Sabtu, 02 Mei 2020
Kepala Dinas
Hubungan pak Nyoman dengan adik-adiknya di Bali masih harmonis, walaupun menurut hukum adat di Bali bapak sudah dianggap sebagai orang durhaka karena telah pindah agama. Namun menurut adik-adiknya, bapak masih menjadi panutan sampai sekarang. Sepupu dan keponakan bapak dari Bali juga sering berkunjung ke Probolinggo. Tegur sapa dengan saudara di Bali lewat telepon juga sangat di senangi bapak. Setiap even ke agamaan mereka selalu mengucapkan selamat, saya sungguh terharu melihatnya. Sebagai menantu yang belum banyak mengenal agama Hindu, sesekali saya memberi mengucapkan selamat kepada sepupu suami yang ada di Bali, ‘Om Swastiastu.. rahajeng Nyepi Mbok..’, tulisku di media online. Kata Mbok berarti saudara perempuan, Om Swastiastu adalah ucapan salam yang umum digunakan, Nyepi adalah hari raya Nyepi dan rahajeng artinya selamat.
Meme Teki walaupun seorang ibu tiri sangat bangga dengan pak Nyoman dan selalu dia ceritakan kepada cucunya perihal bapak waktu kecil hingga dewasa. Kepergian pak Nyoman untuk merantau dan sekarang menjadi orang yang di hormati sangat membanggakan bape dan memenya. Bape Wayan sangat bangga dengan anak sulungnya ini, hingga ia memilih menghabiskan hari tuanya dengan pak Nyoman di Probolinggo. Dan takdir Illahi menentukan, bahwa bape Wayan tutup usia di Probolinggo sebagai mualaf.
Kepergian bape Wayan menghadap Illahi banyak mengundang simpati berbagai kalangan. Hampir semua guru-guru di wilayah Probolinggo sudah pasti mengenal pak Nyoman, namun berita meninggalnya bape Wayan hampir tidak terpikirkan hingga mengundang ratusan pelayat. Pejiarah dari beberapa instansi berdatangan dengan menyumbang karangan bunga dan mereka beriringan menghatarkan bape Wayan keperistirahatan terakhir beliau.
Untuk mencari kediaman pak Nyoman tidaklah sulit, karena dulu jalan Cokroaminoto merupakan daerah pengembangan tata kota yang tediri dari tanah kapling. Karena sedikitnya jumlah rumah waktu itu, seolah kediaman pak Nyoman bisa dilihat dari jarak 1000 m. Pada jaman dulu kediaman pak Nyoman memang paling besar di jalan Cokroaminoto sehingga pantas bila di sebut sebagai rumah kepala dinas. Bila ada yang bertanya letak rumah pak Nyoman, orang-orang selalu bilang ‘pak Nyoman kepala dinas, rumahnya di jalan cokro’ dan kebanyakan tidak meleset.
Kediaman pak Nyoman di jalan Cokro yang tampak megah waktu dulu, membuat banyak orang berpikir besarnya penghasilan pak Nyoman karena yang mereka tahu kedudukan beliau adalah kepala dinas. ‘Seorang kepala dinas harus memperlihatkan teladannya dengan memberi tiang bendera permanen tepat di tengah halaman rumahnya’, begitu mereka bergumam. Jaman dulu ketika sedikit rumah, tiang bendera di halaman rumah merupakan salah satu tanda rumah bapak, hehe. Begitu memasuki rumah agak dalam akan tampak Foto presiden dan wakil presiden yang terbingkai rapi dengan mengapit lambang negera Garuda Pancasila. Memberi lambang Negara dan foto Prosiden di rumah merupakan kewajiban bagi bapak, saya sendiri tidak pernah bertanya mengapa masih beliau pajang walau sekarang sudah pensiun. Ketika pergantian wajah presiden atau wakilnya, bapak tidak mau menunggu lama meminta foto terbaru untuk mengisi pigora sakralnya. Hihi. Maaf ya pak, bukan bermaksud menertawakan bapak, yang saya tahu cuma kantor dan instansi pemerintah saja wajib memasang lambang Negara, up.. ampun deh saya memang kurang sensitive padahal saya kan juga aparatur Negara, maaf ya bapak Presiden.
Langganan:
Komentar (Atom)