Jumat, 05 Februari 2021

Bukan Putra Harapan

Bukan Putra Harapan Beberapa kali kecewa karena kehilangan sang buah hati, membuat Arman mengalami trauma. Putra pertama yang menjadi dambaannya tidak bertahan lama karena suatu penyakit. Dengan berat hati Arman pun harus merelakan anak pertamanya pergi menghadap sang pencipta. “Maafkan aku mas, tidak bisa mempertahankan anak kita”, ucap Murni sambil menangis. “Ya ini sudah takdir, kita harus ihklas dengan kehendak Nya”, hibur Arman kepada istrinya Harapan baru menghampiri Arman ketika tahu Murni menunjukkan tanda-tanda kehamilannya. Dengan sabar Arman memenuhi kebutuhan istrinya, walau tanpa di minta sekali pun. “Mas jangan capek-capek, waktu istirahat ya istirahat”, tegur Murni pada suaminya. “Loh apa gak kebalik? Seharusnya aku yang ngomong gitu”, jawab Arman protes. Murni hanya tersenyum sendiri dengan pola tingkah suaminya. Dengan ke hati-hatian ekstra, Murni menjaga kandungannya. Buah cintanya dengan suami tercinta. Di luar dugaan, harapan besar sepasang suami istri ini pun harus pupus. Kandungan Murni ternyata tidak berkembang. Setelah lama dalam penantian. “Ahamdulillah, lahir juga anaku”, bisik Arman. Dengan tersenyum bangga Arman memandang mulut mungil itu yang menangis. Namun kekecewaan kembali menghampirinya, ketika di pagi hari mendapati tubuh mungil itu kaku tak bergerak. Sekali lagi Arman harus rela melepaskan anaknya pergi selama-lamanya. Trauma akan kebahagiaan yang hilang masih memenuhi isi dadanya. Beberapa kali kehilangan buah hati dan musnahnya janin di rahim istrinya masih kuat dalam ingatannya. Arman hanya mengerutkan alisnya, ketika istrinya kembali melahirkan bayi laki-laki. Bayi laki-lakiku mengapa tidak bersuara keras dan menggelegar?, batin Arman. Ditambah lagi berat badan dan panjangnya kurang dari normal. Kenyataan ini membuat Arman semakin pasrah dengan cobaan yang ia alami. Dengan sedikit melihat buah hatinya yang cukup memprihatinkan, Arman hanya mampu berbuat sedikit untuk menghibur istrinya. “Bagaimana anak kita? Baik-baik saja?” hanya itu yang mampu Arman lakukan. Kehadiran bayi atau tidak hampir tak ada bedanya, itulah yang di pikirkan Arman. Bayi laki-lakinya yang sedikit menangis membuat hatinya terasa teriris. Keinginan Arman berlatih silat dengan buah hatinya seolah jauh dari kenyataan. Bayiku memprihatinkan, itulah yang selalu bergelayut di benak Arman. Untuk menggedong atau menyentuhnya lebih dekat tak berani Arman lakukan. Kegundahan ini tentu hanya di simpannya sendiri, karena dia tidak mau Murni kecewa dengan apa yang di bayangkannya. Putra, itulah panggilan sang putra. Sesuai impiannya yang ingin menunjukkan bahwa ia telah punya putra. Menurut Arman nama “Putra” identik sebagai anak raja dengan kepanjangan “Putra Mahkota”. Arman membayangkan bahwa Putra akan menjadi sosok yang gagah dan tinggi besar. Cakap dan tak terkalahkan, sebagaimana Arman memandang dirinya sendiri. Itulah sosok seorang anak yang dari dulu ia idamkan. Namun harapan tinggal harapan. Kenyataan yang di hadapi ternyata jauh dari impian. Walaupun sedari lahir kondisi putranya memprihatinkan, namun harapannya tak pernah pupus. Harapan tentang keajaiban yang terjadi pada putranya selalu Arman pupuk dengan kesabaran. Hingga akhirnya Armanpun harus menerima kenyataan. Bagaimanapun kondisi Putra, Arman harus belajar ihklas dan bersyukur. Pasti ada rahasia di balik semua ini. Arman yang pernah merasa sombong karena kekuatannya, keahliannya bela diri dan menjadi jagoan kampung. Kini ia harus merunduk sudah waktunya untuk tunduk. Kesombongannya selama ini sudah tak berarti. Arman harus sadar dengan kekurangan yang ia alami. Ternyata sabar lebih membanggakan dari pada sombong, itulah yang ia rasakan kini. Dengan kesabaran kita tidak perlu pusing menunjukkan kemunafikan. Sabar jauh lebih terhormat karena menjadi lebih banyak tersenyum. Hari berganti hari, bulan berganti bulan hingga berganti tahun. Ternyata apa yang di kuatirkan Arman tidak terbukti. Kini Arman sadar bahwa yang Kuasa tidak lagi mengujinya, melainkan memberinya sebuah anugrah. Anugrah terindah dalam hidupnya dengan hadirnya buah cinta yang mengisi hari-harinya. Kegundahan Arman kini telah berbalik 180 derajat karena buah hatinya tumbuh kian membanggakan. Nama Putra dulu sempat ia sanksikan menjadi putra kebanggaan, kini kekawatirannya tidak terbukti. Arman sangat bersyukur karena putranya adalah anak yang patuh dan menjadi penghibur hidupnya. Tidak peduli bila ada yang membandingkan putra kesayangannya dengan anak-anak yang lain. Putranyalah yang terbaik, sangat sehat, cakap, pintar dan yang utama patuh. Putranya sangat tahu bagaimana membahagiakan dirinya. Putranya yang jarang menangis sedari bayi, menunjukkan bahwa dia anak yang baik dan tidak ingin menyusahkan orang tuanya. Kini Arman sadar “Allah lebih tahu apa yang terbaik untuk hambanya”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar