Jumat, 05 Februari 2021
Cerpen ke 6
Bertemu Sosok Idola
Tidak salah bila selama ini aku mengidolakan bapak. Apa yang beliau katakan tak pernah meleset. Bahkan impiannya pun mudah ia wujutkan. Bermula ke inginan bapak untuk menambah guru di sekolah binaannya. Tak butuh waktu lama sang ksatria itupun datang juga. Namanya I Nyoman Benben, cukup aneh untuk telinga masyarakat di kampungku. Memang, dia datang dari pulau seberang. Penempatan PNS telah mengirimnya ke sini. Namaku Sugiarti, putri dari bapak Siswa Suharto seorang kepala SD di kecamatan Leces kabupaten Probolinggo.
Entah apa yang membuat bapakku sangat sayang padanya. Orang seberang, berbeda keyakinan bahkan tak mengenal latar belakang dan keluarganya. Seorang asing yang di ijinkan untuk tinggal di rumah.
“Tik, kamu sudah besar, kapan mau berumah tangga?”, tanya bapak suatu hari.
“Atik kan baru lulus pak, masih harus banyak belajar untuk menjadi guru”, jawabku.
“Memang kanapa kalo berpikir jodoh mulai sekarang?”, balas bapak.
“Mau cari jodoh di mana pak? Teman-temanku udah menikah semua. Cuma aku yang belum menikah di sini”, jawabku sambil tersenyum.
“Kamu sama nak Nyoman saja”, kata bapak sambil tersenyum.
Aku tidak menyangka bapak menginginkan pemuda itu. Apa mungkin dia rela jadi mualaf. Karena sebuah keluarga harus menyatukan keyakinan, dan masih banyak lagi yang harus di pikirkan.
“Jangan pak gak enak, kami kan bekerja satu sekolah. Belum tentu dia mau sama aku”, jawabku bingung mau menjawab apa.
“Sudahlah, biar bapak yang atur semuanya”, jawab bapak sambil tersenyum.
Setelah mengarungi berumah tangga bersama mas Nyoman, kini saya tahu pilihan bapak tepat. Semua yang mas Nyoman lakukan berkah untuk orang banyak. Begitupun di lingkungan keluargaku, Mas Nyoman mampu menjadi kakak untuk semua adik-adiku. Tidak jarang mas Nyoman menjadi penengah di antara mereka bila ada perselisihan.
Karir mas Nyoman pun melampau pesat. Setelah diangkat menjadi kepala sekolah, dia menjadi pengawas sekolah kemudian masuk di jajaran kedinasan. Sekarang beliau menjadi kepala sub bidang pendidikan dasar dan prasekolah. Karena alasan kesehatan, atasannya memberi mas Nyoman Plt atau pelaksana tugas sebagai kepala dinas. Banyak usulan pengadaan sekolah baru dapat mas Nyoman jalankan. Pengadaan kantor dinaspun telah mas Nyoman perjuangkan. Kemudian pengadaan sekolah kejuruan dan sarana belajar juga dapat mas Nyoman selesaikan dengan cemerlang. Presiden memilih Probolinggo sebagai tempat penyerahan bantuan secara simbolik. TVRI pun menayangkan acara bersejarah itu dengan mas Nyoman di dalamnya.
“Apa yang terjadi?”, tanya bapak ketika mendapati mas Nyoman tergolek tak berdaya di rumah sakit.
“Iya pak, mas kalau malam masih bekerja. Dia selalu memeriksa administrasi, terutama dana bantuan dari pusat”, jawabku menjelaskan.
“Suamimu memang orang yang pantang menyerah, bapak bangga padanya”, kata bapak perihal mas Nyoman.
Bapak pun menceritakan masa lalunya. “Bapak ingat waktu dulu bergabung dengan bung Karno di pulau Ende. Belanda memilih pulau Ende sebagai tempat pengasingan bung Karno untuk menutup jalan perjuangannya. Tidak ada radio, telegraf bahkan bioskuppun tidak ada di pulau itu. Rumah yang bung karno tempati juga tidak ada listrik. Namun bung Karno tak pernah kehabisan ide, beliau memilih berjuang di panggung. Bung Karno menulis beberapa naskah cerita dan di pentaskan, di situlah bapak dekat dengan bung Karno”, jelas bapak.
“Dan, aku lahir di sana kan pak?”, aku meneruskan cerita bapak dengan bangga.
“Iya sejarahmu di mulai dari sana”, jawab bapak tersenyum bangga.
“Kini bapak merasa menjadi saksi sejarah lagi dari seorang pemuda dengan idealisnya, yaitu suamimu Atik”, kata bapak bangga.
“Bapak bangga bisa bertemu sosok idola yaitu bung Karno. Sekarang bapak lebih bangga lagi karena masih ada jiwa-jiwa pejuang di bumi Pertiwi ini”.
“Atik juga bangga sekali sama bapak. Mas Nyoman bisa seperti sekarang karena semangat yang bapak berikan. Bapak telah menanamkan semangat juang bapak kepada kami”.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar