Jumat, 05 Februari 2021
Cerpen ke 4
Kacong Belanda
Danau Bedugul adalah satu tempat wisata yang terkenal pada jaman dahulu. Banyak wisatawan yang datang di tempat ini, beberapa orang Belanda yang berwisata selalu ada setiap hari. Hal ini karena warga Belanda banyak yang menetap di Indonesia. Sekitar abat ke 16-an Belanda telah menjajah Indonesia, mungkin warga Belada sudah menganggap Indonesia sebagai kampung halaman kedua mereka.
I Nyoman adalah pedagang souvenir keliling di tempat wisata Bedugul. Selesai sekolah dasar I Nyoman memutuskan tidak melanjutkan sekolah lagi, karena pada jaman penjajahan Belanda pendidikan sangat mahal. I Nyoman memang anak yang patuh dan tidak manja walaupun bapennya seorang pecalang di tempat wisata itu.
Menjadi penjual souvenir dan bertemu banyak orang membuat I Nyoman menjadi lebih sabar dan dewasa. Walau usianya 12 tahun dia sudah bisa bersikap bijak kepada semua orang dengan karakter sifat yang bermacam-macam. I Nyoman akan menghampiri dan tersenyum ramah kepada setiap pengunjung dengan menunjukkan barang dagangannya. Sesekali dia juga harus menyapa pengujung yang sengaja tidak menghiraukan kehadirannya. Ada tamu pengunjung yang pemarah, ada yang cuek, ada juga yang baik dan mengajaknya mengobrol seputar tempat wisata di Bali. Kalo sudah cukup akrap mengobrol biasanya tamu enggan menolak tawaran dagangannya. Pengunjung yang membeli dagangannya dengan cara yang ramah menjadi kebanggaan buat dirinya.
Suatu ketika I Nyoman menghapiri rombongan warga Belanda yang sedang berwisata di Bedugul. Tanpa sungkan dan canggung, I Nyoman pun mendekati rombongan itu dengan membawa souvenir dagangannya. Rombongan wisatawan Belanda itu terdiri dari beberapa orang dewasa dan seorang putri kecilnya. Tidak berbeda dengan pengunjung lain, beberapa dari mereka hanya tersenyum melihat pedagang kecil ini. Hingga putri kecil mereka berteriak dan merengek karena sepatunya basah dan sedikit kotor.
Nyonya Belanda yang juga sibuk membetulkan rambut dan topinya, tidak bisa segera memenuhi permintaan putrinya. Putri kecil Belanda itupun tidak mau berhenti merengek agar sepatunya dibersihkan. Melihat kejadian itu, I Nyoman yang tidak jauh dari mereka segera menghampiri noni kecil Belanda itu. Dengan sapu tangan di sakunya, I Nyoman dengan sigap membersihkan sepatu noni kecil itu.
Melihat perlakuan pedagang kecil kepada putrinya, Nyonya Belanda itu jadi tersenyum dan mengucapkan terima kasih. Melihat kejadian itu, tuan Belanda yang dari tadi tampak berbincang serius dengan orang dewasa yang lain menghampiri putrinya. “Ada apa Elsie?” tanya tuan Belanda kepada putrinya. Ternyata tuan Belanda ini mendengar putrinya yang merengek dari tadi. Tuan Belanda yang melihat ke sabaran I Nyoman kepada putrinya, akhirnya ikut tertawa melihat putrinya tertawa. Noni Belanda ini menikmati kelucuan I Nyoman yang mengusap sepatunya sambil menghiburnya.
Melihat kesabaran I Nyoman kepada Elsie membuat tuan David berminat mengajaknya bekerja dan tinggal di rumahnya. Tanpa berpikir panjang, tuan David pun berkenalan dangan pedagang kecil itu. “Siapa nama kamu kacong?”, tanya tuan David. “Nyoman, tuan”, jawab pedagang itu sambil tersenyum. “Nama saya David, saya tinggal di Denpasar”, lanjut tuan David sambil memperhatikan I Nyoman lebih teliti. Melihat pedagang kecil yang sederhana itu, tuan David menjadi jatuh hati karena penampilanya cukup rapi. “Kamu mau bekerja sama saya?”, tanya tuan David. Mendengar pertanyaan ini, I Nyoman hampir tak percaya dangan yang didengarnya. “Kerja apa tuan?”, I Nyoman balik bertanya. “Kamu tinggal di rumah saya, tidak perlu kerja apa-apa. Kamu cukup bermain dengan Elsie di rumah”, jawab tuan David meyakinkan I Nyoman.
“Kamu punya orang tua?, Aku akan membayar kamu tiap bulan dan kamu juga boleh sekolah”, tuan David meyakinkan I Nyoman. Mendengar tawaran kerja dari tuan David, I Nyoman tersenyum sambil membayangkan tinggal di kota Denpasar. Dengan tersenyum lebar, I Nyoman pun menyetujui tawaran tuan Belanda ini. “Iya tuan saya mau, tapi saya ijin dulu sama bape dan meme”, jawab I Nyoman sambil menunjukkan letak rumahnya.
Dengan berbekal kartu nama di tangannya, I Nyoman pun menemui bape Wayan dan meminta ijin. “Bape aku mau kerja di Denpasar”, ujar I Nyoman sambil menyerahkan kartu nama tuan David. Sambil menceritakan pertemuannya dengan tuan David, I Nyoman juga menyampaikan bahwa dia akan di gaji per bulan. “Kamu boleh kerja dengan orang Belanda, tapi jangan lama-lama”, pesan bape Wayan kepada putaranya.
Bermain olah raga badminton adalah kegemaran Elsie. Ada kalanya I Nyoman memperkenalkan permainan anak-anak di kampunya, ada gobak sodor, engklek, kuda-kudan dan lain-lain. Secara tidak sadar Nyoman juga memperkenalkan bahasa Indonesia kepada Elsie. Maka tidak perlu menunggu lama, Elsie pun mengucapkan kalimat-kalimat Indonesia dengan logat Belandanya. “Kacong, ayo main!” itu seru Elsie setiap melihat kacong Nyoman.
Tuan David sangat kagum dengan kepribadian kacong Nyoman yang patuh dan pintar. Ketika santai di rumah, tidak jarang tuan David mengajak ngobrol kacongnya ini. Walaupun kacongnya ini masih bocah namun dapat menjadi teman ngobrol yang pas. Begitupun Nyoman sangat kagum dengan kepandaian tuannya, setiap kali melihat tuan David menulis atau bekerja. Sudah ganteng pintar lagi, gumam Nyoman pada dirinya. Sepintas terlintas di benaknya, kelak kalau sudah besar ingin pintar seperti tuan David. Punya pegawai dan anak buah yang patuh kepada perintahnya. Kalo saya pintar seperti tuan David pasti di hormati banyak orang dan bisa bekerja dengan terhormat. Tidak seperti sekarang hanya menjadi seorang kacong.
Teringat lagi pesan bape Wayan, “Kamu boleh kerja di Denpasar, tapi jangan lama-lama. Kalo sudah punya uang kamu harus sekolah lagi.” Itulah alasan bape nyuruh aku sekolah lagi, biar aku jadi orang pintar yang di hormati orang. Selama dua tahun menjadi kacong Belanda dan merasakan kemanjaan di rumah tuan David, I Nyoman sudah mantap untuk kembali sekolah lagi. Walaupun di rumah tuan David dia mendapatkan semua kebutuhannya, namun tidak mungkin selamanya menjadi kacong. Tuan David yang gagah, tampan dan pintar menjadi inspirasti I Nyoman untuk menjadi orang pintar dan baik seperti dia. Bersekolah lagi berarti dia harus berhenti menjadi kacong. Memulai hidup baru, dari awal lagi mengukir waktu untuk masa depannya.
Setelah menyampaikan rencananya kepada bape dan meme untuk melanjutkan sekolah, tibalah waktu I Nyoman untuk berpamitan dengan tuan David dan keluarga. Sore hari setelah bermain dengan Elsie, I Nyoman mendapati tuan David duduk bersantai di teras rumah melepas lelah sepulang kerja. “Tuan, saya mau berhenti bekerja”. Nyoman membuka percakapan dengan tuannya. Dengan sedikit heran tuan David menoleh kearah Nyoman, “Kenapa Kacong?” tanya tuan David. Sambil tersenyum tipis Nyoman melanjutkan “Saya mau sekolah lagi tuan”, lanjut Nyoman.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar