Jumat, 05 Februari 2021

Penantian Menjelang Fajar

Penantian Menjelang Fajar Rembulan segera berlalu dari pandangan namun kesunyian tak juga aku dapatkan. Aku masih setia menerima pesan dari gelombang radio kesayanganku. Setiap menjelang fajar aktifitasku adalah berbagi pesan kepada rekan-rekanku dimanapun mereka berada. Suara radio ini sungguh mengobarkan semangatku untuk menuju kehidupan yang lebih baik. Kehidupan yang penuh suka cita, bebas dari tekanan, tak ada caruk maruk orang asing dan yang pasti mewujudkan kedaulatan untuk bangsaku tercinta. Selalu terngiang di telingaku kalimat pengobar semangatku tentang perjuangan yang menuntuk keberanian hingga hingga kepercayaan diri untuk mewujutkan bangsa yang merdeka. Dialah sang Bima, seorang idola nun jauh di sana, tanpa bertatap muka namun mampu menyihirku untuk bangun dan sadar. Sang Bima dengan suaranya yang merdu namun bergelora, tak pernah bosan aku menunggunya dan selalu menunggu. Hanya Bima yang aku tunggu, bila suara lain terdengar dari radio kesayanganku maka pilu hatiku. Aku yang jauh menjangkau Bima hanya bisa berharap dan berdoa semoga beliau selalu dalam lindungan Allah SWT. Fajar menghiasi langit dengan warnanya yang merah, semerah semagatku menerima petunjuk dari Bima. Hidup dengan kekangan orang asing yang di sebut panjajah adalah keliru. Merebut kembali kedaulatan, harkat dan martabat adalah jalan yang harus dilalui. Karena Bima aku paham akan hak hidup yang beradab bukan kekangan dan kemiskinan yang menerpa. Suara itu tak terdengar hari ini, isu menyapaikan bahwa beliau kembali di tangkap oleh Koloni. Entah penangkapan keberapa kali untuk hari ini. Suara adzan berkumandang, sejenak menghentikan gemuruh di dadaku. Tanpa kusadari istriku berdiri dibelakangku dan mungkin memperhatikan gerak gerikku. “ada apa mas?” suara itu membuatku menoleh ke belakang. Aku tahu pertanyaan itu tidak butuh jawaban, karena suasana seperti ini sangat sering dia lihat. Kadang-kadang aku teriak kegirangan, kadang-kadang aku menangis bahkan aku pergi tanpa pamit. Istriku yang muda beliau seolah memahami situasi yang sedang kualami. Dan kali ini adalah salah satu momen keseharianku sebagai prajurit rakyat yang selalu siap dalam situasi apapun. Namaku Siswo Suharto, belum lama aku menyunting Hesti Aisyah salah seorang putri demang untuk menjadi istriku. Gadis muda belia dari keluarga terhomat menerima pinanganku tanpa syarat. Kehidupan sederhana dan jauh dari keluarga besarnya adalah pengorbanan terbesarnya untukku. Belum lagi kegiatanku selama bergabung dengan tentara rakyat, kadang aku terluka, kadang aku pulang larut hingga pagi bahkan tak pulang tanpa pesan. Hesti selalu mendukungku dan sangat memahami perjuanganku. Kini aku harus menyampaikan hal tersulit, “mas harus pergi dek”. Hampir tak terdengar suara dari bibirku, belum sebulan aku menikahinya, banyak sekali pengorbanannya untukku. Kini aku pamit untuk waktu yang tak dapat di tentukan, tak terasa tetesan hangat mengalir di pipiku. Tak mampu kupandangi wajah itu, hingga aku menyesal apa benar ini pilihanku? Ku tatap lagi wajah istriku, aku tak boleh takut bermimpi, “Mengusir penjajahan dari rumah sendiri adalah harga mati”. Setelah shalat Subuh, kami kembali larut dalam diskusi. Saya sebagai salah seorang pemuda di garis pejuang masih harus banyak belajar dengan alur perjuangan. Para senior pengatur strategi telah menunjukku untuk maju dan bergabung dengan pasukan inti dari beberapa kota. Sebuah tugas kehormatan untukku mendapat amanat ini. Apalagi misi ini sungguh luar biasa yaitu bergabung dengan Bima di tempat pengasingannya. Teh manis dengan singkong rebus menjadi teman yang ideal saat aku berdua dengan istriku. Perbincangan kami sudah mencair dan aku sudah siap merayu istriku agar mengijinkanku pergi. Namun berbeda dengan istriku, walau aku belum menjelaskan tujuan kepergianku ternyata dia curiga dengan penjelasanku selanjutnya. “lama ya mas? Mau kemana?” tanyanya lagi. Ternyata dia punya firasat tentang kepergianku, kalau aku pergi tidak jauh-jauh biasanya jarang pamit. Apa lagi sehabis mendengar radio tadi pagi, aku sudah tersulut emosi hingga menangis. Dengan menghabiskan sisa singkong di jemariku, aku mencoba tersenyum menenangkannya. “Mas, selama ini kenapa tidak pernah mengajakku berjuang, kulihat ada prajurit wanita”, kata-kata istriku hampir membuatku terperanjat. Mana mungkin aku mengajaknya memikul senjata, berlari ke parit, melihatnya berdebu pun aku tak rela. Seperti janjiku kepada romo (panggilan bapak mertuaku) aku meminangnya sebagai istriku bukan rekan perjuanganku. “Kau juga sudah berjuang dek, dengan mendukungku dan menjadi tempatku melepaskan keluh kesah seperti saat ini”, hiburku kepadanya. “Baiklah sekarang jawab saja, mas mau kemana dan berapa lama?”, sambil tersenyum pahit aku coba merangkai kata-kata. “Mas mendapat tugas bergabung dengan pasukan inti dari beberapa kota”, jawabku sambil memperhatikan reaksinya. “Bergabung dimana mas? Kenapa gak di teruskan?”, walau berat aku memang harus pamit karena waktunya tak dapat di tentukan, apakah bisa pulang atau pulang tinggal nama, inilah resiko. “Menuju tempat pengasingan pak Bima, lokasinya masih di sembunyikan”. Dan mas juga tidak tahu berapa lama tugas ini”, ku tatap lagi wajah itu, bisa jadi ini terakhir kali aku dapat memandanginya. “Kalau begitu aku ikut”, celetu istriku dengan tenang dan tersenyum manis, manis sekali. Parjo menjemputku untuk berkumpul di maskas, tanpa menjawab permohonan istriku, aku segera beranjak sambil bersalaman dulu dengan istriku. “Ayo Sis, segera!”, suara parjo lirih. Sesampai di markas, ada sepuluh orang sudah berkumpul termasuk mas Budi salah satu senior kami. Dengan cermat aku memperhatikan instruksi dari mas Budi tentang persiapan pemberangkatan dan strategi yang di gunakan. Tidak seperti biasa, kepalaku menjadi pening seketika. “Sis, ada pertanyaan?”, pertanyaan itu mengagetkan aku. Beberapa teman tersenyum dan tertawa melihatku sedikit melamun, “maklumlah pak, pengantin baru harus berpisah untuk tugas”, salah seorang menggodaku. Aku hanya tersenyum malu dengan candaan mereka. “Tidak apa-apa Sis, sampaikan saja yang ingin kau katakan”, mas Budi memang sangat bijaksana, senang sekali aku berdiskusi dengannya. Menjalankan tugas perjuangan memang harus iklas, itu kunci sukses yang mutlak. Bila aku berangkat dengan setengah hati, maka akan berakibat fatal, bukan hanya untuk ku namun semua akan terkena dampak dan ini sangat berbahaya. Dengan perasaan malu yang tak terkira, aku harus menyampaikan apa yang menjadi keresahanku. “Saya sangat senang dengan tugas ini mas, namun istri saya mau ikut”, seketika kerongkonganku kering. Suasana semakin riuh dengan tawa teman-temanku , aku hanya bisa pasrah dengan keputusan mas Budi, apakah aku masih di beri tugas ini atau tidak. Seperti biasa mas Budi langsung meredakan situasi, dan dengan bijak beliaupun bertanya. “Istrimu sedang hamil?” tanya mas Budi. “Tidak mas”, jawabku singkat. “Kalau kau mau, kau boleh mengajak istrimu”, jawaban mas Budi membuatku kaget begitu juga teman-teman yang mengikut rapat. Sesampai di rumah, kulihat wajah istriku tak semanis biasa, dengan penuh harap dia mengajakku duduk di hadapannya. “Mas ayo jawab, aku mau ikut, kemanapun mas Sis pergi aku gak mau ditinggal sendiri”, seperti berondong petasan yang bertubi-tubi, dia terus meminta kepadaku. Dengan sedikit geli, aku memperhatikan perubahan sikap dari istriku, dimana istriku yang selama ini selalu tersenyum manis ketika aku pulang. Kulihat ada butiran bening di pelipisnya, tak kuasa aku melihatnya.”Adek, bukannya mas gak mau kau ikut, tapi..”, seketika di menatapku penuh harap. “Apakah romo dan ibu mengijinkan?”, dengan mengusap air mata Hesti mulai tersenyum “ya kita coba saja mas, aku lebih baik pergi dengan mas Sis, hidup mati kita bersama. Dari pada aku harus mati kesepian ditinggal sendiri di sini”. Jawab istriku penuh harap. “Baiklah kita segera pamit kepada romo dan ibu, karena masih banyak yang harus di persiapkan”. Seperti dugaanku, sontak romo menjadi marah dengan keputusan putri kesayangannya. “romo menikahkanmu bukan untuk jadi pembangkang nduk, mengapa kamu tidak menunggu suamimu saja, kalo kau gak mau di tinggal sendiri, kau bisa tinggal disini lagi seperti dulu”. Dengan sedikit merujuk, Hesti terus memohon ijin dari romo dan ibunya. “Hesti, perjalanan ini sangat berbahaya, sesekali pasti terlibat kontak senjata dengan Belanda, apa kamu pernah melakukan latihan perang?, coba toh dipikirkan dulu jangan tergesa-gesa mengambil keputusan”. Ibu turut mencegah kepergian Hesti. Aku sendiri tidak bisa banyak bicara karena merasa bersalah juga dengan situasi ini. Untungnya romo dan ibu cukup bijak tidak langsung memaki aku yang dianggap memprofokasi putrinya. Setelah kehabisan kata, nada romo mulai mereda, dengan memandang ke arahku, beliau pasrah dengan keputusan putrinya. “Sis, Hesti memang sudah menjadi tanggung jawabmu karena kau suaminya”, romo mengawali pembicaraan lagi. “Keputusan kalian untuk turun ke medan perang adalah hak kalian. Mungkin ini sudah menjadi garis hidup kalian”. Tak kuasa aku menahan haru, dengan bersimpuh dan sungkem kepada mertuaku, aku berjanji akan selalu menjaga putri hingga tetes darah terakhirku. Dua malam berikutnya tanpa menanti fajar kamipun bergerak kearah selatan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar