Kamis, 11 Juni 2020

Resume belajar menulis bersama guru Agung

Resume Belajar Menulis (Rabu, 10 Juni 2020) Lely Andayati (Gelombang 6) Saya sangat bangga terhadap guru-guru muda dan hebat yang ihklas mengabdikan dirinya di pelosok kampung, di hutan, di gunung bahkan di kepulauan. Bisa dibayangkan betapa berat perjuangan mereka yang terpisah jauh dari keluarga. Di tengah keterbatasan kondisi geografis dan budaya, guru-guru muda ini mampu beraktifitas menulis dan berkarya. Keterbatasan fasilitas listrik, jaringan internet hingga ATK dan bahan pembelajaran tak membuat semangat mereka surut. Guru-guru ini telah membuktikan bahwa cinta membuat segalanya jadi mungkin. Bahkan ada seorang guru muda yang meninggal dalam tugas di penempatan. Akhirnya nama beliau diabadikan menjadi nama sebuah penghargaan bagi guru-guru terbaik SGI (Sekolah Guru Indonesia) “Jamilah Sampara Award”. Terima kasih kepada guru Agung Pardini atas ilmu dan inspirasinya. Kecintaan Guru Agung Pardini terhadap kisah-kisah kepahlawan mengantarkannya menjadi guru sejarah dan IPS sejak tahun 2001. Saat pertama kali mengajar, guru yang bernama asli Agung Pardini ini masih menempuh S1 Pendidikan Sejarah dengan tambahan program minor Antropologi di Universitas Negeri Jakarta (UNJ). Dalam waktu delapan tahun (2001-2008), setidaknya pernah mendapat kesempatan mengajar pada belasan institusi yang berbeda, mulai dari sekolah formal (SMP dan SMA), Bimbingan Belajar, Program Pengayaan Ujian, hingga Pembelajaran Paket Non-Formal atau PKBM. Sejak tahun 2008 hingga sekarang ini, Guru Agung aktif di lembaga kemanusiaan Dompet Dhuafa untuk menjalankan amanah pengelolaan dana zakat, infaq, dan shodaqoh agar disalurkan menjadi program-program pemberdayaan di bidang pendidikan bagi kemajuan ummat. Mula-mula ia bertugas sebagai trainer pendidikan untuk melatih ribuan guru yang mengabdi di sekolah-sekolah marjinal di berbagai wilayah Indonesia. Selain melatih para guru, bersama rekan-rekan satu timnya di Dompet Dhuafa, Guru Agung di beri beragam amanah untuk merancang dan mengelola program-program inovatif di bidang pendidikan yang berhasil menjangkau hingga 34 provinsi. Program-program tersebut antara lain: 1. Pendampingan Sekolah dan Pengembangan Guru di Kecamatan Ciracap, Kabupaten Sukabumi (Donatur: JICA), 2008-2010 2. Pendampingan Sekolah Berdaya di Sumatera Barat Pasca Gempa Bumi besar, 2010-2012 3. Pelatihan Guru Cerdas Literasi (Donatur: Hypermart), 2010 4. Pelatihan Guru Cerdas Literasi (Donatur: Majelis Taklim Telkomsel), 2009 5. Pengembangan Sekolah Cerdas Literasi (Donatur: Trakindo), 2010-2013 6. Pendampingan SMK Unggulan Bidang Alat Berat (Donatur: Trakindo), 2013 7. Pendampingan Sekolah-Sekolah di Perbatasan Indonesia: 2012-2013 8. Pengiriman Guru-Guru SGI (Sekolah Guru Indonesia) ke berbagai wilayah pelosok atau 3T, 2014-2015 9. Membentuk School of Master Teacher di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Jawa, dan NTB, 2014-2020 10.Mengembangkan alat ukur performa Sekolah yang disebut MPC, 2012-2013 11.Mengadakan diklat kepala sekolah: Milenial Leader, 2019 12.Membangun kerjasama penyelenggaraan kelas Magister Manajemen Pendidikan Islam bersama UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2016-2018 13.Mengembangkan model Sepuluh Kepemimpian Guru Indonesia dan Gerakan Transformasi Kelas Ajar, 2018-2020 hingga 30 provinsi Hingga saat ini masih bekerja MENULIS ARTIKEL 1. Sekolah Berbasis Masyarakat Jurnal Bogor, 17 Oktober 2009 Opini 2. Mengajar Siswa Gemar Membaca Radar Bogor, 8 Maret 2010 Opini 3. Pendidikan dalam Alienasi Birokrasi Koran Tempo, 16 Mei 2013 Opini - Advertorial 4. Transformasi Kelas Ajar, Opini Republika, Januari 2020 MENULIS BUKU 1. Menabung Gula untuk Pendidikan (Saving Palm Sugars for The Education) MM–JICA, 2010 Bersama tim Masyarakat Mandiri 2. Penyulut Jiwa di Kampung Hatta Makmal DD, 2012 Bersama Surya Hanafi, dkk 3. Bangunlah Jiwanya, Bangunlah Raganya Makmal DD, 2012 Bersama Purwo Udiutomo 4 Sekolah Ramah Hijau Makmal DD, 2013 Bersama Zayd Sayfullah, dkk 5 Besar Janji daripada Bukti Makmal DD, 2013 Bersama tim 6 Bagaimana ini Bagaimana itu Makmal DD, 2014 Bersama tim Makmal PEMBICARA/NARASUMBER (Non-Training) 1. Konferensi Nasional Sejarah VIII, dengan membawakan makalah yang berjudul “Media Islam Revivalis” Jakarta, 2006 800 orang Kembudpar dan MSI 2. Seminar Pendidikan : Gelipa untuk Pendidikan Sukabumi, 2 Februari 2010 100 orang MM – JICA 3. Lokakarya Daerah Gerakan Rakyat KAMMI Bogor Bogor, Maret 2010, 30 orang KAMMI IPB 4. Seminar: Menjadi Remaja Muslim Trendsetter Sentul, 22 Agustus 2010 150 orang 5. Talkshow: Seni dalam Sejarah Islam Bogor, Agustus 2012 200 orang (siswa) Sekolah Bosowa Bina Insani Bogor 6. Simposium Pendidikan Nasional Depok, 30 Oktober 2013 200 orang Makmal Pendidikan DD 7. Seminar Pendidikan dan Museum Jakarta, November 2015 150 orang Museum se-DKI Jakarta 8. Studium General School Master Teacher Makassar, Mataram, Padang, dan Medan, 2015 Sekolah Guru Indonesia DD 9. SeminarNasional Ikatan Mahasiswa Kependidikan Seluruh Indonesia Semarang, 2016 500 orang IMAKIPSI 10.Seminar Pendidikan Ikatan Mahasiswa Kependidikan Seluruh Indonesia Tingkat Sumatera Palembang, 2016 300 orang IMAKIPSI 11.Seminar Nasional Pendidikan Klaten, 2016 200 orang Universitas Widya Klaten 12.Seminar dan Workshop Keguruan Bogor, 2017 200 orang UIKA Bogor 13.Social Leader Training Tingkat Nasional Bogor 2018 100 orang Sekolah Kepemimpinan bangsa 14.Future Leader Camp 2019 15.Young Leader Camp 2019 di Bandung, Bogor, dan Lubuk Linggau 16.Young Leader Regional Camp di Solo 2019 17.Muktamar Young Leader di Semarang 2020 18.Sociopreneur Camp 2019 di Yogya 19.Studium Generale Sekolah Pasca Sarjana UNY, 2020 20.Studium Generale UNNES 2020 21.Studium Generale PGSD UNNES Tegal 2020 22.Seminar Pendidikan di UNPAS Bandung, 2020 PEMATERI PELATIHAN GURU (Public Training) 1. Publik Training (Hari Guru), Tema: Kondisi Guru Indonesia Bogor, 25 November 2008 2. Publik Training (Hari Guru), Tema: Guru Bergerak Depok, 25 November 2009 3. Publik Training (Hari Guru), Tema: Pembelajaran Efektif Jakarta, 25 November 2012 4. Publik Training (One Trainer Interactive Show), Tema: Inspirasi Guru untuk Bangsa Aula Kantor Gubernur NTB, 1 Agustus 2010 5. Publik Training dalam rangka Launching buku “Besar Janji daripada Bukti”, Tema: Guru Kreatif Maros dan Garut, November – Desember 2013 6. Publik Training, Guru Kreatif di Serang Banten, 2014 7. Publik Training, Guru Kreatif di Lhokseuwe Aceh, 2014 8. Pelatihan Guru Pertamina di Cirebon, 2019 9. Indonesia Teacher Leader Camp 2020 di Sulawesi Selatan Guru Agung Pardini sangat percaya bahwa menulis buat para guru adalah lompatan dan percepatan peningkatan kapasitas, kompetensi, dan rasa percaya diri. Menurut Guru Agung Pardini menulis ini melatih ketajaman pikiran dan memperhalus budi pekerti. Maka menulislah, maka engkau "ada". Cobalah menulis dengan apa yang sering kita pikirkan, kita lakukan, dan yang sering kita katakan. Buat mencari ide, butuh teman diskusi, butuh temen nongkrong setia, butuh komunitas. Merangkai kata dalam bentuk tulisan bukan pekerjaan mudah maka kita mesti bersabar. Kalau mau lancer menulis harus banyak membaca dulu. Berdasarkan pengalaman beliau bekerja di lembaga kemanusiaan Dompet Dhuafa. Beliau mengajak guru-guru mengabdi di daerah-daerah pelosok dan menulis atau berkarya. Setiap malam mereka harus menulis pengalaman mereka selama siang hari. Modelnya bisa macam-macam. Ada yang curhat, sampai ada yang membahas suatu teori kependidikan dan kepemimpinan. Setelah pagi tiba, sebelum beraktivitas dalam pembinaan, semua jurnal tadi dikumpulkan untuk diapresiasi dan ditanggapi. Melalui jurnal ini, kita pun para pengelola dan dosen jadi tahu tentang perasaan dan pikiran yang tengah bergejolak di hati mereka. Jika ada perasaan hati yang negatif, kita bisa langsung coaching atau konseling. Ada yang rindu keluarga, ada yang sakit hati dan macam-macam ceritanya. Kebiasaan menulis jurnal harian ini membuat guru jadi terlatih buat menulis. Namun ini tentu tidaklah cukup, harus ada upaya lain, yakni banyak-banyak membaca. Kalau gak banyak baca, ya gak bakal banyak menulis. Ini melatih kepekaan literasi mereka. Makanya kita adakan bedah buku rutin ada yang harian atau mingguan. Setiap pagi guru di SGI mengadakan apel, yang bertugas sebagai pembinanya bergantian. Pemimpin apel bertugas memberi kajian bedah buku. Setelah apel, untuk memantau kemajuan bacaan para guru, biasanya ada aktivitas "Semangat Pagi". Yakni memberi motivasi secara bergantian, dengan menggunakan kata-kata yang dinukil dari para tokoh. Ini efektif juga buat meningkatkan kepekaan literasi buat para guru. Saat ini buku-buku kami sudah habis versi cetaknya. Makanya kami ubah ke versi pdf atau e-book. Buku-buku ini sudah tersedia online dan lebih mudah diakses. Linknya : EduAction e-Book Dompet Dhuafa Pendidikan 2020. Sahabat Pendidikan, yuk tambah pengetahuan dengan mengunduh materi-materi terbaru dari para pegiat pendidikan Indonesia. Ada pembahasan menarik tentang kepemimpinan, parenting, sampai bagaimana langkah kita menghadapi Covid-19 yang ditulis oleh Ust. Harry Santosa, Sri Nurhidayah, Ivan Ahda, Asep Sapa'at, dan Guru Agung Pardini. Selain itu, Sahabat Pendidikan juga akan mendapatkan bonus Guide Book Ramadan Sekolah Guru Indonesia. Sila unduh dan donasi di :⁣http://etahfizh.org/ebook.⁣ Alhamdulillah, hari ini satu persatu daerah-daerah yang kami sambangi sudah ada jaringan internet dan listrik, jadi semakin mudah buat kami buat koordinasi. Kami juga mengajak Sahabat Pendidikan berbagi kebahagiaan dengan siswa yatim dan marjinal dengan berdonasi baju lebaran untuk mereka melalui tautan http://etahfizh.org/campaigns/baju-lebaran/⁣⁣

Sabtu, 02 Mei 2020

Kepala Dinas

Hubungan pak Nyoman dengan adik-adiknya di Bali masih harmonis, walaupun menurut hukum adat di Bali bapak sudah dianggap sebagai orang durhaka karena telah pindah agama. Namun menurut adik-adiknya, bapak masih menjadi panutan sampai sekarang. Sepupu dan keponakan bapak dari Bali juga sering berkunjung ke Probolinggo. Tegur sapa dengan saudara di Bali lewat telepon juga sangat di senangi bapak. Setiap even ke agamaan mereka selalu mengucapkan selamat, saya sungguh terharu melihatnya. Sebagai menantu yang belum banyak mengenal agama Hindu, sesekali saya memberi mengucapkan selamat kepada sepupu suami yang ada di Bali, ‘Om Swastiastu.. rahajeng Nyepi Mbok..’, tulisku di media online. Kata Mbok berarti saudara perempuan, Om Swastiastu adalah ucapan salam yang umum digunakan, Nyepi adalah hari raya Nyepi dan rahajeng artinya selamat. Meme Teki walaupun seorang ibu tiri sangat bangga dengan pak Nyoman dan selalu dia ceritakan kepada cucunya perihal bapak waktu kecil hingga dewasa. Kepergian pak Nyoman untuk merantau dan sekarang menjadi orang yang di hormati sangat membanggakan bape dan memenya. Bape Wayan sangat bangga dengan anak sulungnya ini, hingga ia memilih menghabiskan hari tuanya dengan pak Nyoman di Probolinggo. Dan takdir Illahi menentukan, bahwa bape Wayan tutup usia di Probolinggo sebagai mualaf. Kepergian bape Wayan menghadap Illahi banyak mengundang simpati berbagai kalangan. Hampir semua guru-guru di wilayah Probolinggo sudah pasti mengenal pak Nyoman, namun berita meninggalnya bape Wayan hampir tidak terpikirkan hingga mengundang ratusan pelayat. Pejiarah dari beberapa instansi berdatangan dengan menyumbang karangan bunga dan mereka beriringan menghatarkan bape Wayan keperistirahatan terakhir beliau. Untuk mencari kediaman pak Nyoman tidaklah sulit, karena dulu jalan Cokroaminoto merupakan daerah pengembangan tata kota yang tediri dari tanah kapling. Karena sedikitnya jumlah rumah waktu itu, seolah kediaman pak Nyoman bisa dilihat dari jarak 1000 m. Pada jaman dulu kediaman pak Nyoman memang paling besar di jalan Cokroaminoto sehingga pantas bila di sebut sebagai rumah kepala dinas. Bila ada yang bertanya letak rumah pak Nyoman, orang-orang selalu bilang ‘pak Nyoman kepala dinas, rumahnya di jalan cokro’ dan kebanyakan tidak meleset. Kediaman pak Nyoman di jalan Cokro yang tampak megah waktu dulu, membuat banyak orang berpikir besarnya penghasilan pak Nyoman karena yang mereka tahu kedudukan beliau adalah kepala dinas. ‘Seorang kepala dinas harus memperlihatkan teladannya dengan memberi tiang bendera permanen tepat di tengah halaman rumahnya’, begitu mereka bergumam. Jaman dulu ketika sedikit rumah, tiang bendera di halaman rumah merupakan salah satu tanda rumah bapak, hehe. Begitu memasuki rumah agak dalam akan tampak Foto presiden dan wakil presiden yang terbingkai rapi dengan mengapit lambang negera Garuda Pancasila. Memberi lambang Negara dan foto Prosiden di rumah merupakan kewajiban bagi bapak, saya sendiri tidak pernah bertanya mengapa masih beliau pajang walau sekarang sudah pensiun. Ketika pergantian wajah presiden atau wakilnya, bapak tidak mau menunggu lama meminta foto terbaru untuk mengisi pigora sakralnya. Hihi. Maaf ya pak, bukan bermaksud menertawakan bapak, yang saya tahu cuma kantor dan instansi pemerintah saja wajib memasang lambang Negara, up.. ampun deh saya memang kurang sensitive padahal saya kan juga aparatur Negara, maaf ya bapak Presiden.

Jumat, 24 April 2020

PRESENTASI TERBAIK

Proposal adalah langkah awal dari pengajuan bantuan ke pusat, yang isinya terdiri dari latar belakang, tujuan, masalah hingga perkiraan dana yang di butuhkan. Dengan proposal apa yang menjadi tujuan dan kendala di lapangan akan terbaca oleh pusat atau pihak di tuju. Dan pengajuan proposal ini sudah pernah pak Nyoman lakukan untuk sekolah-sekolah swasta ketika di Lecas sehingga mendapatkan bantuan dari beberapa instansi. Salah satu kesulitan membuat proposal adalah rasa malas atau alas an yang kita buat-buat sehingga menghabiskan waktu dan kesempatan untuk memperoleh kesempatan itu. Tidak banyak daerah atau instansi harus mundur atau membatalakan niatnya untuk kesempatan seperti ini. Namun kata malas tidak berlaku untuk pak Nyoman. Setiap proposal yang di buat harus di periksa sendiri secara akurat, bahkan tidak jarang beliau membuat proposal sendiri karena beberapa hal. Pak Nyoman sadar bahwa yang lebih membutuhkan kesempatan ini adalah kita atau yang mengajukan bantuan belum lagi kesempatan ini harus bersaing dengan wilayah lain se Indonesia. Jadi kecepatan kita dalam membuat proposal memang menjadi taruhan berhasi tidaknya bantuan yang akan kita dapatkan. Setelah misinya di beberapa wilayah di Probolinggo tercapai, sekali lagi pak Nyoman membuat pengajuan mendirikan gedung Dinas Pendidikan dan Kebudayaan atau di kenal dengan P & K untuk wilayah Probolinggo. Pada waktu itu Dinas P & K kota dan kabupaten Probolinggo masih bergabung dan belum memiliki bangunan sendiri atau berstatus kontrak. Memperjuangkan sebuah bantuan lagi untuk membuat gedung dinas P & K tidak ingin ia tunda, walaupun kesempatan yang ada hanya dua kuato. Masih kuat dalam ingatan bapak bagaimana beliau mempresentasikan pengadaan gedung dinas P &K itu. ‘Kuota bantuan pengadaan gedung dinas hanya dua pak Nyoman dan sepertinya daerahnya sudah di tentukan’, itu yang di sampaikan salah seorang pegawai di pusat. Dengan argumennya pak Nyoman terus memberi alasan lagi tentang pentingnya gedung dinas itu untuk wilayah Probolinggo. ‘Pengadaan gedung dinas di Probolinggo tergolong besar karena masih melakukan pembelian tanah’, seorang lagi ada yang menyela presentasi pak Nyoman. Setelah ikhtiar di lakukan langkah senjutnya adalah doa, karena Allah maha penentu terbaik. Dan jawaban dari usaha pak Nyoman adalah Probolinggo mendapatkan kuota pendirian gedung dinas P&K yang letaknya di jalan Basuki Rahmad No. 20A kota Probolinggo. Alhamdulillah Sekali lagi pak Nyoman membuat pengajuan sarana pendidikan untuk sekolah kejuruan, pada waktu itu ada sebuah moment meningkatkan persiapan SDM untuk siap kerja. Untuk mempersiapkan SDM yang baik dan siap kerja harus di siapkan sarana belajar dan praktik yang tepat pula. Hal inilah momen di adakannya pengadaan sarana untuk SMK. Kesempatan ini tidak akan di lepas oleh Pak Nyoman untuk sekali lagi membuat proposal pengajuan bantuan. Pengadaan sarana pendidikan untuk SMK ini merupakan momen yang besar pada prooyek pendidikan dan hampir seluruh kota mendapatkan bantuan ini. Dan Probolinggo juga mendapatkan kuota bantuan sarana pendidikan SMK. Entah sudah berapa kali pak Nyoman membuat proposal pengajuan hingga presentasi ke pusat, yang pasti usaha beliau selama ini membuatnya cukup di kenal dan hasilnya mempermudah setiap usaha beliau. Tiba saat peresmian sarana SMK, ternyata langsung di resmikan oleh orang nomer satu Indonesia saat itu yaitu Presiden Soeharto. Secara simbolis bapak presiden Soeharto melakukan peresmian penerima bantuan sarana SMK tersebut ke semua kota di Jawa Timur, dimana tempat yang di pilih adalah Probolinggo. Subhannallah…

PANORAMA ALAM

Dalam diam, pak Nyoman kembali mengingat jalan-jalan yang ia lalui di wilayah-wilayah kabupaten tersebut, ‘betapa beragamnya iklim dan budaya disini’, kenang pak Nyoman. Ternyata ada budaya hindu yang sangat kental walaupun tidak dijumpai banyak pura layaknya di Bali, dan bahasa yang di gunakan jawa yang medok, ya.. itulah daerah lereng gunung Tengger dan sekitarnya. Dengan iklim yang dingin sangat jauh dari iklim Probolinggo pada umumnya, panoramanya sangat indah mulai dari perjalanan hingga mencapai puncak gunung Bromo. Penduduknya masih memegang budaya asri miliki leluhurnya dan taat pada adat istiadat, sama seperti di Bali gumam pak Nyoman lagi. Turun dari desa Sukopuro yang dingin akan menjumpai desa Negororejo Lumbang yang memiliki air terjun besar Madakaripura, konon disinilah patih Gajah Mada menghabiskan sisa hidupnya. Wilayah daerah timur Probolinggo antar Gending, Tiris dan Maron banyak sekali dijumpai sungai yang masih alami dengan batu-batu besardan tebing yang berkelok dan curam. Salah sungai yang bernama sungai Pakelan, saat ini menjadi wisata Arum Jeram. Desa Tiris mempunyai banyak pesona alam yaitu pemandian air panas yang alami dan Danau yang bernama Ranu Segaran. Dan masih di sekitar daerah ini terdapat juga Candi peninggalan raja Hayam Wuruk yang bernama Candi Jabung, konon candi ini tempat makam salah seorang keluarga kerajaan Majapahit. Kemudian masuk ke pegunungan Argopuro yang memiliki panorama puncak yang khas dan salah satu puncaknya tersebut bernama Rengganis. Nama Rengganis diambil dari nama Dewi Rengganis seorang ratu kerajaan. Selain keindahan panorama alamnya ternyata Probolinggo memiliki tanah yang subur, dari wilayah barat sampai timur memiliki kesuburan yang beragam sehingga menghasilkan hasil bumi yang beragam pula. Buah Mangga dari Probolinggo sudah diakui semua orang baik dari dalam maupun luar Probolinggo, belum lagi hasil bumi yang lain seperti bawang merah, tembakau, padi, jagung sangat cocok sekali untuk iklim panas di Probolinggo. Daerah lereng pegunungan Tengger yang dingin juga sangat produktif dengan hasil kebunnya seperti kentang, koll, wortel dan lain-lain. Dan tidak kalah dari hasil bumi ada kekayaan hasil laut yang tak pernah habis, wilayah pesisir di Probolinggo sangat luas dan hampir semua bermata pencaharian nelayan. Sesaat rasa capek yang menggelayuti badannya mulai terasa hilang, betapa bagusnya panorama di Probolinggo, gumam pak Nyoman lagi. Panorama seindah ini akan mudah di asah dengan bekal pengetahuan dari penduduk setempat, sehingga dapat menarik wisata dan tidak hilang percuma. Sekali lagi semangat pak Nyoman dalam membuat rancangan bertambah dan kian lama kian kuat.

JALAN YANG BERLIKU

Keberhasilan pak Nyoman menjadi teladan di lingkungan pendidikan kota Probalinggo selama menjadi penilik sekolah ternyata tidak berlaku ketika menduduki posisi barunya sebagai kepala seksi bidang di instansi pendidikan. Perjalanan karir yang selama ini berjalan dengan manis, sekarang adalah masa sulit, corak terjal dan berliku menghampiri perjuangannya. Wilayah probolinggo yang terdiri dari dua bagian, yaitu kota dan kabupaten merupakan daerah yang luas dengan berbagai kondisi alam yang menantang dan ragam budaya yang komplek. Tanggung jawab tugas pak Nyoman sebagai kepala seksi bidang pendidikan dasar dan prasekolah, ternyata tidak semuda tugas-tugasnya selama ini. Kecamatan Leces tempat pertama beliau memulai perjuangannya ternyata hanya sebagian tempat kecil di lingkungan wilayah Probolinggo karena wilayah kabupaten Probolinggo ternyata memiliki luas sekitar 1.696 Km2. Sementara luas kota Probolinggo tempat beliau menebarkan semangatnya hanya seluas 56,67Km2 . Jadi bisa di bayangkan nilai 56,.. berapa kali lipat dari 1.696 ? .. Kemudahan tugaspak Nyoman selama di kota Probolinggo adalah karena lokasi wilayahnya tidak merepotkan yaitu memiliki luas terjangkau dengan dataran yang rata, jadi untuk melakukan sidak atau pengawasan cukup dilakukan dengan waktu sehari. Berbeda dengan wilayah kabupaten Probolinggo, dengan luas wilayah seperti itu ternyata letaknya juga terpencar yaitu di sebelah selatan, barat dan timur dari kota Probolinggo atau mengelilingi kota Probolinggo. Selain lokasinya yang sangat luas, kabupaten Probolinggo juga memiliki geografis yang berbeda yaitu dataran rendah atau tanah pesisir di sebelah utara di sepanjang bagian paling barat hingga paling timur kabupaten Probolinggo; daerah perbukitan di sekitar kaki gunung Semeru, pegunungan Tengger dan sisi bagian timur gunung Lamongan; dan terakhir daerah pegunungan di sekitar pegunungan Tengger dan pegunungan Argopuro. I Nyoman percaya usaha tak akan membohongi hasil, dengan memahami letak geografis dan mata pencaharian penduduk setempat, saya pasti bisa menyelesaikan tugas ini, gumamnya. Melaksanakan misi ‘menyediakan sarana pendidikan dan memotivasi warga Probolinggo untuk belajar’ mulai berjalan tentunya dengan bantuan para penilik sekolah. Satu kendala lagi yang menjadi masalah adalah keterbatasan guru dan penilik sekolah, kurangnya motivasi belajar pada penduduk di probolinggo menyebabkan kurangnya sumberdaya manusia penggerak misinya. Salah satu cara untuk menyediakan guru dan penilik sekolah adalah dengan meminta kuota dari pusat melalui seleksi PNS. Ketika guru baru sudah hadir, seperti yang beliau bayangkan selama ini yaitu di dominasi kaum urban seperti kota Malang, Surabaya, Kediri, Jombang, Magetan dan wilayah lain sekitar Jawa Timur. Kehadiran guru urban memiliki nilai plus dan minus, nilai plusnya adalah kwalitas SDM yang sudah bagus karena berasal dari pendidikan tinggi, sedangkan nilai minusnya adalah karena bukan dari Probolinggo maka kurang siap menghadapi kultur budaya di kabupaten Probolinggo yang beragam. Sehingga langkah pertama adalah membuat guru urban tersebut betah untuk tinggal di wilayah Probolinggo sesuai pilihannya, pilihan terbanyak adalah di kota Probolinggo. Langkah kedua menjalankan misinya adalah melanjutkan memeratakan jumlah sekolah di seluruh wilayah Probolinggo khususnya kabupaten. Mendirikan sekolah dengan memahami kwalitas SDM daerah adalah kuncinya yaitu memperluas jangkauan tingkat sekolah dasar dan prasekolah. Dengan memberi bekal pendidikan setara sekolah menengah, maka di buatlah rekruetment. Pendidikan pra sekolah yang berisi permainan akan membuat anak-anak di daerah setempat tertarik untuk bersekolah, sehingga untuk melanjutkan ke jenjang SD tidak kesulitan dalam memotivasi. Daerah pesisir yang memiliki jangkauan dekat dan jumlah penduduk yang rapat, cukup sulit untuk menyadarkan arti pendidikan di setiap warganya. Karena moto mereka adalah bagaimana mencari uang untuk hidup, sementara susah payah sekolah belum tentu dapat uang melainkan menghabiskan uang begitu mereka bilang. Baru masuk di wilayah terdekat saja sudah mendapat kendala, ternyata slogan Probolinggo sebagai daerah keras sudah dapat di lihat dari budaya di pesisir. ‘Perlu lebih sabar dan tidak usah di paksa’, gumam pak Nyoman dalam hati. Dari wilayah paling barat keselatan adalah wilayah pegunungan Tengger dan Semeru, ternyata wayoritas penduduknya pemalu, mata pencaharian meraka adalah berkebun di lereng pegunung Tengger. Wilayah dataran menengah dan tinggi ini sangat luas dengan jumlah penduduk yang tidak terlalu banyak maka sekolah yang didirikan di sesuaikan dengan jumlah penduduk setempat. Jangkau penduduk dengan sekolah terdekat cukup jauh untuk ukuran orang kota di tambah lagi medan yang di tempuh cukup curam. Wilayah timur dari kota Probolinggo adalah Dringu, Gending, Kraksaan dan Paiton merupakan wilayah dataran rendah dan sedang. Mata pencaharian penduduk selain nelayan adalah bertani, cuaca yang panas dan anginnya yang kencang, tanaman terbaik di sana adalah bawang merah, tembakau, anggur hitam, mangga dan banyak lagi tanaman lain yang tumbuh dengan baik. Karena lokasinya sangat mudah di jangkau, sepertinya penduduk setempat lebih terbuka untuk pendatang baru dari guru urban. Memasuki wilayah timur ke selatan adalah dataran menengah dan tinggi yang terdiri dari daerah Tiris, Pakuniran, Krucil dan seterusnya. Wilayah dataran tinggi yang ini tidak sedingin wilayah di lereng pegunungan Tengger. Cuaca Probolinggo masih terasa disini ada panas dan angina walaupun lokasinya di dataran tinggi. Kondisi alamnya tidak jauh berbedengan dengan tengger yaitu berliku dan curam. Akomodasi favorit kala itu adalah delman dan mata pencaharian penduduknya adalah berterbak sapi perah, domba perkebunan dan pertanian. Sama halnya dengan di tengger jumlah pendudukanya tidak sebanding dengan luas wilayahnya, jadi mendirikan sekolah disini disesuaikan dengan jumlah penduduknya. Wilayah selatan kota Probolinggo terdiri daerah Malasan, Leces, Bremi, Patalan dan seterusnya. Wilayah selatan ini terdiri dari dataran rendah dan dataran sedang mata pencaharian terbanyak berdagang, bertani dan berkebun. Sesuai dengan letak geografisnya, kondisi tanahnya landai dan berbukit, iklimnya tropis dengan bahasa yang di gunakan mayoritas Madura. Jumlah penduduk di wilayah ini cukup padat sehingga pendirian sekolah di daerah ini bisa memenuhi jangkauan penduduk

Jumat, 17 April 2020

Keterkaitan Sang Mertua Dengan Presiden Soekarno

Pak Sis adalah salah seorang pejuang sebelum terjun dan berprofesi di dunia pendidikan. Kepahlawanan pak Sis telah ia buktikan atas kesetiaannya dalam membela dan mendampingi presiden Soekarno ketika melakukan pengasingan di pulau Bima. Presiden Soekarno yang sudah beberapa kali di tangkap Belanda karena di nilai membahayakan misi Belanda selama di Indonesia, tidak pernah pudar menggelorakan semangat juangnya ke seantero negeri. Pak Sis adalah salah satu pejuang muda kala itu setia menunggu kode dari sang proklamator dalam melancarkan gerakkan perjuangannya. Hingga akhirnya terjadilah pertemuan dengan sosok penggelora semangat juang yang terkenal dengan sebutan putra sang Fajar. Di pengasingan itu pak Sis mendapati berkah yang luar biasa, dimana kelahiran putri pertamannya menjadi saksi nyata perjuangan sang idola. Dengan belaian dan keberkahan sang proklamator teriring doa terbaik untuk sang buah hati hingga keturunannya kelak, jadilah pahlawan bangsa. Aamiin. Pak Sis sejenak merenung ke masa silam, pada masa perjuangan bersama bung Karno yang tidak pernah menyerah dengan walau beberapa kali di tangkap dan hukuman oleh Belanda. Kini pak Sis kembali merasa menjadi saksi sejarah dari seorang pemuda yang tidak pernah menyerah dengan idealisnya. Pemuda yang berstatus menantunya, telah membuktikan bahwa masih ada jiwa-jiwa pejuang di bumi Pertiwi ini. Untuk kedua kalinya di masa hidupnya dia menjadi saksi dan ikut mendampingi sosok pejuang, bagaimana sang menantu ketika menumbuhkan semangat pendidikan untuk anak-anak yang belum terjamah pendidikan, membangun sarana belajar dalam keterbatasan yang ia miliki tanpa mempedulikan kebutuhan dan kesenangan sendiri. Ketika dia sudah berada di puncak dan di elu-elukan anak buahnya pun dia tetap bekerja dan berjuang tanpa pamrih, walau harus tinggal di sebuah kamar yang sekaligus dapur. Tanpa merengek kepada mertuanya yang seorang kepala Inspektorat, dia rela menjalani kesederhanaan hidup bersama keluarga kecilnya. Suatu waktu pak Sis di kejutkan atas tergoleknya sang menantu di sebuah ranjang rumah sakit, 'apa yang terjadi ?' tanya pak Sis pada putrinya. 'Iya pak, mas kalau malam masih bekerja', jawab Sugiarti. Dia selalu memeriksa administrasi pertanggungjawaban keuangan terutama dana bantuan dari pusat, lanjut Sugiarti. Ternyata itulah yang dilakukan menantunya, Pak Sis hanya tahu kalau menantunya dikantor adalah pekerja yang pantang menyerah, tidak pernah berhenti untuk memberi teladan kepada bawahan dan rekannya. Sugiarti sang putri tidak pernah menceritakan apa selalu suaminya lakukan setiap ada di rumah, hingga dia tahu setelah jatuhnya fisik sang menantu dan harus menginap di rumah sakit. Tanpa terasa terucap doa tulus dari bibir laki-laki tua itu, sunggup beruntungnya aku menjadi saksi dan turut menyertai dua orang yang pilihanMu ya Tuhan.. Dua pemuda berbeda waktu yang memiliki semangat luar biasa. di umurku yang tidak seberapa ini, aku telah menyaksikan kokohnya semangat juang bung Karno membela tanah airnya, berjuang untuk meraih kemerdekan dan satu lagi semangat juang mengisi kemerdekaan. Ya Allah.. ijinkan aku meminta.. tumbuhkanlah jiwa pejuang dan rasa nasionalisme pada diri putra dan putri kami agar bangga bangsa kami, sesungguhnya kami hanya tunduk padaMu ya Robb

Kamis, 16 April 2020

Kelahiran Putra Yang Prematur

Kehilangan seorang putri kecilnya yang masih amat kecil merupakan pukulan untuk Ibu Sugiarti, terutama putri pertama yang sangat ia harapkan. Kesedihan ini semakin bertambah dengan adanya aksi pemberantasan anggota PKI yang meraja lela. Gerakan penumpasan PKI yang sudah merata di seantero tanah air, hampir tak terkendalikan karena bukan hanya di lakukan oleh aparat melainkan masyarakat awam. Antara sikap tegas atau anarkis hampir tiada beda kala itu, karena sikap marah yang mereka tunjukkan adalah sama. Sugiarti yang sedang mengandung putra ke dua juga terdampak dengan kondisi yang demikian, ketenangan dan kenyamanan yang ia inginkan sulit sekali di dapat. Hari demi hari tiada ketenangan sedikit pun yang ia rasakan, kecuali dengan istifar dan doa yang mampu meredakan guncangan hatinya. Setiap kali pintu di gedor, sontah seluruh tubuhnya tergoncang dan perut buncitnya saja yang menjadi saksi bagaimana paniknya dia. Untuk turun dari tempat tidurpun tak mampu ia lakukan, profesi guru yang selama ini dia banggakan sudah tergoncang oleh isu PKI. Ditengah ke uncangan jiwa dan raganya, ibu Sugiarti harus menerima kenyataan untuk melahirkan putra idamannya secara kurang bulan atau premature. Kondisi ini semakin memperburuk keadaan karena perawatan yang ia jalani harus berjalan di tengan kondisi yang rusuh dan mendebarkan.