kala itu. Karena mendapatkan menantu sosok yang ia idamkan, kini pak Nyoman bukan sekedar anak kost melainkan menjadi putranya yang tertua. Kehidupan pasangan I Nyoman dan Sugiarti berlangsung harmonis walau ada cobaan yang harus di lalui, misalnya ketika putri pertama yang bernama Ni Wayan Budiharti atau Anik harus menghadap Illahi pada usia 1 tahun karena sakit. Pada tanggal 21 Nopember 1965 lahir putra ke dua yang bernama I Made Darmayana atau Anang. Pada tanggal 10 Juli 1968 Ibu Sugiarti mengalami keguguran anak ke tiganya. Pada tanggal 19 September 1969 lahirlah anak ke empat yan bernama Ni Ketut Darmawati atau dipanggil Rini dan pada putra terakhir lahir pada tanggal 28 Oktober 1972 yang bernama I Wayan Mudayana atau di panggil Iwan.

Membangun Rumah Tinggal

Membangun rumah tinggal yang selama ini menjadi saksi perjalanan hidup rumah tangganya adalah hal yang tak terlupakan. Dengan lancar bapak menjawab pertanyaan tamu ketika ada yang bertanya tentang model rumah hinggal detail yang mengiasi sisi-sisinya. ‘Pembangunannya sekitar 10 tahun dengan banyak bantuan dari teman-teman’ itu yang selalu bapak katakan karena beliau memang tak pernah melupaka jasa orang walau sekecil apapun. Ukuran tanah yang menurut sebagian besar orang luas dan mahal memang demikianlah adanya, bahkan denga paksaan dari penjual pak Nyoman akhirnya membeli tanah ini dengan cara mengutang, ‘Untuk pak Nyoman yang kepala Dinas harus ambil dua kapling’, begitu kata pak Gianto. Sebagaian besar masyarakat Probolinggo mengenal Pak Nyoman adalah kepala Dinas Pendidikan walaupun sebenarnya Plt. ‘Jangan pak gak enak saya mengutang, gajinya PNS ya bisa buat makan dan sekolah anak saja, bayar utang dari mana saya’ begitulah bapak menjawab, coba memilih ukuran satu kapling. ‘Sudah pak, saya lebih suka tanah itu menjadi milik bapak, apapun yang terjadi gak bakal saya jual ke orang lain’, lanjut pak Gianto dengan memaksa. Akhirnya dengan tersenyum tipis pak Nyoman mengiyakan apa yang di katakana pak Gianto. Setelah mendapatkan dua petak kapling tanah secara ngutang, bapak tidak berpikir terlalu jauh untuk pembangunan rumah ini karena masih konsentrasi pada pelunasan tanahnya dulu, itu yang di pikirkan bapak. Namun ternyata tangan Tunah kembali menghampiri bapak, seorang teman dari dinas perhutanan ternyata telah mempersiapkan beberapa bongkah kayu Jati tua yang tak ternilai harganya, menurut ukuran bapak. ‘Bagaimana saya menerima kayu mahal itu, saya gak punya duit’, pak Nyoman berusaha menolak pemberiaan sang teman itu. ‘Jangan bilang begitu pak, tolong terima saja. Biar saya senang’, jawab teman bapak memaksa. Subhanallah.. ternyata jika Tuhan berkehendak, ternyata pemberian Illahi jauh dari apa yang kita bayangkan. Kolasi tanah yang bagus dan luas dan hadiah kayu dengan kwalitas tinggi yang tak terbayangkan selama ini. Dengan doa dan kepasrahan kapan rumahnya akan mulai di bangun, bapak yang suka menggambar merancang sendiri bentuk dan desain rumah tinggal impiannya dan masih tersimpan hingga sekarang. Waktu pembangunan pun bertahap di lakukan sesuai ketersediaan dana yang ada. Mulai membuat kerangka pintu, jendela dan kudakuda dari kayu jati pemberian teman kemudian di tambah membuat bangunan secukupnya. Setelah di rasa cukup pantas untuk di tempati, maka pindahlah keluarga pak Nyoman dari tempatnya menumpang selama ini di sebuah kamar milik SD Sawonggaling kota Probolinggo. Bantuan dari adik nya dari Bali juga tidak dapat dia tolak, dengan menambahkan prasasti relief di dinding pagar dan masih indah sampai sekarang.