Jumat, 05 Februari 2021
Cerpen ke 7
Assalammualaikum, Om Swastiastu
Suara takbir syahdu berkumandang. Gemericik air hujan membelah kesunyian malam. Entah berapa menit yang lalu aku baru dapat memejamkan mata. Kulihat meja tulisku, setelah aku menulis semalam. Di meja tulis itulah beberapa benda yang setia menemaniku. Beberapa lembar kertas telah ku isi dengan coretan pena hitam dan biru. Seolah mereka berterima kasih kepadaku telah membuat kehadirannya di dunia ini menjadi berharga. Sementara kertas kosong dan bersih tampak membisu memandangku.
Kulihat mentari kian meninggi, seiring meredanya hujan pagi ini. Langit mulai menampakkan senyumnya dan menghiasi hari ini. Terdengar suara Adit, cucuku yang mulai bangun dan mencari mamanya. “Mama minta susu”, suara Adit dari dalam kamarnya di seberang kamarku. Adit yang masih balita sungguh menggemaskan semua mata yang melihat. Seolah tak ada yang salah dengan semua tingkahnya. Hingga aku sempat berpikir, bahwa enak sekali jadi anak kecil apa-apa di siapin. Selalu ada orang yang menemaninya. Setiap ada tamu selalu memujinya karena lucu, harum dan menggemaskan. Dan tentu saja tidak seperti aku yang sudah tua renta ini. Asam lambungku telah mengambil salah satu nikmat hidupku. Nafasku sering membuatku pusing. Orang lain pasti merasa pusing juga bila didekatku. Tapi aku tetap harus bersyukur karena anakku masih mau tinggal serumah danganku. Tetangga sebelah harus sendirian di rumah, tanpa anak dan cucu yang menemani.
Kudengar seisi rumah sedang sibuk menyiapkan diri untuk menunaikan shalat Id ke masjid.
“Bapak, bapak sudah bangun?”, kudengar suara Iwan dan menghapiriku.
“Shalat Id tidak wajib kok, bapak boleh dirumah saja dan tidak harus shalat bersama kami. Tapi kalo bapak merasa enakan, ayo Iwan bantu”, kata Iwan lagi. Iwan adalah anak bungsuku yang tinggal bersamaku.
“Biar bapak di rumah saja”. Jawabku dengan menurunkan kedua kakiku yang sudah terasa berat.
“Teh manis sudah Eli siapkan di meja makan, ayo Iwan antar ke meja”, kata Iwan sambil mengangkat bahuku.
“Gak usah bapak bisa sendiri, kamu berangkat saja”, jawabku.
Eli adalah menantuku yang telah memberiku dua cucu laki-laki. Pernikahan Eli dan Iwan tidak di awali dengan pertemanan atau proses pacaran. Keduanya anak yang patuh kepada keputusan orang tuanya. Dengan proses perjodohan yang singkat, mereka menuruti permitaan kami untuk segera menikah. Setelah pernikahan terjadi, merekapun tetap patuh untuk mau tinggal bersamaku. Kini hari-hariku bergantung pada Iwan dan Ely.
Sambil melangkah keluar kamar, tiba-tiba Iwan menoleh ke arahku, “Oh ya. pak, sapinya akan disembelih sekitar jam 9. Kalo bisa bapak datang ke masjid dan lihat walau sebentar”, kata Iwan. “Nanti sama Iwan ya kesana. Anak-anak juga pasti suka melihat banyak kambing dan sapi di halaman masjid”, kata Iwan lagi berusaha menghiburku. Sambil tersenyum aku mengiyakan saja rencana putraku.
Aku menjadi mualaf setelah bertemu ibu dari anak-anaku. Hijrah ini telah merubah keyakinanku. Setelah meninggalkan Bali untuk menempuh pendidikan di pulau Jawa, aku tidak dapat menolak takdir bahwa rejekiku ada di Jawa. Selama menempuh pendidikan menengah kulalui dengan keprihatinan, aku harus memenuhi kebutuhan hidupku dengan bekerja sebagai juru parkir. Dan perjuanganku ini ternyata berbuah manis. Setelah lulus dari Sekolah Guru Atas atau SGA Dhoho di kediri, tak lama kemudian aku lulus seleksi CPNS.
Berita kelulusanku atas seleksi CPNS sangat membanggakan keluargaku di Bali. Bape dan meme tak henti-hentinya bersyukur atas kelulusanku, bape dan meme begitulah aku memanggil ayah dan ibuku.
Penempatan pertamaku sebagai PNS adalah di kotaku saat ini yaitu Probolinggo. Dan disinilah aku bertemu bidadariku dan menjadi salah satu alasanku menjadi mualaf. Menjadi mualaf dan menikahi istriku adalah paket komplit. Aku tidak menyesali keputusanku, justru aku bangga menjadi muslim. Istirku dengan sabarnya membimbingku menjadi muslim yang benar. Menurutku tidak ada kesalahan pada setiap keyakinan. Apa yang aku ritualkan dulu ternyata dapat kutemui di keyakinanku saat ini. Dengan memperdalam agama keyakinanku saat ini, kini aku paham atas kebenaran pilihanku.
Kini aku melaksanakan kewajibanku sebagai muslim dengan menyumbang atau berkorban seekor sapi. Sementara keyakinanku dulu mengajarkan bahwa sapi adalah hewan yang sangat di sakralkan. Menurut ajaran Sri Krisna, Sapi merupakan lambang kesejahteraan. Ada banyak alasan mengapa sapi tidak boleh di makan atau di sembelih. Sapi mendatangkan banyak manfaat untuk kehidupan manusia. Susu sapi dapat di ambil atau di perah lalu meminumnya, dengan demikian dapat menjadi sumber tenaga. Sapi jantan dapat membantu petani membajak sawah. Bahkan tahi sapi di yakini menjadi penyembuh beberapa penyakit.
Keyakinanku sekarang mengajarkan hal yang berbeda. Sapi merupakan salah satu hewan yang di sarankan untuk di korbankan. Menurut potongan Q.S Al-Hajj: 34, sapi (kerbau), kambing dan onta adalah tiga jenis hewan yang boleh di korbankan. Selain ketiga jenis hewan ini maka hukumnya haram sebagai hewan kurban. Berkorban adalah hal yang dianjurkan bagi yang mampu. Allah sangat mencintai hambanya yang ihklas berkorban. Berkurban adalah bentuk rasa syukur kita kepada Allah. Berkorban akan memperbanyak rejeki dan bentuk berbagi dengan sesama.
Kedua keyakinan ini sungguh bertentang satu sama lain. Ada perasaan bersalah juga ketika aku mengingat adik dan keluargaku di Bali. Kepercayaan dari bape dan meme yang mengijinkanku hijrah ke Jawa, ternyata melukai adat dan keyakinan masyarakat Bali. Walaupun demikian keluargaku di Bali tidak banyak bertanya dengan keputusanku. Aku sangat bersyukur memiliki keluarga yang selalu mengerti dan mendukungku. Keinginan bape dan meme agar aku menjadi orang sukse telah ku buktikan. Walaupun dengan konsekuensi aku menjadi orang murtad dalam pandangan masyarakat Bali.
“Kriiiing”, bunyi telepon membuyarkan lamunanku. Sudah kuduga ini dari siapa,
“Assalammualaikum Bli, Om Swastiastu. Selamat hari Raya ya”, sapa Ketut dari kejauhan.
Ketut adalah satu-satunya adik laki-lakiku. Setelah aku meninggalkan pulau Bali, Ketutlah yang menjadi tetuah di keluarga kami saat ini. Karena kedudukan anak laki-laki dalam istiadat Bali sangatlah penting.
“Om Swastiastu, Waalaikum salam. Ken ken kabare?” tanyaku kembali.
Terjadilah percakapan pelepas kangen kami. Tanpa mengucapkan hari raya apa, Ketut memberi doa terbaiknya untukku. Percakapan kami tidak pernah sepi, selalu ada pertanyaan dan berita yang membuatku tersenyum. Walau aku tahu tujuan Ketut adalah menghibur dan menyemangatiku, namun tetap saja ada rasa kurang dalam diriku. Rindu melihat wajahnya dan cara berjalannya yang mirip dengan bape, tegap dan gagah. Setelah salam sapa, dia selalu menanyakan kabar anak-anak hingga cucuku. Aku pun menanyakan hal yang sama kepadanya, hingga semua adik ingin kutanyakan padanya. Namun aku sadar, tidak semua pertanyaanku dapat dia jawab. Akhirnya aku menunggu saja berita lain yang ingin dia ceritakan. Sampai akhirnya dia menyudahi teleponnya. Begitulah saudara-saudaraku, tidak pernah lupa menyemangatiku dan mendukung setiap keputusanku. Dan tulus mendoakan kesehatan dan keselamatanku di sini.
“Kriiiing”. Telepon berbunyi lagi dan kali ini pengirimnya Wayan adik bungsuku.
“Assalammualaikum Bli, Om Swastiastu. Selamat hari Raya ya”. Sapa Wayan dari kejauhan.
“Om Swastiastu, Waalaikum salam”, jawanku.
“Ken ken kabare?” tanyaku kembali. Dengan doa tulus, Wayan juga mendoakan kesehatan dan keselamatanku di sini.
Aku di didik dengan adat istiadat dan ke agamaan Hindu Bali. Namaku I Nyoman Benben. Aku putra pertama dari bape Wayan Nombrog dan meme We Klepon. Bali adalah tanah kelahiranku, tepatnya desa Bedulu kecamatan Belahbatuh kabupaten Gianyar. Setelah lulus SD aku meminta ijin bape untuk bekerja di rumah orang Belanda. Jadilah aku kacong Belanda. Melihat tuan Balanda, membuatku ingin seperti dia. Aku ingin memiliki rumah yang bagus dan tertata nyaman seperti yang kurasakan di rumah tuan Belanda itu. Aku ingin mempunyai pegawai dan pembantu yang patuh dengan perintahku. Dan tentu saja, itu semua untuk kehidupanku di masa depan. Itulah alasan mengapa aku bertekat hijrah ke pulau Jawa untuk pendidikan yang menurutku lebih baik waktu itu.
Setelah di tinggal istriku, aku benar-benar kesepian. Tak ada lagi teman berbagi, biasa kami selalu berdiskusi tentang hal-hal kecil seputar kehidupan. Hal yang yang membuatku bersemangat karena gelak tawa manjanya. Kini aku merasa sendiri walaupun masih di rumah yang sama. Seharusnya aku lebih berbahagia sekarang dengan kehadiran cucu-cucuku. Kehadiran mereka sebagai penghuni rumah ini serasa lebih lengkap namun sayangnya harus ada perpisahan di dunia ini.
Kesunyian yang merayap dari hari ke hari sudah dapat aku lalui. Aku merasa kembali ke masa lalu. Belum genap lima belas tahun aku sudah merantau seorang diri ke pulau Jawa. Tak ada meme yang setia menghidangkan makanan kesukaanku, tak ada bape dan adik-adiku yang ramai menghiburku.
Ku hirup teh hangat untuk memecah kesunyianku. Aroma teh manis ini telah mampu menarik bibirku tuk tersenyum dan bersyukur. Siapa bilang hidupku sepi, bangun pagi di temani aroma wangi teh manis sudah lebih dari cukup.
“Kriing”. Telepon bordering kembali. Membuyarkan lamunanku.
“Assalammualaikum, Om Swastiastu. Selamat hari Raya I wak”. Sapa Ni Luh dari kejauhan.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar