Jumat, 05 Februari 2021

Cerpen ke 7

Assalammualaikum, Om Swastiastu Suara takbir syahdu berkumandang. Gemericik air hujan membelah kesunyian malam. Entah berapa menit yang lalu aku baru dapat memejamkan mata. Kulihat meja tulisku, setelah aku menulis semalam. Di meja tulis itulah beberapa benda yang setia menemaniku. Beberapa lembar kertas telah ku isi dengan coretan pena hitam dan biru. Seolah mereka berterima kasih kepadaku telah membuat kehadirannya di dunia ini menjadi berharga. Sementara kertas kosong dan bersih tampak membisu memandangku. Kulihat mentari kian meninggi, seiring meredanya hujan pagi ini. Langit mulai menampakkan senyumnya dan menghiasi hari ini. Terdengar suara Adit, cucuku yang mulai bangun dan mencari mamanya. “Mama minta susu”, suara Adit dari dalam kamarnya di seberang kamarku. Adit yang masih balita sungguh menggemaskan semua mata yang melihat. Seolah tak ada yang salah dengan semua tingkahnya. Hingga aku sempat berpikir, bahwa enak sekali jadi anak kecil apa-apa di siapin. Selalu ada orang yang menemaninya. Setiap ada tamu selalu memujinya karena lucu, harum dan menggemaskan. Dan tentu saja tidak seperti aku yang sudah tua renta ini. Asam lambungku telah mengambil salah satu nikmat hidupku. Nafasku sering membuatku pusing. Orang lain pasti merasa pusing juga bila didekatku. Tapi aku tetap harus bersyukur karena anakku masih mau tinggal serumah danganku. Tetangga sebelah harus sendirian di rumah, tanpa anak dan cucu yang menemani. Kudengar seisi rumah sedang sibuk menyiapkan diri untuk menunaikan shalat Id ke masjid. “Bapak, bapak sudah bangun?”, kudengar suara Iwan dan menghapiriku. “Shalat Id tidak wajib kok, bapak boleh dirumah saja dan tidak harus shalat bersama kami. Tapi kalo bapak merasa enakan, ayo Iwan bantu”, kata Iwan lagi. Iwan adalah anak bungsuku yang tinggal bersamaku. “Biar bapak di rumah saja”. Jawabku dengan menurunkan kedua kakiku yang sudah terasa berat. “Teh manis sudah Eli siapkan di meja makan, ayo Iwan antar ke meja”, kata Iwan sambil mengangkat bahuku. “Gak usah bapak bisa sendiri, kamu berangkat saja”, jawabku. Eli adalah menantuku yang telah memberiku dua cucu laki-laki. Pernikahan Eli dan Iwan tidak di awali dengan pertemanan atau proses pacaran. Keduanya anak yang patuh kepada keputusan orang tuanya. Dengan proses perjodohan yang singkat, mereka menuruti permitaan kami untuk segera menikah. Setelah pernikahan terjadi, merekapun tetap patuh untuk mau tinggal bersamaku. Kini hari-hariku bergantung pada Iwan dan Ely. Sambil melangkah keluar kamar, tiba-tiba Iwan menoleh ke arahku, “Oh ya. pak, sapinya akan disembelih sekitar jam 9. Kalo bisa bapak datang ke masjid dan lihat walau sebentar”, kata Iwan. “Nanti sama Iwan ya kesana. Anak-anak juga pasti suka melihat banyak kambing dan sapi di halaman masjid”, kata Iwan lagi berusaha menghiburku. Sambil tersenyum aku mengiyakan saja rencana putraku. Aku menjadi mualaf setelah bertemu ibu dari anak-anaku. Hijrah ini telah merubah keyakinanku. Setelah meninggalkan Bali untuk menempuh pendidikan di pulau Jawa, aku tidak dapat menolak takdir bahwa rejekiku ada di Jawa. Selama menempuh pendidikan menengah kulalui dengan keprihatinan, aku harus memenuhi kebutuhan hidupku dengan bekerja sebagai juru parkir. Dan perjuanganku ini ternyata berbuah manis. Setelah lulus dari Sekolah Guru Atas atau SGA Dhoho di kediri, tak lama kemudian aku lulus seleksi CPNS. Berita kelulusanku atas seleksi CPNS sangat membanggakan keluargaku di Bali. Bape dan meme tak henti-hentinya bersyukur atas kelulusanku, bape dan meme begitulah aku memanggil ayah dan ibuku. Penempatan pertamaku sebagai PNS adalah di kotaku saat ini yaitu Probolinggo. Dan disinilah aku bertemu bidadariku dan menjadi salah satu alasanku menjadi mualaf. Menjadi mualaf dan menikahi istriku adalah paket komplit. Aku tidak menyesali keputusanku, justru aku bangga menjadi muslim. Istirku dengan sabarnya membimbingku menjadi muslim yang benar. Menurutku tidak ada kesalahan pada setiap keyakinan. Apa yang aku ritualkan dulu ternyata dapat kutemui di keyakinanku saat ini. Dengan memperdalam agama keyakinanku saat ini, kini aku paham atas kebenaran pilihanku. Kini aku melaksanakan kewajibanku sebagai muslim dengan menyumbang atau berkorban seekor sapi. Sementara keyakinanku dulu mengajarkan bahwa sapi adalah hewan yang sangat di sakralkan. Menurut ajaran Sri Krisna, Sapi merupakan lambang kesejahteraan. Ada banyak alasan mengapa sapi tidak boleh di makan atau di sembelih. Sapi mendatangkan banyak manfaat untuk kehidupan manusia. Susu sapi dapat di ambil atau di perah lalu meminumnya, dengan demikian dapat menjadi sumber tenaga. Sapi jantan dapat membantu petani membajak sawah. Bahkan tahi sapi di yakini menjadi penyembuh beberapa penyakit. Keyakinanku sekarang mengajarkan hal yang berbeda. Sapi merupakan salah satu hewan yang di sarankan untuk di korbankan. Menurut potongan Q.S Al-Hajj: 34, sapi (kerbau), kambing dan onta adalah tiga jenis hewan yang boleh di korbankan. Selain ketiga jenis hewan ini maka hukumnya haram sebagai hewan kurban. Berkorban adalah hal yang dianjurkan bagi yang mampu. Allah sangat mencintai hambanya yang ihklas berkorban. Berkurban adalah bentuk rasa syukur kita kepada Allah. Berkorban akan memperbanyak rejeki dan bentuk berbagi dengan sesama. Kedua keyakinan ini sungguh bertentang satu sama lain. Ada perasaan bersalah juga ketika aku mengingat adik dan keluargaku di Bali. Kepercayaan dari bape dan meme yang mengijinkanku hijrah ke Jawa, ternyata melukai adat dan keyakinan masyarakat Bali. Walaupun demikian keluargaku di Bali tidak banyak bertanya dengan keputusanku. Aku sangat bersyukur memiliki keluarga yang selalu mengerti dan mendukungku. Keinginan bape dan meme agar aku menjadi orang sukse telah ku buktikan. Walaupun dengan konsekuensi aku menjadi orang murtad dalam pandangan masyarakat Bali. “Kriiiing”, bunyi telepon membuyarkan lamunanku. Sudah kuduga ini dari siapa, “Assalammualaikum Bli, Om Swastiastu. Selamat hari Raya ya”, sapa Ketut dari kejauhan. Ketut adalah satu-satunya adik laki-lakiku. Setelah aku meninggalkan pulau Bali, Ketutlah yang menjadi tetuah di keluarga kami saat ini. Karena kedudukan anak laki-laki dalam istiadat Bali sangatlah penting. “Om Swastiastu, Waalaikum salam. Ken ken kabare?” tanyaku kembali. Terjadilah percakapan pelepas kangen kami. Tanpa mengucapkan hari raya apa, Ketut memberi doa terbaiknya untukku. Percakapan kami tidak pernah sepi, selalu ada pertanyaan dan berita yang membuatku tersenyum. Walau aku tahu tujuan Ketut adalah menghibur dan menyemangatiku, namun tetap saja ada rasa kurang dalam diriku. Rindu melihat wajahnya dan cara berjalannya yang mirip dengan bape, tegap dan gagah. Setelah salam sapa, dia selalu menanyakan kabar anak-anak hingga cucuku. Aku pun menanyakan hal yang sama kepadanya, hingga semua adik ingin kutanyakan padanya. Namun aku sadar, tidak semua pertanyaanku dapat dia jawab. Akhirnya aku menunggu saja berita lain yang ingin dia ceritakan. Sampai akhirnya dia menyudahi teleponnya. Begitulah saudara-saudaraku, tidak pernah lupa menyemangatiku dan mendukung setiap keputusanku. Dan tulus mendoakan kesehatan dan keselamatanku di sini. “Kriiiing”. Telepon berbunyi lagi dan kali ini pengirimnya Wayan adik bungsuku. “Assalammualaikum Bli, Om Swastiastu. Selamat hari Raya ya”. Sapa Wayan dari kejauhan. “Om Swastiastu, Waalaikum salam”, jawanku. “Ken ken kabare?” tanyaku kembali. Dengan doa tulus, Wayan juga mendoakan kesehatan dan keselamatanku di sini. Aku di didik dengan adat istiadat dan ke agamaan Hindu Bali. Namaku I Nyoman Benben. Aku putra pertama dari bape Wayan Nombrog dan meme We Klepon. Bali adalah tanah kelahiranku, tepatnya desa Bedulu kecamatan Belahbatuh kabupaten Gianyar. Setelah lulus SD aku meminta ijin bape untuk bekerja di rumah orang Belanda. Jadilah aku kacong Belanda. Melihat tuan Balanda, membuatku ingin seperti dia. Aku ingin memiliki rumah yang bagus dan tertata nyaman seperti yang kurasakan di rumah tuan Belanda itu. Aku ingin mempunyai pegawai dan pembantu yang patuh dengan perintahku. Dan tentu saja, itu semua untuk kehidupanku di masa depan. Itulah alasan mengapa aku bertekat hijrah ke pulau Jawa untuk pendidikan yang menurutku lebih baik waktu itu. Setelah di tinggal istriku, aku benar-benar kesepian. Tak ada lagi teman berbagi, biasa kami selalu berdiskusi tentang hal-hal kecil seputar kehidupan. Hal yang yang membuatku bersemangat karena gelak tawa manjanya. Kini aku merasa sendiri walaupun masih di rumah yang sama. Seharusnya aku lebih berbahagia sekarang dengan kehadiran cucu-cucuku. Kehadiran mereka sebagai penghuni rumah ini serasa lebih lengkap namun sayangnya harus ada perpisahan di dunia ini. Kesunyian yang merayap dari hari ke hari sudah dapat aku lalui. Aku merasa kembali ke masa lalu. Belum genap lima belas tahun aku sudah merantau seorang diri ke pulau Jawa. Tak ada meme yang setia menghidangkan makanan kesukaanku, tak ada bape dan adik-adiku yang ramai menghiburku. Ku hirup teh hangat untuk memecah kesunyianku. Aroma teh manis ini telah mampu menarik bibirku tuk tersenyum dan bersyukur. Siapa bilang hidupku sepi, bangun pagi di temani aroma wangi teh manis sudah lebih dari cukup. “Kriing”. Telepon bordering kembali. Membuyarkan lamunanku. “Assalammualaikum, Om Swastiastu. Selamat hari Raya I wak”. Sapa Ni Luh dari kejauhan.

Cerpen ke 6

Bertemu Sosok Idola Tidak salah bila selama ini aku mengidolakan bapak. Apa yang beliau katakan tak pernah meleset. Bahkan impiannya pun mudah ia wujutkan. Bermula ke inginan bapak untuk menambah guru di sekolah binaannya. Tak butuh waktu lama sang ksatria itupun datang juga. Namanya I Nyoman Benben, cukup aneh untuk telinga masyarakat di kampungku. Memang, dia datang dari pulau seberang. Penempatan PNS telah mengirimnya ke sini. Namaku Sugiarti, putri dari bapak Siswa Suharto seorang kepala SD di kecamatan Leces kabupaten Probolinggo. Entah apa yang membuat bapakku sangat sayang padanya. Orang seberang, berbeda keyakinan bahkan tak mengenal latar belakang dan keluarganya. Seorang asing yang di ijinkan untuk tinggal di rumah. “Tik, kamu sudah besar, kapan mau berumah tangga?”, tanya bapak suatu hari. “Atik kan baru lulus pak, masih harus banyak belajar untuk menjadi guru”, jawabku. “Memang kanapa kalo berpikir jodoh mulai sekarang?”, balas bapak. “Mau cari jodoh di mana pak? Teman-temanku udah menikah semua. Cuma aku yang belum menikah di sini”, jawabku sambil tersenyum. “Kamu sama nak Nyoman saja”, kata bapak sambil tersenyum. Aku tidak menyangka bapak menginginkan pemuda itu. Apa mungkin dia rela jadi mualaf. Karena sebuah keluarga harus menyatukan keyakinan, dan masih banyak lagi yang harus di pikirkan. “Jangan pak gak enak, kami kan bekerja satu sekolah. Belum tentu dia mau sama aku”, jawabku bingung mau menjawab apa. “Sudahlah, biar bapak yang atur semuanya”, jawab bapak sambil tersenyum. Setelah mengarungi berumah tangga bersama mas Nyoman, kini saya tahu pilihan bapak tepat. Semua yang mas Nyoman lakukan berkah untuk orang banyak. Begitupun di lingkungan keluargaku, Mas Nyoman mampu menjadi kakak untuk semua adik-adiku. Tidak jarang mas Nyoman menjadi penengah di antara mereka bila ada perselisihan. Karir mas Nyoman pun melampau pesat. Setelah diangkat menjadi kepala sekolah, dia menjadi pengawas sekolah kemudian masuk di jajaran kedinasan. Sekarang beliau menjadi kepala sub bidang pendidikan dasar dan prasekolah. Karena alasan kesehatan, atasannya memberi mas Nyoman Plt atau pelaksana tugas sebagai kepala dinas. Banyak usulan pengadaan sekolah baru dapat mas Nyoman jalankan. Pengadaan kantor dinaspun telah mas Nyoman perjuangkan. Kemudian pengadaan sekolah kejuruan dan sarana belajar juga dapat mas Nyoman selesaikan dengan cemerlang. Presiden memilih Probolinggo sebagai tempat penyerahan bantuan secara simbolik. TVRI pun menayangkan acara bersejarah itu dengan mas Nyoman di dalamnya. “Apa yang terjadi?”, tanya bapak ketika mendapati mas Nyoman tergolek tak berdaya di rumah sakit. “Iya pak, mas kalau malam masih bekerja. Dia selalu memeriksa administrasi, terutama dana bantuan dari pusat”, jawabku menjelaskan. “Suamimu memang orang yang pantang menyerah, bapak bangga padanya”, kata bapak perihal mas Nyoman. Bapak pun menceritakan masa lalunya. “Bapak ingat waktu dulu bergabung dengan bung Karno di pulau Ende. Belanda memilih pulau Ende sebagai tempat pengasingan bung Karno untuk menutup jalan perjuangannya. Tidak ada radio, telegraf bahkan bioskuppun tidak ada di pulau itu. Rumah yang bung karno tempati juga tidak ada listrik. Namun bung Karno tak pernah kehabisan ide, beliau memilih berjuang di panggung. Bung Karno menulis beberapa naskah cerita dan di pentaskan, di situlah bapak dekat dengan bung Karno”, jelas bapak. “Dan, aku lahir di sana kan pak?”, aku meneruskan cerita bapak dengan bangga. “Iya sejarahmu di mulai dari sana”, jawab bapak tersenyum bangga. “Kini bapak merasa menjadi saksi sejarah lagi dari seorang pemuda dengan idealisnya, yaitu suamimu Atik”, kata bapak bangga. “Bapak bangga bisa bertemu sosok idola yaitu bung Karno. Sekarang bapak lebih bangga lagi karena masih ada jiwa-jiwa pejuang di bumi Pertiwi ini”. “Atik juga bangga sekali sama bapak. Mas Nyoman bisa seperti sekarang karena semangat yang bapak berikan. Bapak telah menanamkan semangat juang bapak kepada kami”.

Cerpen ke 4

Kacong Belanda Danau Bedugul adalah satu tempat wisata yang terkenal pada jaman dahulu. Banyak wisatawan yang datang di tempat ini, beberapa orang Belanda yang berwisata selalu ada setiap hari. Hal ini karena warga Belanda banyak yang menetap di Indonesia. Sekitar abat ke 16-an Belanda telah menjajah Indonesia, mungkin warga Belada sudah menganggap Indonesia sebagai kampung halaman kedua mereka. I Nyoman adalah pedagang souvenir keliling di tempat wisata Bedugul. Selesai sekolah dasar I Nyoman memutuskan tidak melanjutkan sekolah lagi, karena pada jaman penjajahan Belanda pendidikan sangat mahal. I Nyoman memang anak yang patuh dan tidak manja walaupun bapennya seorang pecalang di tempat wisata itu. Menjadi penjual souvenir dan bertemu banyak orang membuat I Nyoman menjadi lebih sabar dan dewasa. Walau usianya 12 tahun dia sudah bisa bersikap bijak kepada semua orang dengan karakter sifat yang bermacam-macam. I Nyoman akan menghampiri dan tersenyum ramah kepada setiap pengunjung dengan menunjukkan barang dagangannya. Sesekali dia juga harus menyapa pengujung yang sengaja tidak menghiraukan kehadirannya. Ada tamu pengunjung yang pemarah, ada yang cuek, ada juga yang baik dan mengajaknya mengobrol seputar tempat wisata di Bali. Kalo sudah cukup akrap mengobrol biasanya tamu enggan menolak tawaran dagangannya. Pengunjung yang membeli dagangannya dengan cara yang ramah menjadi kebanggaan buat dirinya. Suatu ketika I Nyoman menghapiri rombongan warga Belanda yang sedang berwisata di Bedugul. Tanpa sungkan dan canggung, I Nyoman pun mendekati rombongan itu dengan membawa souvenir dagangannya. Rombongan wisatawan Belanda itu terdiri dari beberapa orang dewasa dan seorang putri kecilnya. Tidak berbeda dengan pengunjung lain, beberapa dari mereka hanya tersenyum melihat pedagang kecil ini. Hingga putri kecil mereka berteriak dan merengek karena sepatunya basah dan sedikit kotor. Nyonya Belanda yang juga sibuk membetulkan rambut dan topinya, tidak bisa segera memenuhi permintaan putrinya. Putri kecil Belanda itupun tidak mau berhenti merengek agar sepatunya dibersihkan. Melihat kejadian itu, I Nyoman yang tidak jauh dari mereka segera menghampiri noni kecil Belanda itu. Dengan sapu tangan di sakunya, I Nyoman dengan sigap membersihkan sepatu noni kecil itu. Melihat perlakuan pedagang kecil kepada putrinya, Nyonya Belanda itu jadi tersenyum dan mengucapkan terima kasih. Melihat kejadian itu, tuan Belanda yang dari tadi tampak berbincang serius dengan orang dewasa yang lain menghampiri putrinya. “Ada apa Elsie?” tanya tuan Belanda kepada putrinya. Ternyata tuan Belanda ini mendengar putrinya yang merengek dari tadi. Tuan Belanda yang melihat ke sabaran I Nyoman kepada putrinya, akhirnya ikut tertawa melihat putrinya tertawa. Noni Belanda ini menikmati kelucuan I Nyoman yang mengusap sepatunya sambil menghiburnya. Melihat kesabaran I Nyoman kepada Elsie membuat tuan David berminat mengajaknya bekerja dan tinggal di rumahnya. Tanpa berpikir panjang, tuan David pun berkenalan dangan pedagang kecil itu. “Siapa nama kamu kacong?”, tanya tuan David. “Nyoman, tuan”, jawab pedagang itu sambil tersenyum. “Nama saya David, saya tinggal di Denpasar”, lanjut tuan David sambil memperhatikan I Nyoman lebih teliti. Melihat pedagang kecil yang sederhana itu, tuan David menjadi jatuh hati karena penampilanya cukup rapi. “Kamu mau bekerja sama saya?”, tanya tuan David. Mendengar pertanyaan ini, I Nyoman hampir tak percaya dangan yang didengarnya. “Kerja apa tuan?”, I Nyoman balik bertanya. “Kamu tinggal di rumah saya, tidak perlu kerja apa-apa. Kamu cukup bermain dengan Elsie di rumah”, jawab tuan David meyakinkan I Nyoman. “Kamu punya orang tua?, Aku akan membayar kamu tiap bulan dan kamu juga boleh sekolah”, tuan David meyakinkan I Nyoman. Mendengar tawaran kerja dari tuan David, I Nyoman tersenyum sambil membayangkan tinggal di kota Denpasar. Dengan tersenyum lebar, I Nyoman pun menyetujui tawaran tuan Belanda ini. “Iya tuan saya mau, tapi saya ijin dulu sama bape dan meme”, jawab I Nyoman sambil menunjukkan letak rumahnya. Dengan berbekal kartu nama di tangannya, I Nyoman pun menemui bape Wayan dan meminta ijin. “Bape aku mau kerja di Denpasar”, ujar I Nyoman sambil menyerahkan kartu nama tuan David. Sambil menceritakan pertemuannya dengan tuan David, I Nyoman juga menyampaikan bahwa dia akan di gaji per bulan. “Kamu boleh kerja dengan orang Belanda, tapi jangan lama-lama”, pesan bape Wayan kepada putaranya. Bermain olah raga badminton adalah kegemaran Elsie. Ada kalanya I Nyoman memperkenalkan permainan anak-anak di kampunya, ada gobak sodor, engklek, kuda-kudan dan lain-lain. Secara tidak sadar Nyoman juga memperkenalkan bahasa Indonesia kepada Elsie. Maka tidak perlu menunggu lama, Elsie pun mengucapkan kalimat-kalimat Indonesia dengan logat Belandanya. “Kacong, ayo main!” itu seru Elsie setiap melihat kacong Nyoman. Tuan David sangat kagum dengan kepribadian kacong Nyoman yang patuh dan pintar. Ketika santai di rumah, tidak jarang tuan David mengajak ngobrol kacongnya ini. Walaupun kacongnya ini masih bocah namun dapat menjadi teman ngobrol yang pas. Begitupun Nyoman sangat kagum dengan kepandaian tuannya, setiap kali melihat tuan David menulis atau bekerja. Sudah ganteng pintar lagi, gumam Nyoman pada dirinya. Sepintas terlintas di benaknya, kelak kalau sudah besar ingin pintar seperti tuan David. Punya pegawai dan anak buah yang patuh kepada perintahnya. Kalo saya pintar seperti tuan David pasti di hormati banyak orang dan bisa bekerja dengan terhormat. Tidak seperti sekarang hanya menjadi seorang kacong. Teringat lagi pesan bape Wayan, “Kamu boleh kerja di Denpasar, tapi jangan lama-lama. Kalo sudah punya uang kamu harus sekolah lagi.” Itulah alasan bape nyuruh aku sekolah lagi, biar aku jadi orang pintar yang di hormati orang. Selama dua tahun menjadi kacong Belanda dan merasakan kemanjaan di rumah tuan David, I Nyoman sudah mantap untuk kembali sekolah lagi. Walaupun di rumah tuan David dia mendapatkan semua kebutuhannya, namun tidak mungkin selamanya menjadi kacong. Tuan David yang gagah, tampan dan pintar menjadi inspirasti I Nyoman untuk menjadi orang pintar dan baik seperti dia. Bersekolah lagi berarti dia harus berhenti menjadi kacong. Memulai hidup baru, dari awal lagi mengukir waktu untuk masa depannya. Setelah menyampaikan rencananya kepada bape dan meme untuk melanjutkan sekolah, tibalah waktu I Nyoman untuk berpamitan dengan tuan David dan keluarga. Sore hari setelah bermain dengan Elsie, I Nyoman mendapati tuan David duduk bersantai di teras rumah melepas lelah sepulang kerja. “Tuan, saya mau berhenti bekerja”. Nyoman membuka percakapan dengan tuannya. Dengan sedikit heran tuan David menoleh kearah Nyoman, “Kenapa Kacong?” tanya tuan David. Sambil tersenyum tipis Nyoman melanjutkan “Saya mau sekolah lagi tuan”, lanjut Nyoman.

Bukan Putra Harapan

Bukan Putra Harapan Beberapa kali kecewa karena kehilangan sang buah hati, membuat Arman mengalami trauma. Putra pertama yang menjadi dambaannya tidak bertahan lama karena suatu penyakit. Dengan berat hati Arman pun harus merelakan anak pertamanya pergi menghadap sang pencipta. “Maafkan aku mas, tidak bisa mempertahankan anak kita”, ucap Murni sambil menangis. “Ya ini sudah takdir, kita harus ihklas dengan kehendak Nya”, hibur Arman kepada istrinya Harapan baru menghampiri Arman ketika tahu Murni menunjukkan tanda-tanda kehamilannya. Dengan sabar Arman memenuhi kebutuhan istrinya, walau tanpa di minta sekali pun. “Mas jangan capek-capek, waktu istirahat ya istirahat”, tegur Murni pada suaminya. “Loh apa gak kebalik? Seharusnya aku yang ngomong gitu”, jawab Arman protes. Murni hanya tersenyum sendiri dengan pola tingkah suaminya. Dengan ke hati-hatian ekstra, Murni menjaga kandungannya. Buah cintanya dengan suami tercinta. Di luar dugaan, harapan besar sepasang suami istri ini pun harus pupus. Kandungan Murni ternyata tidak berkembang. Setelah lama dalam penantian. “Ahamdulillah, lahir juga anaku”, bisik Arman. Dengan tersenyum bangga Arman memandang mulut mungil itu yang menangis. Namun kekecewaan kembali menghampirinya, ketika di pagi hari mendapati tubuh mungil itu kaku tak bergerak. Sekali lagi Arman harus rela melepaskan anaknya pergi selama-lamanya. Trauma akan kebahagiaan yang hilang masih memenuhi isi dadanya. Beberapa kali kehilangan buah hati dan musnahnya janin di rahim istrinya masih kuat dalam ingatannya. Arman hanya mengerutkan alisnya, ketika istrinya kembali melahirkan bayi laki-laki. Bayi laki-lakiku mengapa tidak bersuara keras dan menggelegar?, batin Arman. Ditambah lagi berat badan dan panjangnya kurang dari normal. Kenyataan ini membuat Arman semakin pasrah dengan cobaan yang ia alami. Dengan sedikit melihat buah hatinya yang cukup memprihatinkan, Arman hanya mampu berbuat sedikit untuk menghibur istrinya. “Bagaimana anak kita? Baik-baik saja?” hanya itu yang mampu Arman lakukan. Kehadiran bayi atau tidak hampir tak ada bedanya, itulah yang di pikirkan Arman. Bayi laki-lakinya yang sedikit menangis membuat hatinya terasa teriris. Keinginan Arman berlatih silat dengan buah hatinya seolah jauh dari kenyataan. Bayiku memprihatinkan, itulah yang selalu bergelayut di benak Arman. Untuk menggedong atau menyentuhnya lebih dekat tak berani Arman lakukan. Kegundahan ini tentu hanya di simpannya sendiri, karena dia tidak mau Murni kecewa dengan apa yang di bayangkannya. Putra, itulah panggilan sang putra. Sesuai impiannya yang ingin menunjukkan bahwa ia telah punya putra. Menurut Arman nama “Putra” identik sebagai anak raja dengan kepanjangan “Putra Mahkota”. Arman membayangkan bahwa Putra akan menjadi sosok yang gagah dan tinggi besar. Cakap dan tak terkalahkan, sebagaimana Arman memandang dirinya sendiri. Itulah sosok seorang anak yang dari dulu ia idamkan. Namun harapan tinggal harapan. Kenyataan yang di hadapi ternyata jauh dari impian. Walaupun sedari lahir kondisi putranya memprihatinkan, namun harapannya tak pernah pupus. Harapan tentang keajaiban yang terjadi pada putranya selalu Arman pupuk dengan kesabaran. Hingga akhirnya Armanpun harus menerima kenyataan. Bagaimanapun kondisi Putra, Arman harus belajar ihklas dan bersyukur. Pasti ada rahasia di balik semua ini. Arman yang pernah merasa sombong karena kekuatannya, keahliannya bela diri dan menjadi jagoan kampung. Kini ia harus merunduk sudah waktunya untuk tunduk. Kesombongannya selama ini sudah tak berarti. Arman harus sadar dengan kekurangan yang ia alami. Ternyata sabar lebih membanggakan dari pada sombong, itulah yang ia rasakan kini. Dengan kesabaran kita tidak perlu pusing menunjukkan kemunafikan. Sabar jauh lebih terhormat karena menjadi lebih banyak tersenyum. Hari berganti hari, bulan berganti bulan hingga berganti tahun. Ternyata apa yang di kuatirkan Arman tidak terbukti. Kini Arman sadar bahwa yang Kuasa tidak lagi mengujinya, melainkan memberinya sebuah anugrah. Anugrah terindah dalam hidupnya dengan hadirnya buah cinta yang mengisi hari-harinya. Kegundahan Arman kini telah berbalik 180 derajat karena buah hatinya tumbuh kian membanggakan. Nama Putra dulu sempat ia sanksikan menjadi putra kebanggaan, kini kekawatirannya tidak terbukti. Arman sangat bersyukur karena putranya adalah anak yang patuh dan menjadi penghibur hidupnya. Tidak peduli bila ada yang membandingkan putra kesayangannya dengan anak-anak yang lain. Putranyalah yang terbaik, sangat sehat, cakap, pintar dan yang utama patuh. Putranya sangat tahu bagaimana membahagiakan dirinya. Putranya yang jarang menangis sedari bayi, menunjukkan bahwa dia anak yang baik dan tidak ingin menyusahkan orang tuanya. Kini Arman sadar “Allah lebih tahu apa yang terbaik untuk hambanya”

Penantian Menjelang Fajar

Penantian Menjelang Fajar Rembulan segera berlalu dari pandangan namun kesunyian tak juga aku dapatkan. Aku masih setia menerima pesan dari gelombang radio kesayanganku. Setiap menjelang fajar aktifitasku adalah berbagi pesan kepada rekan-rekanku dimanapun mereka berada. Suara radio ini sungguh mengobarkan semangatku untuk menuju kehidupan yang lebih baik. Kehidupan yang penuh suka cita, bebas dari tekanan, tak ada caruk maruk orang asing dan yang pasti mewujudkan kedaulatan untuk bangsaku tercinta. Selalu terngiang di telingaku kalimat pengobar semangatku tentang perjuangan yang menuntuk keberanian hingga hingga kepercayaan diri untuk mewujutkan bangsa yang merdeka. Dialah sang Bima, seorang idola nun jauh di sana, tanpa bertatap muka namun mampu menyihirku untuk bangun dan sadar. Sang Bima dengan suaranya yang merdu namun bergelora, tak pernah bosan aku menunggunya dan selalu menunggu. Hanya Bima yang aku tunggu, bila suara lain terdengar dari radio kesayanganku maka pilu hatiku. Aku yang jauh menjangkau Bima hanya bisa berharap dan berdoa semoga beliau selalu dalam lindungan Allah SWT. Fajar menghiasi langit dengan warnanya yang merah, semerah semagatku menerima petunjuk dari Bima. Hidup dengan kekangan orang asing yang di sebut panjajah adalah keliru. Merebut kembali kedaulatan, harkat dan martabat adalah jalan yang harus dilalui. Karena Bima aku paham akan hak hidup yang beradab bukan kekangan dan kemiskinan yang menerpa. Suara itu tak terdengar hari ini, isu menyapaikan bahwa beliau kembali di tangkap oleh Koloni. Entah penangkapan keberapa kali untuk hari ini. Suara adzan berkumandang, sejenak menghentikan gemuruh di dadaku. Tanpa kusadari istriku berdiri dibelakangku dan mungkin memperhatikan gerak gerikku. “ada apa mas?” suara itu membuatku menoleh ke belakang. Aku tahu pertanyaan itu tidak butuh jawaban, karena suasana seperti ini sangat sering dia lihat. Kadang-kadang aku teriak kegirangan, kadang-kadang aku menangis bahkan aku pergi tanpa pamit. Istriku yang muda beliau seolah memahami situasi yang sedang kualami. Dan kali ini adalah salah satu momen keseharianku sebagai prajurit rakyat yang selalu siap dalam situasi apapun. Namaku Siswo Suharto, belum lama aku menyunting Hesti Aisyah salah seorang putri demang untuk menjadi istriku. Gadis muda belia dari keluarga terhomat menerima pinanganku tanpa syarat. Kehidupan sederhana dan jauh dari keluarga besarnya adalah pengorbanan terbesarnya untukku. Belum lagi kegiatanku selama bergabung dengan tentara rakyat, kadang aku terluka, kadang aku pulang larut hingga pagi bahkan tak pulang tanpa pesan. Hesti selalu mendukungku dan sangat memahami perjuanganku. Kini aku harus menyampaikan hal tersulit, “mas harus pergi dek”. Hampir tak terdengar suara dari bibirku, belum sebulan aku menikahinya, banyak sekali pengorbanannya untukku. Kini aku pamit untuk waktu yang tak dapat di tentukan, tak terasa tetesan hangat mengalir di pipiku. Tak mampu kupandangi wajah itu, hingga aku menyesal apa benar ini pilihanku? Ku tatap lagi wajah istriku, aku tak boleh takut bermimpi, “Mengusir penjajahan dari rumah sendiri adalah harga mati”. Setelah shalat Subuh, kami kembali larut dalam diskusi. Saya sebagai salah seorang pemuda di garis pejuang masih harus banyak belajar dengan alur perjuangan. Para senior pengatur strategi telah menunjukku untuk maju dan bergabung dengan pasukan inti dari beberapa kota. Sebuah tugas kehormatan untukku mendapat amanat ini. Apalagi misi ini sungguh luar biasa yaitu bergabung dengan Bima di tempat pengasingannya. Teh manis dengan singkong rebus menjadi teman yang ideal saat aku berdua dengan istriku. Perbincangan kami sudah mencair dan aku sudah siap merayu istriku agar mengijinkanku pergi. Namun berbeda dengan istriku, walau aku belum menjelaskan tujuan kepergianku ternyata dia curiga dengan penjelasanku selanjutnya. “lama ya mas? Mau kemana?” tanyanya lagi. Ternyata dia punya firasat tentang kepergianku, kalau aku pergi tidak jauh-jauh biasanya jarang pamit. Apa lagi sehabis mendengar radio tadi pagi, aku sudah tersulut emosi hingga menangis. Dengan menghabiskan sisa singkong di jemariku, aku mencoba tersenyum menenangkannya. “Mas, selama ini kenapa tidak pernah mengajakku berjuang, kulihat ada prajurit wanita”, kata-kata istriku hampir membuatku terperanjat. Mana mungkin aku mengajaknya memikul senjata, berlari ke parit, melihatnya berdebu pun aku tak rela. Seperti janjiku kepada romo (panggilan bapak mertuaku) aku meminangnya sebagai istriku bukan rekan perjuanganku. “Kau juga sudah berjuang dek, dengan mendukungku dan menjadi tempatku melepaskan keluh kesah seperti saat ini”, hiburku kepadanya. “Baiklah sekarang jawab saja, mas mau kemana dan berapa lama?”, sambil tersenyum pahit aku coba merangkai kata-kata. “Mas mendapat tugas bergabung dengan pasukan inti dari beberapa kota”, jawabku sambil memperhatikan reaksinya. “Bergabung dimana mas? Kenapa gak di teruskan?”, walau berat aku memang harus pamit karena waktunya tak dapat di tentukan, apakah bisa pulang atau pulang tinggal nama, inilah resiko. “Menuju tempat pengasingan pak Bima, lokasinya masih di sembunyikan”. Dan mas juga tidak tahu berapa lama tugas ini”, ku tatap lagi wajah itu, bisa jadi ini terakhir kali aku dapat memandanginya. “Kalau begitu aku ikut”, celetu istriku dengan tenang dan tersenyum manis, manis sekali. Parjo menjemputku untuk berkumpul di maskas, tanpa menjawab permohonan istriku, aku segera beranjak sambil bersalaman dulu dengan istriku. “Ayo Sis, segera!”, suara parjo lirih. Sesampai di markas, ada sepuluh orang sudah berkumpul termasuk mas Budi salah satu senior kami. Dengan cermat aku memperhatikan instruksi dari mas Budi tentang persiapan pemberangkatan dan strategi yang di gunakan. Tidak seperti biasa, kepalaku menjadi pening seketika. “Sis, ada pertanyaan?”, pertanyaan itu mengagetkan aku. Beberapa teman tersenyum dan tertawa melihatku sedikit melamun, “maklumlah pak, pengantin baru harus berpisah untuk tugas”, salah seorang menggodaku. Aku hanya tersenyum malu dengan candaan mereka. “Tidak apa-apa Sis, sampaikan saja yang ingin kau katakan”, mas Budi memang sangat bijaksana, senang sekali aku berdiskusi dengannya. Menjalankan tugas perjuangan memang harus iklas, itu kunci sukses yang mutlak. Bila aku berangkat dengan setengah hati, maka akan berakibat fatal, bukan hanya untuk ku namun semua akan terkena dampak dan ini sangat berbahaya. Dengan perasaan malu yang tak terkira, aku harus menyampaikan apa yang menjadi keresahanku. “Saya sangat senang dengan tugas ini mas, namun istri saya mau ikut”, seketika kerongkonganku kering. Suasana semakin riuh dengan tawa teman-temanku , aku hanya bisa pasrah dengan keputusan mas Budi, apakah aku masih di beri tugas ini atau tidak. Seperti biasa mas Budi langsung meredakan situasi, dan dengan bijak beliaupun bertanya. “Istrimu sedang hamil?” tanya mas Budi. “Tidak mas”, jawabku singkat. “Kalau kau mau, kau boleh mengajak istrimu”, jawaban mas Budi membuatku kaget begitu juga teman-teman yang mengikut rapat. Sesampai di rumah, kulihat wajah istriku tak semanis biasa, dengan penuh harap dia mengajakku duduk di hadapannya. “Mas ayo jawab, aku mau ikut, kemanapun mas Sis pergi aku gak mau ditinggal sendiri”, seperti berondong petasan yang bertubi-tubi, dia terus meminta kepadaku. Dengan sedikit geli, aku memperhatikan perubahan sikap dari istriku, dimana istriku yang selama ini selalu tersenyum manis ketika aku pulang. Kulihat ada butiran bening di pelipisnya, tak kuasa aku melihatnya.”Adek, bukannya mas gak mau kau ikut, tapi..”, seketika di menatapku penuh harap. “Apakah romo dan ibu mengijinkan?”, dengan mengusap air mata Hesti mulai tersenyum “ya kita coba saja mas, aku lebih baik pergi dengan mas Sis, hidup mati kita bersama. Dari pada aku harus mati kesepian ditinggal sendiri di sini”. Jawab istriku penuh harap. “Baiklah kita segera pamit kepada romo dan ibu, karena masih banyak yang harus di persiapkan”. Seperti dugaanku, sontak romo menjadi marah dengan keputusan putri kesayangannya. “romo menikahkanmu bukan untuk jadi pembangkang nduk, mengapa kamu tidak menunggu suamimu saja, kalo kau gak mau di tinggal sendiri, kau bisa tinggal disini lagi seperti dulu”. Dengan sedikit merujuk, Hesti terus memohon ijin dari romo dan ibunya. “Hesti, perjalanan ini sangat berbahaya, sesekali pasti terlibat kontak senjata dengan Belanda, apa kamu pernah melakukan latihan perang?, coba toh dipikirkan dulu jangan tergesa-gesa mengambil keputusan”. Ibu turut mencegah kepergian Hesti. Aku sendiri tidak bisa banyak bicara karena merasa bersalah juga dengan situasi ini. Untungnya romo dan ibu cukup bijak tidak langsung memaki aku yang dianggap memprofokasi putrinya. Setelah kehabisan kata, nada romo mulai mereda, dengan memandang ke arahku, beliau pasrah dengan keputusan putrinya. “Sis, Hesti memang sudah menjadi tanggung jawabmu karena kau suaminya”, romo mengawali pembicaraan lagi. “Keputusan kalian untuk turun ke medan perang adalah hak kalian. Mungkin ini sudah menjadi garis hidup kalian”. Tak kuasa aku menahan haru, dengan bersimpuh dan sungkem kepada mertuaku, aku berjanji akan selalu menjaga putri hingga tetes darah terakhirku. Dua malam berikutnya tanpa menanti fajar kamipun bergerak kearah selatan.

Kamis, 11 Juni 2020

Resume belajar menulis bersama guru Agung

Resume Belajar Menulis (Rabu, 10 Juni 2020) Lely Andayati (Gelombang 6) Saya sangat bangga terhadap guru-guru muda dan hebat yang ihklas mengabdikan dirinya di pelosok kampung, di hutan, di gunung bahkan di kepulauan. Bisa dibayangkan betapa berat perjuangan mereka yang terpisah jauh dari keluarga. Di tengah keterbatasan kondisi geografis dan budaya, guru-guru muda ini mampu beraktifitas menulis dan berkarya. Keterbatasan fasilitas listrik, jaringan internet hingga ATK dan bahan pembelajaran tak membuat semangat mereka surut. Guru-guru ini telah membuktikan bahwa cinta membuat segalanya jadi mungkin. Bahkan ada seorang guru muda yang meninggal dalam tugas di penempatan. Akhirnya nama beliau diabadikan menjadi nama sebuah penghargaan bagi guru-guru terbaik SGI (Sekolah Guru Indonesia) “Jamilah Sampara Award”. Terima kasih kepada guru Agung Pardini atas ilmu dan inspirasinya. Kecintaan Guru Agung Pardini terhadap kisah-kisah kepahlawan mengantarkannya menjadi guru sejarah dan IPS sejak tahun 2001. Saat pertama kali mengajar, guru yang bernama asli Agung Pardini ini masih menempuh S1 Pendidikan Sejarah dengan tambahan program minor Antropologi di Universitas Negeri Jakarta (UNJ). Dalam waktu delapan tahun (2001-2008), setidaknya pernah mendapat kesempatan mengajar pada belasan institusi yang berbeda, mulai dari sekolah formal (SMP dan SMA), Bimbingan Belajar, Program Pengayaan Ujian, hingga Pembelajaran Paket Non-Formal atau PKBM. Sejak tahun 2008 hingga sekarang ini, Guru Agung aktif di lembaga kemanusiaan Dompet Dhuafa untuk menjalankan amanah pengelolaan dana zakat, infaq, dan shodaqoh agar disalurkan menjadi program-program pemberdayaan di bidang pendidikan bagi kemajuan ummat. Mula-mula ia bertugas sebagai trainer pendidikan untuk melatih ribuan guru yang mengabdi di sekolah-sekolah marjinal di berbagai wilayah Indonesia. Selain melatih para guru, bersama rekan-rekan satu timnya di Dompet Dhuafa, Guru Agung di beri beragam amanah untuk merancang dan mengelola program-program inovatif di bidang pendidikan yang berhasil menjangkau hingga 34 provinsi. Program-program tersebut antara lain: 1. Pendampingan Sekolah dan Pengembangan Guru di Kecamatan Ciracap, Kabupaten Sukabumi (Donatur: JICA), 2008-2010 2. Pendampingan Sekolah Berdaya di Sumatera Barat Pasca Gempa Bumi besar, 2010-2012 3. Pelatihan Guru Cerdas Literasi (Donatur: Hypermart), 2010 4. Pelatihan Guru Cerdas Literasi (Donatur: Majelis Taklim Telkomsel), 2009 5. Pengembangan Sekolah Cerdas Literasi (Donatur: Trakindo), 2010-2013 6. Pendampingan SMK Unggulan Bidang Alat Berat (Donatur: Trakindo), 2013 7. Pendampingan Sekolah-Sekolah di Perbatasan Indonesia: 2012-2013 8. Pengiriman Guru-Guru SGI (Sekolah Guru Indonesia) ke berbagai wilayah pelosok atau 3T, 2014-2015 9. Membentuk School of Master Teacher di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Jawa, dan NTB, 2014-2020 10.Mengembangkan alat ukur performa Sekolah yang disebut MPC, 2012-2013 11.Mengadakan diklat kepala sekolah: Milenial Leader, 2019 12.Membangun kerjasama penyelenggaraan kelas Magister Manajemen Pendidikan Islam bersama UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2016-2018 13.Mengembangkan model Sepuluh Kepemimpian Guru Indonesia dan Gerakan Transformasi Kelas Ajar, 2018-2020 hingga 30 provinsi Hingga saat ini masih bekerja MENULIS ARTIKEL 1. Sekolah Berbasis Masyarakat Jurnal Bogor, 17 Oktober 2009 Opini 2. Mengajar Siswa Gemar Membaca Radar Bogor, 8 Maret 2010 Opini 3. Pendidikan dalam Alienasi Birokrasi Koran Tempo, 16 Mei 2013 Opini - Advertorial 4. Transformasi Kelas Ajar, Opini Republika, Januari 2020 MENULIS BUKU 1. Menabung Gula untuk Pendidikan (Saving Palm Sugars for The Education) MM–JICA, 2010 Bersama tim Masyarakat Mandiri 2. Penyulut Jiwa di Kampung Hatta Makmal DD, 2012 Bersama Surya Hanafi, dkk 3. Bangunlah Jiwanya, Bangunlah Raganya Makmal DD, 2012 Bersama Purwo Udiutomo 4 Sekolah Ramah Hijau Makmal DD, 2013 Bersama Zayd Sayfullah, dkk 5 Besar Janji daripada Bukti Makmal DD, 2013 Bersama tim 6 Bagaimana ini Bagaimana itu Makmal DD, 2014 Bersama tim Makmal PEMBICARA/NARASUMBER (Non-Training) 1. Konferensi Nasional Sejarah VIII, dengan membawakan makalah yang berjudul “Media Islam Revivalis” Jakarta, 2006 800 orang Kembudpar dan MSI 2. Seminar Pendidikan : Gelipa untuk Pendidikan Sukabumi, 2 Februari 2010 100 orang MM – JICA 3. Lokakarya Daerah Gerakan Rakyat KAMMI Bogor Bogor, Maret 2010, 30 orang KAMMI IPB 4. Seminar: Menjadi Remaja Muslim Trendsetter Sentul, 22 Agustus 2010 150 orang 5. Talkshow: Seni dalam Sejarah Islam Bogor, Agustus 2012 200 orang (siswa) Sekolah Bosowa Bina Insani Bogor 6. Simposium Pendidikan Nasional Depok, 30 Oktober 2013 200 orang Makmal Pendidikan DD 7. Seminar Pendidikan dan Museum Jakarta, November 2015 150 orang Museum se-DKI Jakarta 8. Studium General School Master Teacher Makassar, Mataram, Padang, dan Medan, 2015 Sekolah Guru Indonesia DD 9. SeminarNasional Ikatan Mahasiswa Kependidikan Seluruh Indonesia Semarang, 2016 500 orang IMAKIPSI 10.Seminar Pendidikan Ikatan Mahasiswa Kependidikan Seluruh Indonesia Tingkat Sumatera Palembang, 2016 300 orang IMAKIPSI 11.Seminar Nasional Pendidikan Klaten, 2016 200 orang Universitas Widya Klaten 12.Seminar dan Workshop Keguruan Bogor, 2017 200 orang UIKA Bogor 13.Social Leader Training Tingkat Nasional Bogor 2018 100 orang Sekolah Kepemimpinan bangsa 14.Future Leader Camp 2019 15.Young Leader Camp 2019 di Bandung, Bogor, dan Lubuk Linggau 16.Young Leader Regional Camp di Solo 2019 17.Muktamar Young Leader di Semarang 2020 18.Sociopreneur Camp 2019 di Yogya 19.Studium Generale Sekolah Pasca Sarjana UNY, 2020 20.Studium Generale UNNES 2020 21.Studium Generale PGSD UNNES Tegal 2020 22.Seminar Pendidikan di UNPAS Bandung, 2020 PEMATERI PELATIHAN GURU (Public Training) 1. Publik Training (Hari Guru), Tema: Kondisi Guru Indonesia Bogor, 25 November 2008 2. Publik Training (Hari Guru), Tema: Guru Bergerak Depok, 25 November 2009 3. Publik Training (Hari Guru), Tema: Pembelajaran Efektif Jakarta, 25 November 2012 4. Publik Training (One Trainer Interactive Show), Tema: Inspirasi Guru untuk Bangsa Aula Kantor Gubernur NTB, 1 Agustus 2010 5. Publik Training dalam rangka Launching buku “Besar Janji daripada Bukti”, Tema: Guru Kreatif Maros dan Garut, November – Desember 2013 6. Publik Training, Guru Kreatif di Serang Banten, 2014 7. Publik Training, Guru Kreatif di Lhokseuwe Aceh, 2014 8. Pelatihan Guru Pertamina di Cirebon, 2019 9. Indonesia Teacher Leader Camp 2020 di Sulawesi Selatan Guru Agung Pardini sangat percaya bahwa menulis buat para guru adalah lompatan dan percepatan peningkatan kapasitas, kompetensi, dan rasa percaya diri. Menurut Guru Agung Pardini menulis ini melatih ketajaman pikiran dan memperhalus budi pekerti. Maka menulislah, maka engkau "ada". Cobalah menulis dengan apa yang sering kita pikirkan, kita lakukan, dan yang sering kita katakan. Buat mencari ide, butuh teman diskusi, butuh temen nongkrong setia, butuh komunitas. Merangkai kata dalam bentuk tulisan bukan pekerjaan mudah maka kita mesti bersabar. Kalau mau lancer menulis harus banyak membaca dulu. Berdasarkan pengalaman beliau bekerja di lembaga kemanusiaan Dompet Dhuafa. Beliau mengajak guru-guru mengabdi di daerah-daerah pelosok dan menulis atau berkarya. Setiap malam mereka harus menulis pengalaman mereka selama siang hari. Modelnya bisa macam-macam. Ada yang curhat, sampai ada yang membahas suatu teori kependidikan dan kepemimpinan. Setelah pagi tiba, sebelum beraktivitas dalam pembinaan, semua jurnal tadi dikumpulkan untuk diapresiasi dan ditanggapi. Melalui jurnal ini, kita pun para pengelola dan dosen jadi tahu tentang perasaan dan pikiran yang tengah bergejolak di hati mereka. Jika ada perasaan hati yang negatif, kita bisa langsung coaching atau konseling. Ada yang rindu keluarga, ada yang sakit hati dan macam-macam ceritanya. Kebiasaan menulis jurnal harian ini membuat guru jadi terlatih buat menulis. Namun ini tentu tidaklah cukup, harus ada upaya lain, yakni banyak-banyak membaca. Kalau gak banyak baca, ya gak bakal banyak menulis. Ini melatih kepekaan literasi mereka. Makanya kita adakan bedah buku rutin ada yang harian atau mingguan. Setiap pagi guru di SGI mengadakan apel, yang bertugas sebagai pembinanya bergantian. Pemimpin apel bertugas memberi kajian bedah buku. Setelah apel, untuk memantau kemajuan bacaan para guru, biasanya ada aktivitas "Semangat Pagi". Yakni memberi motivasi secara bergantian, dengan menggunakan kata-kata yang dinukil dari para tokoh. Ini efektif juga buat meningkatkan kepekaan literasi buat para guru. Saat ini buku-buku kami sudah habis versi cetaknya. Makanya kami ubah ke versi pdf atau e-book. Buku-buku ini sudah tersedia online dan lebih mudah diakses. Linknya : EduAction e-Book Dompet Dhuafa Pendidikan 2020. Sahabat Pendidikan, yuk tambah pengetahuan dengan mengunduh materi-materi terbaru dari para pegiat pendidikan Indonesia. Ada pembahasan menarik tentang kepemimpinan, parenting, sampai bagaimana langkah kita menghadapi Covid-19 yang ditulis oleh Ust. Harry Santosa, Sri Nurhidayah, Ivan Ahda, Asep Sapa'at, dan Guru Agung Pardini. Selain itu, Sahabat Pendidikan juga akan mendapatkan bonus Guide Book Ramadan Sekolah Guru Indonesia. Sila unduh dan donasi di :⁣http://etahfizh.org/ebook.⁣ Alhamdulillah, hari ini satu persatu daerah-daerah yang kami sambangi sudah ada jaringan internet dan listrik, jadi semakin mudah buat kami buat koordinasi. Kami juga mengajak Sahabat Pendidikan berbagi kebahagiaan dengan siswa yatim dan marjinal dengan berdonasi baju lebaran untuk mereka melalui tautan http://etahfizh.org/campaigns/baju-lebaran/⁣⁣

Sabtu, 02 Mei 2020

Kepala Dinas

Hubungan pak Nyoman dengan adik-adiknya di Bali masih harmonis, walaupun menurut hukum adat di Bali bapak sudah dianggap sebagai orang durhaka karena telah pindah agama. Namun menurut adik-adiknya, bapak masih menjadi panutan sampai sekarang. Sepupu dan keponakan bapak dari Bali juga sering berkunjung ke Probolinggo. Tegur sapa dengan saudara di Bali lewat telepon juga sangat di senangi bapak. Setiap even ke agamaan mereka selalu mengucapkan selamat, saya sungguh terharu melihatnya. Sebagai menantu yang belum banyak mengenal agama Hindu, sesekali saya memberi mengucapkan selamat kepada sepupu suami yang ada di Bali, ‘Om Swastiastu.. rahajeng Nyepi Mbok..’, tulisku di media online. Kata Mbok berarti saudara perempuan, Om Swastiastu adalah ucapan salam yang umum digunakan, Nyepi adalah hari raya Nyepi dan rahajeng artinya selamat. Meme Teki walaupun seorang ibu tiri sangat bangga dengan pak Nyoman dan selalu dia ceritakan kepada cucunya perihal bapak waktu kecil hingga dewasa. Kepergian pak Nyoman untuk merantau dan sekarang menjadi orang yang di hormati sangat membanggakan bape dan memenya. Bape Wayan sangat bangga dengan anak sulungnya ini, hingga ia memilih menghabiskan hari tuanya dengan pak Nyoman di Probolinggo. Dan takdir Illahi menentukan, bahwa bape Wayan tutup usia di Probolinggo sebagai mualaf. Kepergian bape Wayan menghadap Illahi banyak mengundang simpati berbagai kalangan. Hampir semua guru-guru di wilayah Probolinggo sudah pasti mengenal pak Nyoman, namun berita meninggalnya bape Wayan hampir tidak terpikirkan hingga mengundang ratusan pelayat. Pejiarah dari beberapa instansi berdatangan dengan menyumbang karangan bunga dan mereka beriringan menghatarkan bape Wayan keperistirahatan terakhir beliau. Untuk mencari kediaman pak Nyoman tidaklah sulit, karena dulu jalan Cokroaminoto merupakan daerah pengembangan tata kota yang tediri dari tanah kapling. Karena sedikitnya jumlah rumah waktu itu, seolah kediaman pak Nyoman bisa dilihat dari jarak 1000 m. Pada jaman dulu kediaman pak Nyoman memang paling besar di jalan Cokroaminoto sehingga pantas bila di sebut sebagai rumah kepala dinas. Bila ada yang bertanya letak rumah pak Nyoman, orang-orang selalu bilang ‘pak Nyoman kepala dinas, rumahnya di jalan cokro’ dan kebanyakan tidak meleset. Kediaman pak Nyoman di jalan Cokro yang tampak megah waktu dulu, membuat banyak orang berpikir besarnya penghasilan pak Nyoman karena yang mereka tahu kedudukan beliau adalah kepala dinas. ‘Seorang kepala dinas harus memperlihatkan teladannya dengan memberi tiang bendera permanen tepat di tengah halaman rumahnya’, begitu mereka bergumam. Jaman dulu ketika sedikit rumah, tiang bendera di halaman rumah merupakan salah satu tanda rumah bapak, hehe. Begitu memasuki rumah agak dalam akan tampak Foto presiden dan wakil presiden yang terbingkai rapi dengan mengapit lambang negera Garuda Pancasila. Memberi lambang Negara dan foto Prosiden di rumah merupakan kewajiban bagi bapak, saya sendiri tidak pernah bertanya mengapa masih beliau pajang walau sekarang sudah pensiun. Ketika pergantian wajah presiden atau wakilnya, bapak tidak mau menunggu lama meminta foto terbaru untuk mengisi pigora sakralnya. Hihi. Maaf ya pak, bukan bermaksud menertawakan bapak, yang saya tahu cuma kantor dan instansi pemerintah saja wajib memasang lambang Negara, up.. ampun deh saya memang kurang sensitive padahal saya kan juga aparatur Negara, maaf ya bapak Presiden.